Menutup Panggung, Menyalakan Tanggung Jawab Pemuda NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana seni dan generasi muda mampu bergerak bersama menjawab tantangan sosial di Nusa Tenggara Barat (Foto: aks / ceraken.id)

Pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana seni dan generasi muda mampu bergerak bersama menjawab tantangan sosial di Nusa Tenggara Barat (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pekan Teater Pelajar (PTP) ke-5 Tahun 2026 yang diselenggarakan Teater Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram mencapai puncaknya melalui malam penganugerahan sekaligus penutupan kegiatan tingkat SMA/SMK/MA se-NTB di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 23 Mei 2026.

Malam yang dipenuhi atmosfer seni itu bukan hanya menjadi penutup perhelatan teater pelajar, tetapi juga berubah menjadi ruang refleksi sosial tentang masa depan generasi muda NTB. Di hadapan peserta, pegiat seni, guru, mahasiswa, dan tamu undangan, pesan mengenai tanggung jawab pemuda disampaikan secara tegas oleh Kepala Bidang Pemuda Dikpora Provinsi NTB, H. Tarmidzi.

Teater dan Kegelisahan tentang Masa Depan Pemuda

Dalam sambutannya yang dimulai pukul 20.56 WITA, H. Tarmidzi mewakili Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi NTB, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd, yang sedang bertugas di Lombok Timur. Ia membuka pidato dengan memaparkan kondisi Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) NTB yang menurutnya sedang berada dalam situasi mengkhawatirkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ini Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) NTB levelnya kurang mengenakan, nomor 25 dari 38 provinsi, nilainya 5,50. Ini tanggung jawab kita bersama. Anda yang ada di sini adalah Pemuda NTB,” ujarnya.

Pernyataan itu membuat panggung teater malam itu terasa lebih luas daripada sekadar ruang pertunjukan seni. Para pelajar yang hadir tidak lagi diposisikan hanya sebagai peserta festival, melainkan sebagai bagian dari generasi yang memikul masa depan daerahnya.

Baca Juga :  Menafsir Luka Keluarga dalam Gerak: Tiga Wajah Kehidupan di Panggung Swara Loka Karsa

Ia mengingatkan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009, warga negara Indonesia yang berusia 16 hingga 30 tahun masuk dalam kategori pemuda. Karena itu, menurutnya, pemuda NTB memiliki tanggung jawab kolektif untuk memperbaiki berbagai persoalan sosial yang memengaruhi kualitas pembangunan manusia.

Dari “Merariq Kodeq” hingga Ancaman Narkoba

Dalam pidatonya, H. Tarmidzi juga menyinggung persoalan “merariq kodeq” atau perkawinan anak yang disebutnya menjadi salah satu faktor penyebab merosotnya IPP NTB. Ia menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama, terutama generasi muda.

Kenapa IPP NTB terjun bebas? Karena yang pertama adalah maraknya merariq kodeq. Inilah penugasan pemuda,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa jumlah pemuda di NTB mencapai sekitar 1,365 juta jiwa atau sekitar 23,8 persen dari total penduduk NTB yang mencapai 5,7 juta jiwa. Dengan jumlah sebesar itu, pemuda dinilai memiliki kekuatan sosial yang besar untuk melakukan perubahan.

Tak hanya soal perkawinan anak, H. Tarmidzi juga menyinggung persoalan narkoba yang menurutnya telah menjadi ancaman serius di beberapa wilayah NTB.

Di antaranya wilayah Dompu dan Bima zona merah narkoba. Mari kita gerakan sosialisasi Anti Merariq Kodeq dan Anti Narkoba,” tegasnya.

Ia mengatakan akan melakukan sosialisasi keliling ke berbagai daerah di NTB untuk mengampanyekan pencegahan perkawinan anak dan penyalahgunaan narkoba. Bagi H. Tarmidzi, gerakan tersebut tidak cukup dilakukan pemerintah semata, tetapi harus melibatkan komunitas pemuda, sekolah, kampus, dan ruang-ruang kebudayaan.

Baca Juga :  Pameran Seni SMAN 8 Mataram Menafsirkan Sekolah sebagai Ruang Tumbuh Kehidupan
Penutupan yang Menjadi Awal Gerakan

Di tengah semangat seni yang memenuhi Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB, sambutan itu menghadirkan kesadaran bahwa teater tidak berdiri jauh dari realitas sosial. Panggung seni justru dapat menjadi medium pendidikan, penyadaran, dan gerakan kebudayaan.

Tarmidzi bahkan menyambut gagasan agar kegiatan PTP di masa mendatang diperluas hingga tingkat mahasiswa. Ia melihat energi kreatif generasi muda dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun kesadaran sosial di NTB.

Pada menit ke-6.49 sambutannya, ia secara resmi menutup rangkaian kegiatan PTP ke-5 Tahun 2026.

Atas nama Pemerintah Provinsi NTB dalam hal ini dari Dinas Dikpora Provinsi NTB, atas keberhasilan apa yang sudah dilakukan oleh Teater Sasentra pada malam hari ini, mengucapkan Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, Pekan Teater Pelajar 2026 Tingkat SMA/SMK/MA se-Nusa Tenggara Barat secara resmi dinyatakan ditutup,” ucapnya.

Kalimat penutup itu menjadi penanda berakhirnya festival, namun sekaligus membuka pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana seni dan generasi muda mampu bergerak bersama menjawab tantangan sosial di Nusa Tenggara Barat. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Dari Gedung Penuh Penonton Menuju Mimpi Festival Teater Mahasiswa NTB
Di Balik Tirai PTP 2026, Teater, Ekonomi, dan Harapan untuk NTB
Dari Gedung Teater ke Ruang Sosial: Pekan Teater Pelajar NTB 2026 Capai Puncak Apresiasi
Sajak di Balik Tirai: Kebangkitan Teater Pelajar NTB dari Panggung yang Sunyi
Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”
Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta
Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid
Menari dari Rumah yang Retak

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:26 WITA

Dari Gedung Penuh Penonton Menuju Mimpi Festival Teater Mahasiswa NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:59 WITA

Di Balik Tirai PTP 2026, Teater, Ekonomi, dan Harapan untuk NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:33 WITA

Menutup Panggung, Menyalakan Tanggung Jawab Pemuda NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:26 WITA

Dari Gedung Teater ke Ruang Sosial: Pekan Teater Pelajar NTB 2026 Capai Puncak Apresiasi

Sabtu, 23 Mei 2026 - 01:06 WITA

Sajak di Balik Tirai: Kebangkitan Teater Pelajar NTB dari Panggung yang Sunyi

Berita Terbaru

Kebudayaan tidak diposisikan sebagai aktivitas yang berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat (Foto: pmb.ummat.ac.id)

PAGELARAN

Di Balik Tirai PTP 2026, Teater, Ekonomi, dan Harapan untuk NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:59 WITA

Pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana seni dan generasi muda mampu bergerak bersama menjawab tantangan sosial di Nusa Tenggara Barat (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menutup Panggung, Menyalakan Tanggung Jawab Pemuda NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:33 WITA