Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman

Sabtu, 31 Januari 2026 - 10:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subhanale Tenun ini diperuntukan untuk bebat pinggang dan leang untuk laki-laki dan bawahan perempuan (Foto: Pikong)

Subhanale Tenun ini diperuntukan untuk bebat pinggang dan leang untuk laki-laki dan bawahan perempuan (Foto: Pikong)

CERAKEN.ID– Seperti halnya sentra-sentra kerajinan tenun lain di Pulau Lombok, Desa Batujai menyimpan jejak panjang tradisi menenun yang berakar dari kebutuhan paling dasar manusia: sandang.

Catatan Fitri Rachmawati dkk dalam Katalog Tenun Tradisional Lombok (Desember 2017, hlm. 23–31) menyebutkan bahwa pada mulanya aktivitas menenun di Batujai sepenuhnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pakaian masyarakat setempat.

Kain yang dihasilkan pun sangat sederhana, didominasi warna hitam, sebagaimana lazim dijumpai di desa-desa lain di Lombok pada fase awal perkembangan tenun tradisional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada masa itu, kemandirian produksi menjadi ciri utama masyarakat Batujai. Bahan baku tenun tidak bergantung pada pasokan luar. Kapas ditanam di pematang-pematang sawah, dipetik saat panen, lalu dipintal secara manual menjadi benang.

Di rumah-rumah warga, kegiatan memintal kapas dan menenun kain menjadi pemandangan sehari-hari yang nyaris tak terpisahkan dari ritme hidup desa.

Perempuan-perempuan duduk bersila di berugak atau di teras rumah, menggerakkan alat tenun gedogan dengan ketekunan yang diwariskan lintas generasi.

Tradisi ini tumbuh dan bertahan di tengah kehidupan sosial Desa Batujai yang relatif heterogen. Berdasarkan data tahun 2017, desa ini dihuni lebih dari 15 ribu jiwa yang tersebar di 15 dusun.

Mata pencaharian penduduknya pun beragam, mulai dari petani, buruh tani, peternak, pedagang, hingga pegawai negeri sipil. Namun, di antara ragam profesi tersebut, menenun menempati posisi yang istimewa.

Diperkirakan sekitar 2.500 warga Batujai berprofesi sebagai penenun. Angka ini menunjukkan betapa kuatnya tenun sebagai tulang punggung ekonomi rumah tangga di desa tersebut.

Kabut. Tenun ini diperuntukan untuk bebat pinggang dan leang untuk laki-laki dan bawahan perempuan (Foto:Pikong)

Dari 15 dusun yang ada, beberapa di antaranya dikenal sebagai pusat aktivitas menenun, seperti Dusun Batu Beduk, Penyeling, Mengelong, Keluke, Sorak, dan Bun Klotok.

Baca Juga :  Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Di dusun-dusun inilah suara kayu alat tenun beradu dengan benang masih kerap terdengar, menandai keberlanjutan tradisi yang belum sepenuhnya ditinggalkan.

Namun, Batujai hari ini tidak lagi sepenuhnya sama dengan Batujai beberapa dekade lalu. Lahan pertanian warga kian menyempit seiring masifnya pembangunan bangunan baru, terutama karena posisi strategis desa ini yang berada di kawasan Bandara Internasional Lombok (BIL).

Alih fungsi lahan tak terelakkan, dan pertanian sebagai sumber penghidupan utama perlahan kehilangan daya dukungnya.

Dalam konteks ini, menenun yang sebelumnya hanya diposisikan sebagai profesi alternatif justru memiliki peluang besar untuk menjadi profesi utama masyarakat Batujai.

Hasil ekonomi dari menenun dinilai lebih menjanjikan dibandingkan hasil pertanian, terlebih jika didukung oleh akses pasar yang lebih luas dan pengelolaan yang profesional.

Kedekatan geografis dengan kawasan bandara memberi keuntungan strategis dalam hal distribusi dan pemasaran produk tenun.

Meski demikian, peluang tersebut tidak datang tanpa prasyarat. Sebelum menenun benar-benar menjadi sektor unggulan, diperlukan persiapan yang matang, terutama dalam hal manajemen produksi dan pemasaran.

Tanpa penguatan kapasitas di dua aspek ini, tradisi menenun berisiko stagnan atau bahkan tergerus oleh produk tekstil modern yang lebih murah dan cepat diproduksi.

Alang. Tenun ini diperuntukan untuk bebat pinggang dan leang untuk laki-laki dan bawahan perempuan (Foto: Pikong)

Keberlanjutan tradisi menenun di Batujai juga tidak bisa dilepaskan dari konteks wilayah sekitarnya.

Di bagian barat daya desa ini, sejumlah dusun berbatasan langsung dengan Desa Sukarare, salah satu sentra tenun Lombok yang telah lebih dahulu dikenal luas, termasuk di tingkat nasional dan internasional.

Persinggungan geografis ini membawa pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan tenun Batujai.

Kesamaan alat, bahan, motif, dan teknik produksi menjadi bukti nyata adanya pertukaran pengetahuan dan tradisi antara Batujai dan Sukarare. Motif-motif yang diproduksi di Batujai kerap menunjukkan kemiripan dengan tenun Sukarare, baik dari segi komposisi warna maupun struktur ragam hias.

Baca Juga :  Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB

Hubungan ini tidak bersifat satu arah, melainkan membentuk jejaring budaya yang saling menguatkan di antara desa-desa penenun.

Tak hanya dengan Sukarare, produksi tenun Batujai juga memiliki irisan kuat dengan tradisi menenun di Desa Rembitan. Di tiga desa sentra tenun ini, Batujai, Sukarare, dan Rembitan, dapat ditemukan motif-motif pokok tenun Lombok yang menjadi penanda identitas kultural Pulau Seribu Masjid.

Motif seperti kembang komak, ragi genap, tapo kemalo, anteng selolot, dan gedogan hadir sebagai pola dasar yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Motif-motif tersebut bukan sekadar hiasan visual, melainkan menyimpan makna simbolik yang terkait dengan alam, siklus hidup, dan pandangan kosmologis masyarakat Sasak.

Dalam setiap helai kain, tersimpan narasi tentang ketekunan, kesabaran, serta hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Di tengah arus modernisasi dan pembangunan yang terus bergerak, Desa Batujai kini berada di persimpangan zaman. Di satu sisi, perubahan membuka peluang ekonomi baru; di sisi lain, ia menghadirkan tantangan serius bagi keberlanjutan tradisi.

Menenun di Batujai bukan hanya soal menghasilkan kain, tetapi juga tentang menjaga identitas, memelihara ingatan kolektif, dan merawat pengetahuan lokal yang telah teruji oleh waktu.

Jika dikelola dengan visi yang tepat, tenun Batujai berpotensi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan ekonomi dan kebudayaan.

Tradisi yang dahulu lahir dari kebutuhan sandang kini berpeluang menjadi simbol kemandirian dan kebanggaan Masyarakat, menenun masa depan tanpa melepaskan benang-benang sejarahnya. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat
Tentang Igelan Jaran Endut
Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB
Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia
Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026
Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional
“Aklammang” di Desa Lantang, Jejak Persatuan dalam Filosofi Akbulo Sibatang
MANDAT BAYAN: Tonggak Baru Kedaulatan Masyarakat Adat di Lombok Utara

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30 WITA

Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:58 WITA

Tentang Igelan Jaran Endut

Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:41 WITA

Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:26 WITA

Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia

Rabu, 13 Mei 2026 - 23:01 WITA

Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA