CERAKEN.ID– Pagi itu, pertanyaan sederhana mengalir seperti embun di pematang sawah: adakah persamaan antara menenun dan melukis? “Semangart pagi, Bli Sandi…”. Namun, dari jawaban yang menyusul, jelas bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar teknik, melainkan cara manusia membaca hidup, alam, dan dirinya sendiri melalui seni.
I Nyoman Sandiya, perupa yang kini menetap di Lombok dan tergabung dalam Mandalika Art Community, menyambut pertanyaan itu dengan ketenangan seorang seniman yang telah lama berdialog dengan garis dan warna.
Ia tidak tergesa memberi definisi, tetapi langsung menempatkan seni pada wilayah paling mendasar: unsur rupa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dari unsur rupa saja, garis menjadi bentuk, warna, komposisi, dan simbol-simbol,” ujarnya.
Di titik ini, tenun dan lukis bertemu. Keduanya sama-sama lahir dari bahasa visual yang sama: garis yang disusun, warna yang dipilih, komposisi yang ditata, serta simbol yang dimaknai. Namun, setelah pertemuan itu, keduanya berjalan pada jalur yang berbeda.
Tenun, menurut Sandiya, adalah seni pakai. Ia dapat direproduksi, diulang, dan diwariskan dalam pola-pola yang relatif ajeg.
Reproduksi bukan kelemahan, melainkan justru kekuatan tenun sebagai seni tradisional yang hidup dalam adat dan budaya. Sebuah kain tenun bukan hanya objek estetik, tetapi juga medium sosial: dipakai dalam ritus, upacara, dan keseharian masyarakat.
Sebaliknya, seni lukis adalah seni murni. Ia mewakili jiwa dan perasaan senimannya. Lukisan, dalam pengertian ini, tidak untuk direproduksi. Setiap karya adalah peristiwa tunggal, lahir dari pengalaman batin yang spesifik, dari endapan rasa yang tidak mungkin sepenuhnya diulang.
Perbedaan ini membawa kita pada cara kerja yang berlainan. Dalam tenun, proses dimulai dari ide, lalu desain, baru produksi. Ada sistem, ada keteraturan, ada kesinambungan pola.

Dalam seni lukis, prosesnya lebih cair. Ide bisa datang dari pengendapan perasaan atau jiwa. Sketsa boleh ada, boleh tidak. Ketika dituangkan ke media, karya masih bisa diubah, ditambah atau dikurangi, sampai rasa itu dianggap selesai.
“Kalau belum sesuai rasa, boleh ditambah atau dikurangi,” kata Sandiya.
Kalimat ini sederhana, tetapi memuat filsafat berkesenian yang dalam: seni lukis memberi ruang dialog terus-menerus antara seniman dan karyanya. Tidak ada titik henti yang mutlak, selain keputusan batin sang perupa.
Pengalaman panjang itu pula yang membawa Sandiya pada tahap yang lebih jauh: penelitian bentuk. Ia tidak hanya melukis apa yang dilihat mata, tetapi menelaah bagaimana kehidupan bergerak di sekitarnya.
Ketika diminta mengelaborasi hasil penelitiannya, ia membawa kita ke ruang yang sangat akrab dengan kehidupan agraris Lombok dan Bali: sawah.
Ia meneliti gerak dan bentuk kehidupan lingkungan, khususnya di sawah. Air yang mengalir di petak-petak tanah, rumput liar dan berbagai tanaman gulma, binatang sawah yang muncul dan menghilang, hingga siklus padi dari awal hingga akhir.
Padi ditabur, tumbuh, “hamil”, kosong, berisi, dipanen, lalu sawah memasuki fase pascapanen. Semua fase itu bukan sekadar proses biologis, tetapi rangkaian gerak dan bentuk yang sarat makna.
Dalam pengamatan Sandiya, sawah adalah panggung kehidupan. Di sana, garis-garis air membentuk irama, warna hijau berubah menjadi kuning, tekstur lumpur dan batang padi menciptakan komposisi alami yang terus berubah.
Ia menangkap semua itu, lalu menyelaraskannya dengan jiwa. Bentuk yang ditangkap mata harus bertemu dengan rasa yang diolah batin.

“Intinya kita selaraskan bentuk yang kita tangkap dengan jiwa,” ujarnya, “kita sesuaikan dengan tema atau ide yang akan kita buat.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa seni, bagi Sandiya, bukan sekadar representasi visual, melainkan proses penyatuan antara luar dan dalam, antara alam dan batin seniman.
Pendekatan semacam ini tidak lahir begitu saja. I Nyoman Sandiya adalah alumni IKIP Yogyakarta, sebuah institusi yang melahirkan banyak pendidik dan seniman.
Di sana, ia berguru kepada almarhum Amri Yahya, maestro seni grafis Indonesia yang dikenal dengan kedisiplinan teknik dan kedalaman konsep. Jejak pendidikan itu tampak dalam cara Sandiya berbicara tentang seni: sistematis, reflektif, dan berakar pada pengalaman langsung.
Kini, ia menetap di Lombok, dengan Studio Alam Bangket Gunung Pengsong sebagai ruang berkarya. Nama studio itu sendiri seolah merangkum semangatnya: alam sebagai laboratorium, gunung dan sawah sebagai guru, dan seni sebagai cara memahami kehidupan.
Di tengah geliat pariwisata dan modernisasi Lombok, kehadiran studio semacam ini menjadi penanda penting bahwa seni rupa masih memiliki ruang untuk berpijak pada alam dan tradisi.
Percakapan tentang tenun dan lukis bersama Sandiya, pada akhirnya, membuka cakrawala yang lebih luas. Tenun dan lukis bukan dua dunia yang saling meniadakan, melainkan dua cara berbeda dalam membaca dan merespons kehidupan.
Tenun menjaga kesinambungan tradisi, melukis merawat kebebasan ekspresi. Keduanya sama-sama lahir dari garis, warna, dan komposisi, tetapi bergerak dengan ritme dan tujuan yang berbeda.
Di tangan seniman seperti I Nyoman Sandiya, perbedaan itu tidak menjadi jurang, melainkan jembatan. Ia menunjukkan bahwa seni, apapun medianya, selalu berangkat dari kepekaan melihat, kesabaran meneliti, dan keberanian menyelaraskan bentuk dengan jiwa.
Dari sawah yang basah hingga kanvas yang kering, dari benang tenun hingga sapuan kuas, seni adalah upaya manusia untuk memahami hidup, setahap demi setahap, sehelai demi sehelai, dan segores demi segores. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































