Noktah Merah di Cangkir Kopi

Minggu, 15 Februari 2026 - 21:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Ilustrasi: Reva Adhitama)

(Ilustrasi: Reva Adhitama)

Karya: Dyah Ruwiyati

CERAKEN.ID — Semua yang tertangkap oleh netraku tampak berputar mengitari kepalaku, membuat ususku teraduk seperti ingin meloncat keluar lewat kerongkongan. Dengan sisa tenaga yang ada, kuperosotkan tubuh di atas lantai dingin yang menyebarkan aroma debu yang lembab. Membuatku terbatuk karena seperti ada debu-debu tajam yang menggelitik tenggorokanku.

Mencoba menenangkan diri, kuembuskan gas karbondioksida yang seperti berlomba keluar dari rongga bronchia. Ajaib, rasa pening yang tadi terasa begitu dahsyat seolah akan mencerabut nyawaku mendadak hilang. Perlahan kucoba mengedarkan seluruh pandanganku.

Lewat pendar sinar rembulan, aku mencoba untuk mengembalikan memoriku yang sempat stuck tanpa bisa mengingat apapun. Mensinkronkan kembali saraf otak dan netraku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tampak beberapa ekor tikus curut melenggang melipir di sepanjang sudut antara tembok dan lantai, rumah tanpa listrik ini. Bahkan sesekali ada satu dua yang melintas begitu dekat, tanpa perduli atau bahkan seakan tidak menyadari keberadaanku.

Suara derik pintu masuk yang daunnya hampir rubuh karena lapuk tampak bergoyang tertiup angin, berpadu dengan suara jangkrik dikejauhan. Menciptakan siluet dedaunan dari pohon  yang ada di halaman tanpa gerbang dan tembok pembatas, seolah jemari kurus dengan kuku mencengkeram merambat mendekati sepasang kaki lunglaiku.

Setelah beberapa lama pandanganku mulai bisa semakin beradaptasi dengan keadaan sekelilingku. Ternyata meja tua berukuran 100 sentimeter kali 50 sentimeter di atasnya masih tersaji dua cangkir kopi tanpa tatakan yang hanya menyisakan ampas di sepertiga isinya.

Barulah ingatanku memutar kembali peristiwa seminggu yang lalu, di rumah tanpa penghuni dan tak terurus. Yang letaknya di perbatasan desa dekat  hutan jati ini.

Tanpa catatan tertulis, dimana aku dan Gobang, sahabat dan sepermainan sedari kecil. Berdua mendeklarasikan tempat ini sebagai markas kami berdua. Tidak ada yang mengetahui kecuali kami berdua.

Kenangan itu saat ini seperti sedang melakukan pementasan kembali di hadapanku, karena begitu jelas tertangkap di depan sepasang netraku yang mulai terasa panas. Karena memaksanya untuk terus menatap dalam ruangan yang minim cahaya.

“Kita akan tetap menjalankan rencana kita, Jes?” tanya Gobang sambil menyeruput kopi panas tanpa gula. Aku tidak segera menjawab ketika itu.

Masih asyik memandang cangkir berisi kopi panas milikku. Yang airnya kami timba dari sumur belakang rumah yang tepat menghadap ke arah hutan jati. Membuat tungku dari 6 bata merah yang kami bentuk huruf U, dengan beberapa ranting kecil kering. Ada kaleng bekas biscuit yang jadi pancing penampung air.

Sempat membuat kami tergelak ketika itu. Sama-sama terkenang masa menjadi pramuka Siaga yang pertama kali berkemah dengan alat seadanya. Suatu masa yang penuh keceriaan, keseruan petualangan sederhana namun berkesan.

“Jes, bagaimana?” sentak Gobang. Membuat cangkir dalam genggaman tangan kananku hampir melompat.

“Lanjutkan, Bang!” ujarku tanpa ragu. Terbayang cecaran bu Katmin  menagih uang sewa kamar disertai ancaman harus keluar kalau tidak segera melunasi tunggakan dua bulan ini.

Belum lagi hutang di warung angkringan bang Kadim yang semakin hari lembaran catatan di notes kecilnya terus bertambah atas namaku.

