Kebudayaan NTB di Masa Jeda: Antara Akar Rumput yang Menggeliat dan Roadmap Panjang Menuju Indonesia Emas

Kamis, 29 Januari 2026 - 09:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa kebijakan mampu menyusul langkah-langkah yang telah lebih dulu diayunkan oleh masyarakatnya (Foto: aks)

Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa kebijakan mampu menyusul langkah-langkah yang telah lebih dulu diayunkan oleh masyarakatnya (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Di tengah hiruk pikuk politik dan transisi birokrasi, denyut kebudayaan Nusa Tenggara Barat (NTB) tak sepenuhnya berhenti. Ia justru terus bergerak di lapisan paling dasar: akar rumput. Komunitas, seniman, dan pegiat budaya tetap bekerja dalam sunyi, sembari menunggu arah kebijakan yang lebih pasti dari para pemegang kewenangan.

Ketua Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) NTB, Prof. Abdul Wahid, menggambarkan situasi kebudayaan NTB hari ini dengan sebuah metafora yang jenaka sekaligus tajam.

“Di akar rumput tetap menggeliat, sementara birokratnya sedang atur posisi, semacam timeout dalam volley ball,” ujarnya pada Senin (26/01) lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah jeda yang, menurutnya, semestinya segera diakhiri dengan hadirnya “angin segar” bagi pemajuan kebudayaan.

Di balik jeda itu, Dewan Kebudayaan Daerah NTB tidak tinggal diam. Prof. Abdul Wahid menyebutkan bahwa pihaknya tengah memeriksa dan menghimpun data-data kebudayaan sebagai dasar penyusunan roadmap pemajuan kebudayaan.

Peta jalan ini tidak dimaksudkan sebagai dokumen administratif semata, melainkan sebagai panduan strategis jangka panjang.

“Adapun Dewan Kebudayaan Daerah sedang memeriksa data-data untuk mempersiapkan roadmap pemajuan kebudayaan 2026–2031,” kata Prof. Wahid.

Ia berharap, siapa pun “pemain” yang kelak mengisi posisi strategis dalam birokrasi, dapat menempatkan kebudayaan pada peran yang tepat dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Berugaq: Ruang Duduk, Ruang Hidup, Ruang Ingatan

Perbincangan mengenai rentang waktu roadmap pun mengemuka. Jika sebelumnya terdapat catatan bahwa peta jalan kebudayaan disusun untuk periode 2025–2029, Prof. Wahid meluruskan bahwa tahun 2025 sejatinya telah menjadi baseline.

“2025 kan sudah lewat. Tapi starting baseline-nya iya. Biar dipakai juga oleh siapa yang terpilih 2029,” ujarnya.

Dalam dinamika tersebut, terjadi pergeseran pemikiran yang justru memperkuat arah kebijakan kebudayaan. Prof. Wahid mengakui bahwa roadmap tidak harus kaku dalam lima tahunan.

“Sedikit bergeser. Maaf, 2026–2030. Bahkan bisa saja sampai 10 tahunan atau sampai Indonesia Emas,” ungkapnya.

Dewan Kebudayaan Daerah NTB tengah memeriksa dan menghimpun data-data kebudayaan sebagai dasar penyusunan roadmap pemajuan kebudayaan (Foto: ist)

Pandangan ini sejalan dengan gagasan bahwa kebudayaan membutuhkan kesinambungan lintas kepemimpinan. Sebab, pembangunan kebudayaan bukan proyek jangka pendek, melainkan proses panjang yang menuntut konsistensi dan pembaruan berkelanjutan.

“Kalau yang lima tahun itu baru satu etape saja,” tegas Prof. Wahid.

Secara garis besar, arah besar pemajuan kebudayaan NTB telah tergambar dalam tahapan peta jalan jangka panjang 2025–2045.

Tahap pertama, Fondasi (2025–2030), difokuskan pada pemetaan budaya NTB, pembangunan basis data kebudayaan, serta penguatan kelembagaan. Tahap ini menjadi pijakan awal agar kebijakan kebudayaan tidak berjalan tanpa data dan arah.

Tahap kedua, Konsolidasi (2030–2035), diarahkan pada revitalisasi objek pemajuan kebudayaan, integrasi kebudayaan dalam sistem pendidikan, serta penguatan komunitas budaya. Pada fase ini, kebudayaan diharapkan tidak hanya hidup di ruang ekspresi, tetapi juga tertanam dalam sistem sosial dan pendidikan.

Baca Juga :  Rahim Bambu dan Jejak Kelahiran: “Wet Tau” Karya Lanang Kusumajati di Pameran Belian

Selanjutnya, Tahap Akselerasi (2035–2040) menempatkan kebudayaan sebagai penggerak ekonomi dan diplomasi. Pengembangan industri kreatif berbasis budaya serta penyelenggaraan festival dan diplomasi budaya menjadi prioritas utama.

Puncaknya, Tahap Globalisasi Berbasis Lokal (2040–2045), menargetkan NTB sebagai pusat kebudayaan kawasan timur Indonesia. Pada fase ini, kebudayaan NTB diproyeksikan tampil dalam lanskap multikultural dan kosmopolitan, tanpa kehilangan akar lokalnya.

Meski demikian, Prof. Abdul Wahid menegaskan bahwa seluruh kerangka tersebut masih dalam tahap penggodokan.

“Ini masih penggodokan, data-data sedang mulai dihimpun, penarasian terhadap aspek-aspek yang ada, lalu nanti akan ada penentuan skala prioritas dan strategis,” ujarnya.

Di tengah masa jeda birokrasi, kebudayaan NTB berada pada persimpangan penting: antara stagnasi kebijakan dan peluang besar menuju masa depan.

Ketika akar rumput terus bergerak, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa kebijakan mampu menyusul langkah-langkah yang telah lebih dulu diayunkan oleh masyarakatnya.

Roadmap panjang inilah yang diharapkan menjadi jembatan antara keduanya agar kebudayaan NTB tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh dan mendunia. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:08 WITA

Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA