Lempot yang Menyimpan Tangis: Tenun Sakral Kebon Ayu dan Ingatan yang Dijaga Perempuan

Selasa, 27 Januari 2026 - 19:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lempot Bidadari Ngamuk adalah salah satu lempot sakral yang paling dikenal. Lempot ini digunakan untuk menenangkan anggota keluarga, terutama anak-anak yang rewel atau menangis histeris. (Foto: Pikong)

Lempot Bidadari Ngamuk adalah salah satu lempot sakral yang paling dikenal. Lempot ini digunakan untuk menenangkan anggota keluarga, terutama anak-anak yang rewel atau menangis histeris. (Foto: Pikong)

CERAKEN.Id– “Kalau ibunya itu, namanya Inaq Sariah, sudah meninggal. Saat saya wawancarai (pada 2017) adalah Inaq Haeriah, penyimpan Lempot Bidadari Ngamuk, yang telah ia simpan selama 40 tahun di lemari.”

Pagi Selasa, 27 Januari 2026, kesaksian itu disampaikan Fitri Rachmawati, akrab disapa Pikong, dengan nada datar, nyaris seperti menyebutkan fakta biasa.

Padahal, yang sedang ia ceritakan bukan sekadar kain lama yang lusuh dimakan usia, melainkan sehelai tenun sakral yang menyimpan sejarah tubuh, air mata, doa, dan keyakinan masyarakat Sasak di Desa Kebon Ayu, Lombok Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Lempot ini digunakan pertama kali Inaq Haeriah saat menangis waktu kecil. Lempot tersebut dibuatkan oleh ibunya, yaitu Inaq Sariah,” lanjut Pikong.

Empat puluh tahun lamanya (pada 2017) lempot itu disimpan di lemari. Tidak dijual, tidak diwariskan sembarangan, dan tidak diperlakukan sebagai benda mati.

Ia disimpan sebagai penanda pengalaman hidup bahwa suatu masa, seorang anak kecil pernah ditenangkan dengan cara yang hanya bisa dipahami oleh tradisi.

Pikong bukan nama asing dalam dunia dokumentasi tenun Lombok. Ia adalah Ketua Tim Penulis Katalog Tenun Tradisional Lombok yang terbit pada Desember 2017, dengan dukungan Islamic Relief Australia.

Dalam katalog tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Barat saat itu, TGH. M. Zainul Majdi, menuliskan kata sambutan, menegaskan pentingnya tenun sebagai identitas dan kekayaan budaya daerah.

Pada halaman 51 hingga 62 katalog itu, Pikong menulis satu bab khusus berjudul Sentra Tenun Kebon Ayu. Sebuah potret panjang tentang desa, perempuan, dan kain-kain yang tidak hanya dipakai, tetapi dipercaya.

Kebon Ayu: Desa, Penenun, dan Bunyi Jajak

Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, berdiri sejak 1916 dan kerap disebut sebagai Desa Penarukan. Lebih dari 6.000 jiwa atau hampir 2.500 kepala keluarga menetap di desa ini. Dari jumlah itu, sekitar 300 orang adalah penenun aktif, angka yang terbilang besar di tengah arus industrialisasi tekstil.

Hingga kini, tercatat sepuluh kelompok penenun yang masih bertahan, masing-masing beranggotakan 10 hingga 12 orang. Kelompok-kelompok ini tersebar di hampir seluruh dusun: Penarukan Lauk, Penarukan Daye, Gubuk Raden, Bakong, Kelebut, Kerenti, hingga Peroa.

Bagi siapa pun yang memasuki gerbang desa, bunyi hentakan jajak—alat tenun tradisional—akan menjadi salam pertama. Bunyi ritmis itu bukan kebisingan, melainkan penanda kehidupan. Ia adalah suara kerja, kesabaran, dan kesinambungan.

Baca Juga :  Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala: Jurnalisme Teater dari Tanah Gumantar

Motif tenun Kebon Ayu memang tidak sebanyak sentra lain di Lombok, tetapi justru di situlah kekuatannya. Warna-warna gelap seperti hitam dan rona dasar yang kuat menjadi ciri utama.

Perbedaan motif sering kali terletak pada bentuk dan jumlah garis, detail yang hanya bisa dibaca oleh mata yang terbiasa.

Lempot Kombong Kuning Majapahit digunakan anak perempuan saat khataman Al-Qur’an, kikir gigi, hingga upacara tujuh bulanan. Lempot ini dipercaya sebagai “teman hidup”, menemani pemiliknya hingga dewasa, bahkan saat menikah (Foto: Pikong)

Motif-motif tua seperti Ragian Seganteng, Ragian Putih, Ragi Peroa, Ragi Getap, Ragi Bugis, Ragi Kemaluk, Ragi Kembang Tujuh, hingga Ragi Benang Emas, hidup berdampingan dengan motif lain seperti Kembang Kerang, Gumilang Jogang, dan Lempot Botoran.

Namun di Kebon Ayu, tenun tidak berhenti pada estetika. Ia bergerak masuk ke wilayah ritual dan religiusitas.

Di desa ini, terdapat jenis tenun yang dikenal memiliki nilai sakral. Memesannya tidak sama dengan memesan kain biasa.