Biasanya kalau sudah tak tahu lagi harus mencari hutangan kemana, dengan perut yang perih menahan lapar. Tempat ternyaman untuk menyembunyikan diri adalah di rumah ini.

Gobang biasanya punya indra perasa yang tajam, untuk selalu tahu kalau sahabat masa kecilnya itu pasti sedang meringkuk kelaparan dengan perut kosong. Entah darimana Gobang mendapatkannya. Dia datang terkadang membawa dua batang ubi mentah yang selanjutnya kami bakar di atas tungku yang biasa kami gunakan untuk memasak air.

Tidak jarang pula membawa setengah sisir pisang matang untuk kami santap berdua bersama kopi hitam yang tidak pernah abai Gobang menyetoknya menaruh di dalam kaleng bekas manisan jahe, yang digeletakkan begitu saja di lantai dekat pintu belakang yang mengarah ke hutan jati dan tungku kami..

Malam itu, adalah malam kelima kami mematangkan rencana untuk merampok mini market pinggiran kota yang berbatasan dengan gapura batas desa tempat tinggal kami.

Aku dan Gobang sama-sama anak yatim piatu, Gobang tak pernah tahu siapa emak bapaknya, sedangkan aku menurut cerita emak, bapak meninggal ketika aku masih tujuh bulan dalam kandungan. Emak menyusul ketika aku berumur sepuluh tahun. Sekolah Dasar inpres tempat kami menuntut ilmu mau menerima kami sampai tamat dan mndapat ijazah tanpa biaya sepeserpun.

Kami tidak bisa melanjutkan lagi ke sekolah lanjutan karena tidak ada biaya untuk membeli seragam dan buku-buku meskipun tanpa biaya spp. Sejak itu kami menjadi buruh serabutan, tumbuh tanpa bimbingan. Nyaris liar, meskipun terkadang ada juga tetangga yang jatuh iba, menawarkan pekerjaan kecil seperti mengangkat belanjaan mereka dari pasar ke bagasi mobil, mencabut rumput halaman rumah, mencuci mobil mereka.

Hasil yang tidak seberapa itu masih harus kami pilah-pilah untuk membayar sewa kamar dan kebutuhan makan sehari-hari. Meskipun lebih sering gali lubang tutup lubang yang kami alami.

Entah darimana datangnya tiba-tiba muncul begitu saja ide untuk merampok. Buat pemuda 17 an seperti kami berdua. Merampok adalah penyelesaian tercemerlang untuk melunasi semua hutang-hutang kami yang menumpuk.

Rencana berjalan lancar,tepat pukul 1 dini hari, tanpa ada penjaga keamanan, begitu juga pintu yang tanpa alarm dengan mudah kami membobolnya, suasana mini market yang sepi dan gelap. Semua sudah terekam dalam benak kami begitu juga posisi meja kasir. Itu yang jadi tujuan utama.

Aku dengan sigap meraup tumpukan-tumpukan uang kertas dalam hitungan sepersekian menit. Dari dalam laci yang anak kuncinya tergantung. Sepertinya sang pemilik begitu yakin bahwa tidak pernah ada yang berniat melakukan kejahatan di tokonya.

Hanya saja karena sedikit kecerobohan, Gobang kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng menabrak alarm kebakaran yang ternyata otomatis berbunyi jika terhantam sesuatu.

“Lari, Jes!” pekik Gobang dengan suara tertahan dan matanya mengisyaratkan agar aku menjauh dari tempat itu. Pikiranku hanya satu berlari menjauh. Aku sempat sejenak menoleh kebelakang, melihat sosok Gobang yang mulai dikerubuti warga, sebelum terus berlari dengan gepokan uang yang ku gulung dengan separuh kaos lusuhku.

Yang kupikirkan waktu itu adalah berlari dan hanya berlari, tak kuperdulikan kerikil tajam di beberapa ruas jalan setapak menghunjam tapak kaki telanjangku, ranting-ranting kering berduri menggores-gores betisku yang hanya bercelana sebatas lutut. Tujuanku hanya satu rumah markas di batas desa.

