CERAKEN.ID– Selain Kebon Ayu, satu nama lain dari Lombok Barat yang tercatat dalam Katalog Tenun Tradisional Lombok terbitan Desember 2017 adalah Dusun Gumise. Letaknya tidak di jalur wisata, tak pula di pusat keramaian.
Gumise berdiri di atas perbukitan Desa Giri Tembesi, Kecamatan Gerung, wilayah yang saat itu akrab dengan sunyi dan keterbatasan sinyal. Namun justru dari ruang yang terpinggirkan itulah, tenun tumbuh sebagai harapan sekaligus penanda identitas.
Catatan Fitri Rachmawati dan kawan-kawan pada halaman 63–68 katalog tersebut menandai tahun 1997 sebagai awal berkembangnya aktivitas menenun di Gumise.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan oleh masyarakat setempat, melainkan diperkenalkan oleh seorang perempuan penenun asal Nusa Penida, Bali, Ni Wayan Landri.
Ia datang ke Gumise mengikuti jalan hidupnya: menikah dengan Wayan Binder, lelaki asal dusun tersebut. Dari pernikahan itu, tumbuh pula sebuah ikhtiar ekonomi yang kelak mengubah wajah Gumise.
Sebagai pasangan muda yang hidup di wilayah dengan akses terbatas, Ni Wayan Landri dan suaminya menyadari satu hal: mayoritas warga Gumise yang sebagian besar beragama Hindu bergantung pada sektor pertanian tadah hujan.
Ketika musim kering datang, penghasilan ikut mengering. Dari kesadaran itulah, keinginan untuk membuka jalan ekonomi alternatif bagi perempuan desa mulai dirajut, perlahan namun pasti.
Modal awalnya jauh dari kata besar. Sisa uang pernikahan sebesar Rp5 juta digunakan Ni Wayan Landri untuk membeli alat tenun bukan mesin (ATBM) bekas.

Benang pun bukan hasil belanja rutin, melainkan sisa pemberian. Dengan peralatan sederhana dan keterbatasan bahan, ia mulai menenun motif-motif dasar, gerimis dan lurik, yang kala itu belum terpikirkan akan menjadi identitas kultural sebuah dusun.
Proses belajar dan berbagi keterampilan berlangsung organik. Dari satu alat tenun, pengetahuan berpindah dari tangan ke tangan.
Waktu berjalan, pesanan mulai datang, selera pasar pun mempengaruhi perkembangan motif. Namun satu motif tetap bertahan sebagai penanda paling khas: gerimis.
Motif Gerimis adalah wajah Gumise yang ditenun. Sekilas tampak polos. Tetapi bila diamati dari dekat, garis-garis putus tak beraturan menyembul di permukaannya menyerupai rintik hujan yang jatuh tak serempak.
Bagi Ni Wayan Landri, gerimis bukan sekadar pola visual, melainkan narasi hidup masyarakat Gumise. Dusun ini menggantungkan hidup pada hujan. Padi hanya ditanam ketika langit berbaik hati menurunkan airnya.
Ketidakpastian itulah yang diterjemahkan ke dalam tenun, menjadi motif yang jujur, sederhana, dan penuh makna.
Selain gerimis, tenun Gumise juga berkembang melalui motif-motif pengembangan yang berakar pada kehidupan sehari-hari dan alam sekitar.
Ada malean sampi, gambaran tradisi mengendalikan dua ekor sapi di sawah; motif kembang sepatu yang merekam flora pekarangan; motif wayang sebagai representasi nilai dan cerita; serta hebun, tumbuhan menjalar yang akrab dengan lanskap pedesaan.

Motif-motif ini tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman kolektif yang dirasakan dan dikenali bersama.
Kini (berdasarkan data katalog tersebut), kelompok perempuan penenun Gumise beranggotakan sekitar 20 orang. Usia mereka beragam, dari pelajar SMP hingga perempuan berusia 50 tahun.
Tenun bukan hanya pekerjaan sambilan, melainkan ruang belajar lintas generasi. Di sana, keterampilan diwariskan, kesabaran dilatih, dan kebersamaan dipererat.
Menariknya, Ni Wayan Landri bukanlah perempuan Sasak. Ia datang dari Bali dengan latar budaya berbeda. Namun Lombok telah menjadi rumah batinnya.
Kecintaannya pada tanah ini menjelma dalam benang-benang yang ia warnai, dalam motif-motif yang ia kembangkan bersama warga. Di Gumise, akulturasi bukan jargon akademik, melainkan praktik keseharian.
Masyarakat Hindu dan Muslim hidup berdampingan di wilayah ini. Perbedaan tak disembunyikan, tetapi dirajut dalam relasi sosial yang cair.
Tenun menjadi medium sunyi yang membahasakan perdamaian itu. Setiap kain adalah arsip kekerabatan, penanda bahwa harmoni bisa tumbuh dari kerja bersama, dari kesadaran akan nasib yang saling terhubung.
Dari atas bukit Gumise, gerimis tidak lagi sekadar hujan. Ia adalah motif, ingatan, dan harapan.
Dalam setiap helai tenun, tersimpan kisah tentang perempuan, tentang ketekunan, dan tentang bagaimana budaya bisa menjadi jalan bertahan bahkan ketika dunia terasa jauh dan sinyal nyaris tak ada. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor































