CERAKEN.ID — Pekan Teater Pelajar (PTP) ke-5 Tahun 2026 yang diselenggarakan Teater Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram mencapai puncaknya melalui malam penganugerahan sekaligus penutupan kegiatan tingkat SMA/SMK/MA se-NTB di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 23 Mei 2026.
Malam yang dipenuhi atmosfer seni itu bukan hanya menjadi penutup perhelatan teater pelajar, tetapi juga berubah menjadi ruang refleksi sosial tentang masa depan generasi muda NTB. Di hadapan peserta, pegiat seni, guru, mahasiswa, dan tamu undangan, pesan mengenai tanggung jawab pemuda disampaikan secara tegas oleh Kepala Bidang Pemuda Dikpora Provinsi NTB, H. Tarmidzi.
Teater dan Kegelisahan tentang Masa Depan Pemuda
Dalam sambutannya yang dimulai pukul 20.56 WITA, H. Tarmidzi mewakili Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi NTB, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd, yang sedang bertugas di Lombok Timur. Ia membuka pidato dengan memaparkan kondisi Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) NTB yang menurutnya sedang berada dalam situasi mengkhawatirkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saat ini Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) NTB levelnya kurang mengenakan, nomor 25 dari 38 provinsi, nilainya 5,50. Ini tanggung jawab kita bersama. Anda yang ada di sini adalah Pemuda NTB,” ujarnya.
Pernyataan itu membuat panggung teater malam itu terasa lebih luas daripada sekadar ruang pertunjukan seni. Para pelajar yang hadir tidak lagi diposisikan hanya sebagai peserta festival, melainkan sebagai bagian dari generasi yang memikul masa depan daerahnya.
Ia mengingatkan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009, warga negara Indonesia yang berusia 16 hingga 30 tahun masuk dalam kategori pemuda. Karena itu, menurutnya, pemuda NTB memiliki tanggung jawab kolektif untuk memperbaiki berbagai persoalan sosial yang memengaruhi kualitas pembangunan manusia.
Dari “Merariq Kodeq” hingga Ancaman Narkoba
Dalam pidatonya, H. Tarmidzi juga menyinggung persoalan “merariq kodeq” atau perkawinan anak yang disebutnya menjadi salah satu faktor penyebab merosotnya IPP NTB. Ia menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama, terutama generasi muda.
“Kenapa IPP NTB terjun bebas? Karena yang pertama adalah maraknya merariq kodeq. Inilah penugasan pemuda,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa jumlah pemuda di NTB mencapai sekitar 1,365 juta jiwa atau sekitar 23,8 persen dari total penduduk NTB yang mencapai 5,7 juta jiwa. Dengan jumlah sebesar itu, pemuda dinilai memiliki kekuatan sosial yang besar untuk melakukan perubahan.
Tak hanya soal perkawinan anak, H. Tarmidzi juga menyinggung persoalan narkoba yang menurutnya telah menjadi ancaman serius di beberapa wilayah NTB.
“Di antaranya wilayah Dompu dan Bima zona merah narkoba. Mari kita gerakan sosialisasi Anti Merariq Kodeq dan Anti Narkoba,” tegasnya.
Ia mengatakan akan melakukan sosialisasi keliling ke berbagai daerah di NTB untuk mengampanyekan pencegahan perkawinan anak dan penyalahgunaan narkoba. Bagi H. Tarmidzi, gerakan tersebut tidak cukup dilakukan pemerintah semata, tetapi harus melibatkan komunitas pemuda, sekolah, kampus, dan ruang-ruang kebudayaan.
Penutupan yang Menjadi Awal Gerakan
Di tengah semangat seni yang memenuhi Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB, sambutan itu menghadirkan kesadaran bahwa teater tidak berdiri jauh dari realitas sosial. Panggung seni justru dapat menjadi medium pendidikan, penyadaran, dan gerakan kebudayaan.
Tarmidzi bahkan menyambut gagasan agar kegiatan PTP di masa mendatang diperluas hingga tingkat mahasiswa. Ia melihat energi kreatif generasi muda dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun kesadaran sosial di NTB.
Pada menit ke-6.49 sambutannya, ia secara resmi menutup rangkaian kegiatan PTP ke-5 Tahun 2026.
“Atas nama Pemerintah Provinsi NTB dalam hal ini dari Dinas Dikpora Provinsi NTB, atas keberhasilan apa yang sudah dilakukan oleh Teater Sasentra pada malam hari ini, mengucapkan Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, Pekan Teater Pelajar 2026 Tingkat SMA/SMK/MA se-Nusa Tenggara Barat secara resmi dinyatakan ditutup,” ucapnya.
Kalimat penutup itu menjadi penanda berakhirnya festival, namun sekaligus membuka pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana seni dan generasi muda mampu bergerak bersama menjawab tantangan sosial di Nusa Tenggara Barat. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