Kulesatkan nafas panjang begitu kuterobos pintu tua yang engsel bagian atasnya sudah sempal. Tubuh dan kaos lusuhku terasa lengket basah oleh keringat. Rasa haus menyerang tenggorokanku, membuat aku menyeruput sisa kopi yang belum sempat kuhabiskan sebelum merealisasikan rencana kami. Sempat terlihat olehku gagang cangkir kopiku meninggalkan noda darah  tersentuh lenganku yang terluka.

Dalam kepanikan aku teringat ada satu lemari berbahan kayu jati di salah satu ruangan yang mirip kamar tidur. Kuputuskan untuk semalam tidur di sana.

Begitu terbangun aku langsung menghambur keluar itulah awalnya kenapa aku merasa pusing dan perutku seperti teraduk.

Baru saja kesadaranku pulih terdengar ingar bingar di luar tampak beberapa bayangan mendekat mengendap. Entah kekuatan darimana dengan satu gerakan aku berlari menyembunyikan diri di antara gundukan kardus-kardus separuh lapuk tempat tikus-tikus curut berkembang biak, rasa cemas akan suara-suara di luar mengalahkan rasa jijik pada hewan pengerat itu.

Brak!. Sempurnalah kehancuran daun pintu itu ketika sekitar lima bayangan itu mendobraknya.

“Jeston, menyerahlah!” gertak sebuah suara yang asing bagiku membahana sontak membuat derik jangkrik yang biasa terdengar dikejauhan seolah tercekat. Akupun semakin mengerucutkan tubuh. Suara derap langkah itu membuat tikus-tikus curut yang sedari tadi melenggang santai di sekitar ruangan serentak berlari memasuki kardus-kardus tempatku bersembunyi.

“Jestooon!”. Suara pekikan dengan tangis tertahan dan sangat familiar di telingaku. Suara Gobang.

“Kenapa kamu memilih jalan ini?. Lebih baik menyerah, Jes. Kita mulai hidup yang lebih baik,” isak Gobang membuatku merasa aneh. Kucoba melongok, mengintip semampu netraku memandang. Lewat sinar beberapa lampu senter dari dalam kamar, melukiskan bayangan keluar kamar.

Tampak bayangan Gobang terduduk menghadap lemari dan beberapa pria berseragam mengitarinya dengan wajah menghadap searah Gobang.

Aku baru ingat gepokan uang yang kuraup dari laci meja kasir aku tinggalkan di dalam lemari. Kenapa justru Gobang terisak?.

Tanpa berpikir dua kali, kuhamburkan tubuh mendekati Gobang yang terduduk. Sempat merasa aneh juga ketika melewati dua orang bertubuh tegap berjaket hitam, mereka menganggap aku hanya seperti angin lalu. Meskipun aku yakin, bahwa akulah yang mereka cari.

“Bang, baiklah aku menyerah kalau menurutmu itu yang terbaik” Lantang kusahuti isaknya tadi. Tetapi kenapa Gobang dan pria-pria berseragam di sekitarnya betul-betul tak memperdulikan ucapan dan kehadiranku.

Semua masih terpaku ke satu arah ke dalam lemari jati yang pintunya terbuka lebar. Saat kuikuti arah pandang mereka, aku melihat sesosok tubuh tak bernyawa berkaos hitam lusuh separuh tergulung menyembunyikan gepokan uang, duduk menekuk. Wajahnya sangat kuhafal, karena itu adalah wajahku.

Jogja, 24 Juni 2022

Penulis : dr

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Ataraxia: Ketenangan Jiwa yang Murni
Laksita Ratnaloka Permana Sari
CLOSING DAY
SOSMED
AMBIVALENSI
PREFERENSI
Setan
Kematian

Berita Terkait

Minggu, 15 Februari 2026 - 21:14 WITA

Noktah Merah di Cangkir Kopi

Jumat, 12 Desember 2025 - 14:40 WITA

Ataraxia: Ketenangan Jiwa yang Murni

Kamis, 11 Desember 2025 - 15:57 WITA

Laksita Ratnaloka Permana Sari

Rabu, 10 April 2024 - 13:04 WITA

CLOSING DAY

Senin, 8 April 2024 - 15:14 WITA

SOSMED

Berita Terbaru

(Ilustrasi: Reva Adhitama)

CERITA PENDEK

Noktah Merah di Cangkir Kopi

Minggu, 15 Feb 2026 - 21:14 WITA