Kain Sensek Pujut: Jejak Tertua Tenun Sasak dan Dinamika Songket Rembitan

Jumat, 30 Januari 2026 - 10:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penamaan Kembang Komak cukup unik, semestinya motifnya, namun pada Kembang Komak tidak nampak motif bunga atau kembang, hanya berupa bentangan garis putih tegak-lurus, yang apabila bersinggungan membentuk bidang persegi (Foto: Pikong)

Penamaan Kembang Komak cukup unik, semestinya motifnya, namun pada Kembang Komak tidak nampak motif bunga atau kembang, hanya berupa bentangan garis putih tegak-lurus, yang apabila bersinggungan membentuk bidang persegi (Foto: Pikong)

CERAKEN.ID– Dalam Katalog Tenun Tradisional Lombok (Desember 2017, hlm. 11–22), Fitri Rachmawati dan kawan-kawan mencatat satu fakta penting dalam khazanah tekstil tradisional Lombok: masyarakat Sasak Pujut menyebut tenun dengan istilah kain sensek.

Istilah ini bukan sekadar penamaan, melainkan penanda identitas sekaligus jejak sejarah yang diyakini paling tua setidaknya di wilayah Kabupaten Lombok Tengah.

Meski belum ditemukan keterangan sejarah otentik yang dapat memastikan usia kain sensek Pujut, pengakuan lisan justru datang dari para penenun di sentra-sentra tenun lain di Lombok. Mereka tidak menampik bahwa tradisi sensek di wilayah masing-masing berakar dari Pujut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, sejumlah daerah dengan tegas menyebut kain sensek yang mereka kembangkan berasal dari Pujut. Dalam tradisi masyarakat Sasak, pengakuan kolektif semacam ini menjadi bagian penting dari sejarah kebudayaan.

Pujut dan Warisan Adat yang Dikenakan

Pujut, sebuah kecamatan di Lombok Tengah, masih memelihara adat istiadat yang hidup dan dipraktikkan hingga kini.

Pakaian adat, khususnya kain sensek, menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesi ritual. Baik laki-laki maupun perempuan Sasak Pujut hanya mengenakan motif dan jenis kain tertentu yang diwariskan turun-temurun.

Laki-laki Sasak Pujut, misalnya, mengenakan capu—ikat kepala hitam polos—dipadu selebet atau bebat pinggang dari kain songket bermotif Kembang Komak. Bawahan yang digunakan berupa kain belacu hitam polos.

Bagi laki-laki yang dianggap terpandang, ragam busana menjadi lebih variatif. Mereka dapat mengenakan baju pigon atau Godek Nungkek (istilah di luar Pujut), lalu menyelempangkan leang dari kain sensek bermotif Gedogan di bahu, atau mengenakan leang hingga dada, mirip kemben dengan bagian bawah berurai.

Baca Juga :  Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Kain tenun ikat ragi genap tidak dinamakan berdasarkan motif yang timbul di permukaan
kain tenun. Akan tetapi penamaan kain tenun ini berdasarkan kesan warna yang cukup meriah saja (Foto: Pikong)

Motif yang digunakan antara lain Kembang Komak, Ragi Genap Gedogan, hingga Selolot Gadung Batu, dilengkapi bawahan belacu bercorak.

Perempuan Sasak Pujut tampil lebih sederhana, namun sarat makna. Setelah mengenakan baju lambung hitam, baju pendek hingga sabuk anteng yang sekaligus menutupi perut, perempuan membebatkan kain sensek sebagai pengikat pinggang. Busana itu disempurnakan dengan tapo kemalo sebagai kain bawahan.

Motif dan jenis kain sensek tersebut dapat disebut sebagai ikon kain sensek Sasak, khususnya yang berkembang di wilayah Pujut. Identitas itu tetap bertahan meski dunia sensek mengalami pasang surut dalam perjalanannya. Khazanah budaya ini tidak mati, melainkan terus beradaptasi.

Sekitar lima hingga enam dasawarsa terakhir, kain sensek Pujut mengalami perkembangan signifikan. Motif-motif lama tetap dipelihara, mitos-mitos lama dihidupkan kembali, dan interaksi dengan dunia luar melahirkan inovasi baru setidaknya dalam penamaan motif.

Tradisi dan perubahan berjalan beriringan, membentuk wajah baru dunia sensek tanpa memutus akar budayanya.

Songket Rembitan dan Pariwisata Budaya

Salah satu denyut perkembangan itu tampak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut. Desa ini terdiri dari 21 dusun dengan jumlah penduduk lebih dari 9.000 jiwa (data pada 2017), yang mayoritas berprofesi sebagai petani, wiraswasta, dan perajin.

Dusun Sade, Rembitan I, Rembuk I, Rembuk II, dan Peluk dikenal sebagai sentra tenun utama.

Sebagai bagian dari kawasan pariwisata, Desa Rembitan melalui destinasi Desa Adat Sade membuka ruang bagi wisatawan untuk mengenal kearifan lokal tanpa harus menggerus budaya setempat.

Baca Juga :  Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang
Kembang Gerodak: tenun ini kerap digunakan untuk selimut, bebat pinggang dan bawahan untuk laki-laki maupun perempuan (Foto: Pikong)

Aktivitas menenun menjadi salah satu pintu masuk utama untuk memahami identitas masyarakat Sasak Pujut.

Di Dusun Rembitan  saja, lebih dari 20 jenis motif kain tenun diproduksi, baik motif lama maupun motif baru. Motif-motif lama antara lain Pendahulu, Kembang Komak, Tapo Kemalo, Ragi Genap, Selolot, Gunung Sari, Gedogan, dan Sabuk Anteng.

Sementara motif yang lahir kemudian mencakup Antap Odak, Gacuk Telu, Ragi Nyelili, Kelungkung, Panji Kediri, Udang Ruak, dan Kembang Gerodak.

Penamaan motif-motif tersebut tidak lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Banyak nama diambil dari citra visual atau warna benda-benda yang akrab dengan lingkungan sekitar.

Kembang Gerodak, misalnya, merujuk pada bunga perdu berwarna dominan merah muda. Antap Odak terinspirasi dari warna kacang-kacangan muda yang banyak ditanam di wilayah tadah hujan seperti Pujut. Udang Ruak menggambarkan warna udang kehijauan.

Sebagian nama lain berangkat dari peristiwa historis. Motif Kelungkung, misalnya, diambil dari nama wilayah di Bali. Ketika orang-orang Kelungkung datang ke Lombok dengan kain bermotif khas, masyarakat setempat kemudian menamai motif serupa dengan sebutan Kelungkung.

Sementara Ragi Genap dinamai demikian karena perpaduan warna benang yang dianggap lengkap, serasi, dan “genap” secara visual.

Dari kain sensek Pujut hingga songket Rembitan, tenun Sasak bukan sekadar produk kriya. Ia adalah arsip hidup tentang adat, lingkungan, sejarah perjumpaan, dan cara masyarakat membaca dunia di sekitarnya.

Dalam setiap helai benang, tersimpan ingatan kolektif yang terus ditenun dari generasi ke generasi. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:08 WITA

Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA