CERAKEN.ID — Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator utama dalam membaca keberhasilan pembangunan suatu daerah.
Pada 2025, pertumbuhan ekonomi NTB tercatat 12,49 persen secara year-to-year (y-to-y), sementara pertumbuhan kumulatif atau cumulative-to-cumulative (c-to-c) berada di angka 3,22 persen.
Dua angka ini sama-sama menunjukkan perkembangan ekonomi, namun memiliki makna berbeda ketika digunakan sebagai dasar perumusan kebijakan pembangunan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaannya, angka mana yang lebih penting bagi kebijakan dan strategi pembangunan daerah?
Memahami Perbedaan Dua Indikator
Pertumbuhan y-to-y membandingkan kinerja ekonomi pada suatu periode dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka ini sering menjadi sorotan karena mampu menunjukkan lonjakan atau perlambatan ekonomi secara cepat.
Tidak jarang, angka y-to-y menjadi headline utama dalam laporan ekonomi karena menggambarkan momentum pertumbuhan.
Sebaliknya, pertumbuhan c-to-c melihat kinerja ekonomi secara kumulatif dalam satu tahun berjalan dibandingkan periode sebelumnya. Indikator ini mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih menyeluruh dan relatif stabil karena mengurangi efek fluktuasi musiman atau lonjakan sesaat.
Di tingkat nasional, indikator ini juga menjadi acuan penting dalam membaca stabilitas ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Mengapa Angka C-to-C Lebih Penting bagi Kebijakan?
Dalam konteks penyusunan kebijakan pembangunan, angka c-to-c dinilai lebih penting dibanding y-to-y. Alasannya antara lain:
Pertama, mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih stabil.
Pertumbuhan y-to-y bisa melonjak akibat faktor musiman, proyek besar sementara, atau lonjakan sektor tertentu yang belum tentu berkelanjutan. Sebaliknya, angka kumulatif menunjukkan performa ekonomi sepanjang periode, sehingga lebih mencerminkan kondisi riil masyarakat dan dunia usaha.
Kedua, lebih relevan untuk perencanaan anggaran dan investasi publik.
Kebijakan pembangunan membutuhkan prediksi pendapatan daerah, daya beli masyarakat, serta kemampuan investasi jangka menengah. Angka c-to-c memberikan gambaran yang lebih aman untuk menetapkan target pembangunan, belanja daerah, hingga strategi investasi.
Ketiga, membantu menjaga keberlanjutan pembangunan.
Lonjakan pertumbuhan sesaat tidak selalu berarti kesejahteraan meningkat. Pemerintah daerah justru perlu memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati masyarakat secara merata dan berkelanjutan, bukan hanya terjadi pada sektor tertentu dalam waktu singkat.
Peran Angka Y-to-Y Tetap Penting
Meski demikian, angka y-to-y tetap memiliki fungsi strategis. Indikator ini penting sebagai alarm dini untuk membaca perubahan ekonomi secara cepat. Jika terjadi perlambatan tajam, pemerintah dapat segera melakukan intervensi kebijakan.
Sebaliknya, jika terjadi lonjakan besar, pemerintah bisa mengidentifikasi sektor yang perlu diperkuat.
Dengan kata lain, y-to-y penting untuk membaca momentum, sementara c-to-c penting untuk menentukan arah.
Bagi NTB, tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan angka pertumbuhan tinggi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut stabil, inklusif, dan berkelanjutan.
Artinya, pembangunan harus memperkuat sektor-sektor produktif yang memberi dampak luas, seperti pertanian, pariwisata, industri pengolahan, dan ekonomi kreatif, bukan hanya mengandalkan proyek besar atau sektor ekstraktif sesaat.
Karena itu, dalam merumuskan kebijakan dan strategi pembangunan, pemerintah daerah lebih tepat menggunakan indikator pertumbuhan c-to-c sebagai pijakan utama, sementara angka y-to-y menjadi alat pemantauan dinamika ekonomi jangka pendek.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar tingginya angka pertumbuhan, tetapi sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata dan berkelanjutan.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan


