Pemesan harus membawa andang-andang atau sesaji: beras, kapur sirih, lekok buaq. Sambil menyerahkan sesaji itu, pemesan menyebutkan motif lempot yang diinginkan.

Tenun sakral bukan soal selera, melainkan peruntukan.

Beberapa di antaranya adalah Lempot Bidadari Ngamuk, Lempot Penguris, Lempot Besunat, Sabuk Menganak, Lempot Kombong Kuning Majapahit, dan Lempot Apit Bangke. Masing-masing memiliki motif, warna, serta fungsi yang berbeda.

Uniknya, hanya tiga perempuan dengan garis keturunan yang sama yang diperkenankan menenun lempot-lempot sakral ini. Ketiganya telah berusia di atas 50 tahun.

Lempot Bidadari Ngamuk: Menenangkan Tangis

Lempot Bidadari Ngamuk adalah salah satu lempot sakral yang paling dikenal. Lempot ini digunakan untuk menenangkan anggota keluarga, terutama anak-anak yang rewel atau menangis histeris.

Inaq Haeriah, warga Dusun Penarukan Lauk, masih menyimpan lempot ini. Warnanya telah lusuh. Selama empat dekade, ia disimpan dengan satu alasan: agar anak pertamanya tidak lagi nyengser, menangis tanpa henti.

Setelah lempot selesai ditenun oleh Inaq Sariah, ibunya, kain itu direndam dalam air kembang. Anak yang rewel kemudian dimandikan dengan air rendaman tersebut.

Kepalanya dipopot (dipijat) menggunakan lempot Bidadari Ngamuk hingga sembilan kali. Dua hari kemudian, dipercaya si anak akan tenang.

Ritual ini bukan sekadar kepercayaan, melainkan praktik pengasuhan berbasis tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Dari Kelahiran hingga Kematian

Lempot Penguris digunakan untuk bayi laki-laki yang akan menjalani prosesi ngurisan—mencukur rambut pertama. Warnanya kuning, dengan garis merah di sisi-sisinya.

Lempot Apit Bangke, diyakini sebagai penolak bala (Foto: Pikong)

Saat prosesi berlangsung, lempot diletakkan bersama perangkat upacara lain: alat kuris, beras kuning, uang logam, dan sirih.

Baca Juga :  Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Lempot Besunat diperuntukkan bagi anak laki-laki yang akan disunat. Tekstur dan warnanya mirip Lempot Bidadari Ngamuk, namun tenunannya melingkar tanpa ujung.

Lempot ini akan diputus pada saat prosesi sunatan berlangsung.

Sabuk Menganak adalah tenun panjang, tujuh hingga sepuluh meter, berwarna gelap dan bertekstur kasar. Digunakan perempuan pasca melahirkan untuk menguatkan rahim.

Di ujung sabuk, dibuat ikatan khusus sebagai simbol kekuatan dan kepercayaan bahwa rahim dijaga oleh Tuhan.

Lempot Kombong Kuning Majapahit digunakan anak perempuan saat khataman Al-Qur’an, kikir gigi, hingga upacara tujuh bulanan. Lempot ini dipercaya sebagai “teman hidup”, menemani pemiliknya hingga dewasa, bahkan saat menikah.

Sementara Lempot Apit Bangke, berwarna putih dengan garis hijau, kuning, dan merah, diyakini sebagai penolak bala.

Inaq Malam, 65 tahun, adalah salah satu dari tiga bersaudara bersama Inaq Sari dan Inaq Misah, yang masih menenun lempot-lempot sakral tersebut. Mereka berasal dari garis keturunan penenun sakral asal Desa Sembalun, Lombok Timur, di kaki Gunung Rinjani.

Tidak sembarang penenun boleh membuat lempot sakral. Keahlian ini tidak diwariskan melalui pelatihan, melainkan garis darah, kesabaran, dan ketaatan pada aturan tak tertulis.

Pada awalnya, tenun leluhur mereka polos, berwarna hitam, biru tua, hijau lumut, kuning, dan merah marun. Menggunakan campuran benang semi sutra, tenun ini dikenal sebagai Gumilang.

Perkembangannya melahirkan Gumilang Jogang, motif garis besar yang tidak lurus, yang oleh masyarakat disebut “jogang” atau gila.

Pada 2017, harga kain ini berkisar Rp300 ribu. Upah menenun Gumilang sekitar Rp150 ribu per kain, sementara Gumilang Jogang Rp200–250 ribu.

Di Antara Hello Kitty dan Ragian

Hari ini, Kebon Ayu juga mengenal tenun “jaman now”. Motif pemain bola, ayam pejantan, kelinci, hingga Hello Kitty lahir dari permintaan pasar. Harga kain-kain ini bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta.

Sebagian penenun mengaku lebih bahagia menenun motif warisan leluhur, tetapi kehilangan pembeli. Tenun pabrikan dan motif populer anak muda menjadi tantangan nyata.

Namun, seperti lempot yang disimpan puluhan tahun di lemari, tradisi belum benar-benar pergi. Ia menunggu.

Dijaga oleh tangan-tangan perempuan yang setia, oleh ingatan tentang tangis yang pernah reda, dan oleh keyakinan bahwa sehelai kain bisa lebih dari sekadar sandang. Ia adalah kehidupan itu sendiri. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:08 WITA

Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA