Belian, Doa, dan Daya Hidup Tradisi

Minggu, 25 Januari 2026 - 01:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ia mengingatkan bahwa tradisi bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana manusia hari ini dan esok hari menjaga hubungan dengan dirinya, sesamanya, dan Yang Maha Kuasa (Foto: aks)

Ia mengingatkan bahwa tradisi bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana manusia hari ini dan esok hari menjaga hubungan dengan dirinya, sesamanya, dan Yang Maha Kuasa (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Sabtu malam, 24 Januari 2026, pukul 21.18 Wita, suasana Galeri Taman Budaya NTB perlahan berubah hening. Kurator Pameran Belian, Muhammad Sibawahi, di hadapan para undangan dan dengan suara tenang mempersilakan mereka duduk bersila.

Isyarat itu bukan sekadar pengaturan posisi tubuh, melainkan penanda bahwa rangkaian Pameran Belian telah sampai pada titik pamungkasnya: penutupan dengan zikir dan doa bersama, mengharap keberkahan, sekaligus mendoakan Almarhumah Ibunda yang telah berpulang.

Malam itu, pameran tidak ditutup dengan pidato seremonial atau tepuk tangan meriah, melainkan dengan kesadaran spiritual kolektif. Zikir yang dilantunkan menjadi ruang perjumpaan antara seni, tradisi, dan keheningan batin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di situlah Belian menemukan maknanya yang paling hakiki: bukan sekadar tontonan atau objek pamer, melainkan laku hidup yang berakar pada doa, niat, dan pengabdian.

Pameran Belian yang berlangsung sejak 10 hingga 24 Januari 2026 ini mencatat antusiasme yang menggembirakan. Berdasarkan catatan sementara panitia, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai 1.200 orang, atau rata-rata sekitar 80 orang per hari.

Angka ini terbilang signifikan, terlebih bagi Komunitas Pasirputih Lombok Utara sebagai penyelenggara kegiatan. Bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas kehadiran: pengunjung datang dari beragam latar belakang, usia, dan kepentingan, dari seniman, mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum yang ingin mengenal atau kembali mendekat pada praktik Belian.

Antusiasme tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Belian, sebagai praktik tradisi dan spiritualitas lokal, masih memiliki daya lekat yang kuat dalam kehidupan masyarakat.

Di tengah kemajuan zaman yang kian pesat, ketika kehidupan global bergerak serba digital dan instan, Belian justru menghadirkan ruang jeda: ruang untuk kembali mendengar tubuh, alam, dan relasi sosial yang lebih dalam.

Ia menjadi pengingat bahwa modernitas tidak selalu harus meniadakan tradisi, dan kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan kearifan lokal.

Baca Juga :  Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Dalam konteks itulah Pameran Belian menemukan relevansinya. Ia tidak memposisikan tradisi sebagai artefak masa lalu yang dibekukan, melainkan sebagai praktik hidup yang masih bernapas dan beradaptasi.

Pameran ini menjadi medium dialog: antara masa lalu dan masa kini, antara pengetahuan lokal dan wacana kontemporer, antara spiritualitas dan realitas sosial.

Namun, menjaga agar tradisi tetap hidup bukanlah pekerjaan mudah. Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana merawat dan mengembangkan tradisi serta kearifan lokal yang tersisa agar dapat berdampingan secara sehat dengan kehidupan modern.

Belian perlu terus “dibaca ulang”, bukan untuk dirombak, melainkan untuk dipahami ulang konteks dan fungsinya di masa kini.

Di sinilah peran banyak pihak menjadi krusial. Pemerintah diharapkan hadir melalui kebijakan dan dukungan yang berpihak pada pelestarian budaya. Masyarakat menjadi penjaga utama nilai dan praktiknya.

Secara sosial dan ekonomi, praktik Belian menunjukkan prospek yang menjanjikan (Foto: aks)

Komunitas Belian berperan sebagai penggerak dan ruang belajar bersama. Kaum akademisi dapat memberi kerangka kajian dan dokumentasi yang berkelanjutan.

Pengusaha membuka peluang keberlanjutan ekonomi tanpa mereduksi makna. Sementara media berperan menyuarakan, mengarsipkan, dan mengkritisi agar tradisi tidak jatuh menjadi sekadar komoditas.

Salah satu aspek paling hidup dari Pameran Belian terlihat dari praktik konsultasi yang berlangsung hampir setiap hari. Abdul Haris, yang akrab disapa Bang Ali, selaku Belian mengungkapkan bahwa selama pameran berlangsung, banyak pengunjung yang datang berkonsultasi langsung dengannya.

“Rata-rata 15 orang per hari,” ujarnya. Jika ditotal, selama pameran Bang Ali melayani sekitar 225 orang yang datang dengan beragam persoalan: mulai dari kesehatan, keluarga, hingga kegelisahan batin.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Belian tidak sekadar dipahami sebagai pertunjukan budaya, melainkan sebagai praktik sosial yang masih dipercaya dan dibutuhkan.

Di tengah keterbatasan akses layanan formal, maupun di tengah kelelahan psikologis masyarakat urban-modern, Belian hadir sebagai alternatif ruang pemulihan. Ia bekerja bukan hanya pada tubuh, tetapi juga pada rasa dan makna.

Baca Juga :  Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani

Bagi Komunitas Pasirputih Lombok Utara, capaian ini menjadi bahan refleksi sekaligus evaluasi. Muhammad Sibawahi bersama tim mencatat bahwa Pameran Belian membuka banyak kemungkinan lanjutan. Salah satunya adalah keberlanjutan pameran dengan cara dan tempat yang berbeda.

“Insya Allah, akan ada pembacaan ulang selanjutnya,” kata Sibawahi. Pernyataan ini menegaskan bahwa Belian tidak berhenti pada satu momentum, melainkan terus bergerak sebagai proses.

“Pembacaan ulang” yang dimaksud bukan sekadar pengulangan bentuk, melainkan eksplorasi konteks. Bagaimana Belian dibaca dalam ruang pendidikan? Bagaimana ia hadir dalam diskursus seni kontemporer?

Bagaimana ia dikelola agar tetap beretika sekaligus berkelanjutan secara ekonomi? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pintu masuk bagi fase berikutnya.

Secara sosial dan ekonomi, praktik Belian menunjukkan prospek yang menjanjikan. Tingginya minat pengunjung, intensitas konsultasi, serta keterlibatan lintas sektor membuka peluang bagi pengembangan ekosistem budaya yang sehat.

Namun prospek ini harus dikelola dengan kehati-hatian. Ketika tradisi mulai dilihat sebagai potensi ekonomi, risiko reduksi makna selalu mengintai. Oleh karena itu, keseimbangan antara nilai, etika, dan keberlanjutan menjadi kunci.

Penutupan Pameran Belian dengan zikir dan doa bersama seolah menegaskan arah tersebut. Bahwa di balik angka statistik, antusiasme publik, dan peluang ekonomi, Belian tetap berakar pada niat baik dan kesadaran spiritual.

Ia mengingatkan bahwa tradisi bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana manusia hari ini dan esok hari menjaga hubungan dengan dirinya, sesamanya, dan Yang Maha Kuasa.

Di Galeri Taman Budaya NTB malam itu, Belian tidak benar-benar berakhir. Ia justru menemukan awal baru.

Dalam doa, dalam ingatan kolektif, dan dalam harapan agar tradisi yang tersisa tidak hanya bertahan, tetapi terus hidup dan memberi makna.(aks)

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:08 WITA

Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA