Hipokrit

Minggu, 17 Maret 2024 - 17:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berpuasa dengan kesungguhan bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mengantarkan kita menuju taqwa, yaitu ketakwaan kepada Allah. Puasa bukan hanya menguatkan kedisiplinan fisik, tetapi juga membersihkan jiwa dari berbagai kebohongan dan kepalsuan. Dalam tatanan ibadah puasa Ramadan, kita seperti menemukan sebuah tameng yang mencegah terjerumusnya kita dalam perilaku dusta.

Dusta, sebuah kejahatan moral yang merusak hubungan dengan Allah dan sesama, merupakan ciri khas dari orang munafik. Mereka yang berpura-pura menjalankan perintah agama hanya untuk menunjukkan kebaikan di hadapan orang lain, sedangkan hati mereka dipenuhi dengan kebusukan dan kepalsuan. Dalam Al-Quran, para munafik digambarkan sebagai pendusta yang mencoba menipu dengan menyembunyikan niat dan perbuatannya yang jahat di balik tirai kepura-puraan. Hadis Bukhari mencirikan kemunafikan dengan berbohong, ingkar janji, dan berkhianat.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menggambarkan, kalau orang-orang mukmin selalu   memerintahkan kepada kebajikan dan melarang perbuatan mungkar, maka orang-orang munafik mempunyai ciri khas tidak mau menginfakkan hartanya di jalan Allah dan juga  berzikir kepada Allah, itu yang menandakan mereka sama dengan kaum fasik, yaitu orang yang keluar dari jalan yang kebenaran dan masuk ke dalam jalan kesesatan.

Allah SWT berfirman: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah : 67).

Baca Juga :  Menjadi ASN Semestinya

Puasa, karenanya, memiliki peran penting sebagai penghalang terhadap praktek dusta. Dengan menahan diri dari makan, minum, dan perilaku yang tidak bermoral selama periode puasa, kita diingatkan untuk menjaga integritas dan kejujuran dalam semua aspek kehidupan. Puasa membangun kesadaran akan kebenaran dan keadilan, sehingga        mendorong kita untuk menghindari perilaku dusta dan menegakkan kejujuran dalam  segala hal.

Menekuni puasa dengan ketaatan dan kejujuran bisa dimaknakan sebagai ikhtiar  untuk tidak mendustai diri sendiri. Karena potensi untuk menjadi hipokrit (munafik)         sejatinya terdapat pada setiap orang, tak terkecuali kita. Betapa buruknya jiwa yang         disepuh dusta. Semoga puasa kita menghasilkan taqwa yang mendalam dan menjauhkan kita dari segala bentuk kebohongan dan kepalsuan. Insyaallah.**

Penulis : Cukup Wibowo

Editor : Editor Ceraken

Berita Terkait

Hari Kemenangan Mailan
Menjadi ASN Semestinya
Senja di Savana Bale Tepak Batujai*
Ia Menjadi Jejak di Pikiran
Hujan Duka
Noktah Merah di Cangkir Kopi
Ataraxia: Ketenangan Jiwa yang Murni
Laksita Ratnaloka Permana Sari

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:26 WITA

Hari Kemenangan Mailan

Kamis, 30 April 2026 - 10:32 WITA

Menjadi ASN Semestinya

Jumat, 20 Maret 2026 - 04:29 WITA

Senja di Savana Bale Tepak Batujai*

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:56 WITA

Ia Menjadi Jejak di Pikiran

Rabu, 11 Maret 2026 - 11:57 WITA

Hujan Duka

Berita Terbaru

Kebudayaan tidak diposisikan sebagai aktivitas yang berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat (Foto: pmb.ummat.ac.id)

PAGELARAN

Di Balik Tirai PTP 2026, Teater, Ekonomi, dan Harapan untuk NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:59 WITA

Pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana seni dan generasi muda mampu bergerak bersama menjawab tantangan sosial di Nusa Tenggara Barat (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menutup Panggung, Menyalakan Tanggung Jawab Pemuda NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:33 WITA