Masa Depan Ritus Kebangru’an

Sabtu, 31 Januari 2026 - 09:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ritus kebangru’an lahir dari kebutuhan masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam (Foto: ist)

Ritus kebangru’an lahir dari kebutuhan masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam (Foto: ist)

CERAKEN.ID– Ritus kebangru’an merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Sasak yang tumbuh dan berkembang di Lombok Timur. Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual tradisional, tetapi juga mengandung makna spiritual, sosial, dan ekologis yang mendalam.

Dalam ritus kebangru’an, masyarakat mempraktikkan nilai-nilai seperti kepedulian, gotong royong, dan kontemplasi hidup. Semua nilai tersebut lahir dari kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Namun, seiring derasnya arus globalisasi dan modernitas, ritus kebangru’an menghadapi berbagai tantangan serius. Perubahan pola pikir masyarakat, pengaruh budaya luar, serta menurunnya minat generasi muda terhadap tradisi lokal menjadi ancaman nyata terhadap keberlanjutan ritus ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Yuga Anggana, menyebut bahwa kearifan lokal merupakan kekayaan budaya bangsa yang mengandung kebijaksanaan hidup dan pandangan hidup. Ia menekankan bahwa kearifan lokal bersifat lintas budaya, mampu memperkuat integrasi sosial, dan menjadi fondasi moral kehidupan bangsa.

Ritus kebangru’an lahir dari kebutuhan masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Dalam konteks budaya Sasak, ritus ini merupakan wujud rasa syukur terhadap karunia Tuhan sekaligus bentuk pengakuan terhadap keterhubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Biasanya, ritus ini dilakukan di sekitar mata air atau tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti Mualan Benyer di Lombok Timur.

Dalam ritus kebangru’an, masyarakat berkumpul untuk melakukan serangkaian doa, persembahan simbolik, dan kegiatan sosial. Semua ini menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang diwariskan oleh leluhur. Tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga nilai ekologis karena mengajarkan pentingnya menjaga sumber air dan alam sekitar sebagai sumber kehidupan.

Ritus kebangru’an juga mencerminkan filosofi hidup masyarakat Sasak yang menjunjung tinggi nilai harmoni. Dalam setiap tahap pelaksanaan, masyarakat terlibat aktif—baik secara spiritual maupun sosial.

Anak-anak, remaja, dan orang tua memiliki peran masing-masing yang mengajarkan tentang tanggung jawab, kesetiaan pada tradisi, serta pentingnya kebersamaan. Nilai-nilai tersebut tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menjadi pedoman hidup sehari-hari yang memperkuat ikatan sosial masyarakat.

Dalam dimensi filosofis, ritus kebangru’an mengandung ajaran tentang keseimbangan kosmos. Manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari ekosistem kehidupan. Air, tanah, udara, dan tumbuhan dipandang sebagai elemen yang memiliki roh kehidupan.

Melalui ritus kebangru’an, masyarakat belajar menghormati alam dengan cara merawat sumber air, membersihkan lingkungan, dan menanam pohon di sekitar mata air.

Pelestarian ritus kebangru’an tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal (Foto: ist)

Selain itu, ritus kebangru’an juga mengandung nilai sosial yang kuat. Gotong royong menjadi landasan utama dalam setiap pelaksanaan ritus. Semua warga desa terlibat tanpa memandang status sosial atau ekonomi. Aktivitas bersama ini memperkuat solidaritas dan rasa memiliki terhadap komunitas.

Nilai spiritual juga menonjol, karena dalam ritus ini masyarakat diajak untuk berdoa, merenung, dan mengingat keterbatasan manusia di hadapan kekuasaan Ilahi.

Ritus kebangru’an bukan hanya ritual, tetapi juga media pendidikan moral. Generasi muda yang terlibat di dalamnya belajar tentang etika sosial, penghormatan kepada leluhur, serta pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia dan lingkungan.

Baca Juga :  Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Tantangan Modernitas dan Krisis Identitas Budaya

Yuga Anggana menyoroti bahwa globalisasi telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap tradisi. Nilai-nilai lokal mulai tergeser oleh budaya global yang cenderung materialistik dan individualistik. Bagi sebagian masyarakat modern, ritus kebangru’an dianggap tidak relevan dengan kehidupan yang serba cepat dan pragmatis.

Generasi muda menjadi kelompok paling rentan terhadap perubahan ini. Mereka tumbuh dengan teknologi, hiburan digital, dan gaya hidup urban yang membuat tradisi lokal terasa jauh dan asing. Krisis identitas budaya pun muncul ketika generasi muda lebih mengenal budaya global daripada budaya sendiri. Akibatnya, terjadi keterputusan pengetahuan budaya antara generasi tua dan generasi muda.

Dalam situasi ini, ritus kebangru’an berpotensi kehilangan maknanya jika tidak segera direvitalisasi. Tanpa regenerasi yang kuat, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan memudar dan hanya tersisa dalam ingatan para tetua desa. Maka dari itu, perlu adanya pendekatan baru yang dapat menjembatani antara tradisi dan modernitas agar ritus kebangru’an tetap relevan.

Selain tantangan modernitas, ritus kebangru’an juga menghadapi tekanan dari sebagian kelompok agama yang memandang praktik tradisi ini sebagai bentuk penyimpangan dari ajaran murni. Kelompok puritan berpendapat bahwa ritual seperti kebangru’an mengandung unsur animisme dan syirik, karena melibatkan persembahan simbolik di mata air yang dianggap memiliki kekuatan spiritual.

Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Nilai-nilai moral dan spiritual dalam ritus kebangru’an sejatinya sejalan dengan ajaran Islam. Tradisi ini mengajarkan syukur atas nikmat Tuhan, kesederhanaan, dan pentingnya menjaga alam ciptaan-Nya. Dalam konteks budaya lokal, ritus kebangru’an merupakan bentuk ekspresi religius masyarakat yang memperkaya praktik keislaman dengan nilai-nilai lokal tanpa menyalahi akidah.

Dialog antara tokoh agama dan tokoh adat menjadi penting untuk membangun pemahaman bersama bahwa budaya dan agama tidak harus saling meniadakan. Keduanya bisa berjalan seiring, saling memperkuat dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.

Generasi muda yang terlibat di dalamnya belajar tentang etika sosial, penghormatan kepada leluhur, serta pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia dan lingkungan (Foto: ist)

Selain dua tantangan di atas, muncul pula ancaman dari kelompok pragmatis yang melihat ritus kebangru’an dari sisi ekonomi semata. Ketika mata air Mualan Benyer mulai dipromosikan sebagai destinasi wisata, muncul kekhawatiran bahwa ritus kebangru’an akan direduksi menjadi sekadar atraksi budaya. Tradisi yang sakral berisiko kehilangan makna ketika dijadikan tontonan bagi wisatawan.

Komersialisasi budaya, bila tidak dikelola dengan hati-hati, dapat mengubah ritus yang penuh makna menjadi aktivitas permukaan yang hanya menonjolkan aspek estetika. Padahal, kekuatan utama ritus kebangru’an terletak pada kedalaman spiritual dan kesadaran ekologisnya. Oleh karena itu, perlu ada batas yang jelas antara pelestarian budaya dan eksploitasi ekonomi. Budaya boleh dikembangkan untuk pariwisata, tetapi nilai sakralnya tidak boleh dikorbankan.

Peran Akademisi, Pemerintah, dan Masyarakat Lokal

Pelestarian ritus kebangru’an tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal. Akademisi memiliki peran penting dalam meneliti, mendokumentasikan, dan menginterpretasikan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ritus kebangru’an. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar kebijakan pelestarian budaya.

Baca Juga :  Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Pemerintah daerah perlu menyediakan dukungan kebijakan dan pendanaan agar tradisi seperti kebangru’an tidak hanya menjadi acara seremonial tahunan, tetapi menjadi kegiatan edukatif dan inspiratif. Program-program kebudayaan di sekolah dapat dijadikan sarana untuk mengenalkan nilai-nilai kebangru’an kepada generasi muda.

Sementara itu, masyarakat lokal menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian tradisi. Tanpa keterlibatan aktif mereka, segala bentuk kebijakan pelestarian hanya akan menjadi formalitas. Masyarakat perlu terus merawat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan spiritualitas yang menjadi inti dari ritus kebangru’an.

Untuk menjaga keberlanjutan ritus kebangru’an, diperlukan strategi pelestarian yang adaptif dan kreatif. Salah satu langkah penting adalah dokumentasi dan digitalisasi tradisi. Dengan merekam dan menyebarkan informasi tentang ritus kebangru’an melalui media digital, generasi muda dapat lebih mudah mengakses dan memahami tradisi ini.

Selain itu, pengintegrasian nilai-nilai kebangru’an ke dalam kurikulum lokal sangat penting. Sekolah-sekolah di Lombok Timur dapat memasukkan materi tentang ritus kebangru’an dalam pelajaran muatan lokal atau kegiatan ekstrakurikuler. Dengan cara ini, anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran terhadap budaya mereka sendiri.

Inovasi juga dapat dilakukan melalui seni pertunjukan, film dokumenter, dan festival budaya. Dengan tetap menjaga kesakralan ritus utama, bentuk-bentuk kreatif ini dapat menjadi jembatan antara tradisi dan dunia modern. Hal ini akan membantu ritus kebangru’an tetap hidup tanpa kehilangan ruhnya.

Masa depan ritus kebangru’an sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat Sasak dalam menjaga identitas budaya mereka. Jika generasi muda mampu memaknai kembali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, maka tradisi ini tidak akan punah. Sebaliknya, ia akan berkembang menjadi simbol kebangkitan budaya lokal yang relevan dengan zaman.

Dalam konteks global, ritus kebangru’an dapat menjadi contoh praktik budaya yang berorientasi pada pelestarian lingkungan dan spiritualitas. Pesan moral tentang keseimbangan antara manusia dan alam sangat relevan di tengah krisis ekologi dunia saat ini. Dengan demikian, ritus kebangru’an tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya lokal, tetapi juga sebagai kontribusi global terhadap gerakan menjaga bumi.

Ritus kebangru’an adalah warisan luhur masyarakat Sasak yang mengajarkan keseimbangan, kesadaran spiritual, dan solidaritas sosial. Namun, keberlanjutannya tengah menghadapi tantangan serius dari modernitas, fanatisme keagamaan, dan pragmatisme ekonomi. Karena itu, dibutuhkan upaya kolektif untuk menjaga agar tradisi ini tidak tercerabut dari akar budayanya.

Pelestarian ritus kebangru’an bukan hanya tentang mempertahankan masa lalu, melainkan juga tentang membangun masa depan yang berakar pada kebijaksanaan lokal. Jika nilai-nilai luhur dalam tradisi ini dapat diintegrasikan ke dalam kehidupan modern, maka ritus kebangru’an akan tetap hidup—bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi sebagai sumber inspirasi moral dan spiritual bagi generasi mendatang. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:08 WITA

Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA