CERAKEN.ID– Pertanyaan sederhana namun mendesak kini mengemuka di banyak kota berkembang: apa yang harus dilakukan ketika Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah penuh?
Situasi ini bukan lagi ancaman masa depan, tetapi realitas yang sedang dihadapi berbagai daerah, termasuk Kota Mataram.
Gunungan sampah yang terus bertambah, keterbatasan lahan, dan pola konsumsi masyarakat yang berubah cepat membuat sistem lama pengelolaan sampah kian kewalahan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kondisi tersebut, Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi diselesaikan secara parsial.
Sampah bukan sekadar urusan dinas kebersihan atau OPD teknis. Ia adalah persoalan budaya, kebiasaan, dan sistem hidup perkotaan.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya dan melibatkan semua pihak. Dengan Tempah Dedoro, kita mendorong sistem pengelolaan yang lebih terukur, berkelanjutan, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tegas Mohan, 27 Januari 2026 lalu.
Pernyataan ini menjadi penanda perubahan pendekatan: dari mengangkut sampah sebanyak mungkin ke TPA, menjadi mengurangi sampah sebanyak mungkin sebelum sampai ke sana.
Kota modern menghasilkan sampah setiap detik. Rumah tangga, pasar, restoran, sekolah, perkantoran, hingga pusat perbelanjaan semuanya menyumbang timbulan sampah harian.
Masalahnya bukan hanya jumlah, tetapi komposisi sampah yang didominasi limbah organik rumah tangga.
Sisa makanan, kulit buah, dedaunan, dan limbah dapur sering kali bercampur dengan plastik dan sampah lain, lalu semuanya dibuang ke TPS hingga akhirnya berakhir di TPA. Padahal, sebagian besar sampah tersebut sebenarnya bisa diolah kembali.
Kondisi TPA yang penuh membawa dampak serius. Bau menyengat, potensi pencemaran air tanah, pelepasan gas metana, serta konflik sosial di sekitar lokasi TPA menjadi persoalan yang tak bisa dianggap sepele.
Ketika TPA sudah hampir tidak mampu menampung, biaya operasional pengangkutan meningkat, jarak pembuangan makin jauh, dan beban anggaran daerah ikut membengkak.
Karena itu, solusi tidak lagi bisa bertumpu pada memperluas TPA. Kota harus mengurangi sampah sebelum sampai ke sana.
Di sinilah inovasi lokal menjadi penting.
Tempah Dedoro: Solusi dari Permukiman
Pemerintah Kota Mataram menghadirkan inovasi yang disebut Tempah Dedoro, sebuah metode pengolahan sampah organik mandiri di tingkat lingkungan. Konsepnya sederhana namun strategis: sampah diolah langsung di sumbernya.
Tempah Dedoro berupa lubang buis beton yang ditanam di tanah, dilengkapi penutup, dan ditempatkan di kawasan permukiman, sekolah, maupun perkantoran. Sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan dimasukkan ke dalamnya, lalu secara alami mengalami proses dekomposisi.
Untuk mempercepat proses penguraian, warga dapat menambahkan cairan pengurai atau bahkan air cucian beras. Dalam rentang waktu enam hingga dua belas bulan, sampah tersebut berubah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.
Biaya pembuatannya relatif murah, hanya berkisar ratusan ribu rupiah. Satu unit bahkan bisa digunakan oleh tiga hingga empat kepala keluarga sekaligus. Dengan cara ini, residu sampah organik yang biasanya memenuhi TPS dapat dikurangi secara signifikan.
Program ini merupakan pengembangan dari konsep lubang biopori atau gumbleng dalam skala lebih besar, disesuaikan dengan kebutuhan kawasan perkotaan yang padat. Selain ramah lingkungan, metode ini juga relatif mudah diterapkan masyarakat.
Lebih dari sekadar teknologi, Tempah Dedoro menjadi cara baru memandang sampah: bukan sebagai beban, tetapi sumber daya.
Efektivitas Tempah Dedoro bukan sekadar konsep di atas kertas. Awal Januari 2026, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, menyampaikan hasil uji coba di Lingkungan Marong Karang Tatah yang telah berjalan selama dua bulan terakhir.
Sebanyak 25 unit Tempah Dedoro dibangun di lingkungan tersebut. Hasil evaluasi menunjukkan perubahan nyata pada volume sampah yang dibuang ke TPS.
Sebelumnya, volume sampah harian mencapai sekitar 180 kilogram. Setelah program berjalan, sampah yang berakhir di TPS tinggal 80 kilogram per hari. Artinya, sekitar 100 kilogram sampah organik telah diolah langsung oleh warga menjadi pupuk.
Pengurangan hampir separuh volume sampah ini menunjukkan bahwa persoalan TPA sebenarnya bisa diatasi jika pengelolaan dilakukan sejak dari rumah tangga.
“Pupuk organik yang dihasilkan warga dapat dimanfaatkan untuk memberi nutrisi pada tanaman di pekarangan rumah warga,” jelas Nizar.
Selain mengurangi sampah, program ini memberi manfaat tambahan berupa pupuk alami untuk kebun dan tanaman warga. Lingkungan menjadi lebih hijau, biaya pembelian pupuk dapat ditekan, dan masyarakat semakin sadar akan nilai sampah organik.
Mengubah Kebiasaan, Bukan Hanya Sistem
Namun tantangan terbesar bukanlah teknologi, melainkan perubahan perilaku. Banyak program pengelolaan sampah gagal bukan karena alatnya kurang baik, tetapi karena partisipasi masyarakat rendah.
Budaya membuang sampah tanpa memilah masih cukup kuat. Banyak warga menganggap bahwa tugas mereka selesai setelah sampah diletakkan di depan rumah untuk diangkut petugas. Padahal, pengelolaan sampah modern menuntut keterlibatan semua pihak.
Tempah Dedoro mengajak masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri. Konsep ini memperkuat kembali nilai gotong royong di lingkungan permukiman.
Jika setiap lingkungan memiliki fasilitas pengolahan sampah organik, maka beban pengangkutan sampah kota akan berkurang drastis. Armada pengangkut tidak perlu bekerja terlalu berat, biaya operasional dapat ditekan, dan umur TPA bisa diperpanjang.
Dengan kata lain, solusi sampah bukan hanya teknis, tetapi juga sosial.
Meski hasil uji coba menjanjikan, penerapan Tempah Dedoro secara luas tetap menghadapi tantangan.
Tidak semua kawasan memiliki lahan cukup untuk menanam buis beton. Sebagian warga mungkin masih ragu terhadap sistem baru, atau khawatir soal bau dan perawatan.
Selain itu, keberlanjutan program membutuhkan pendampingan, edukasi, dan pengawasan agar fasilitas tidak terbengkalai setelah dibangun. Tanpa komitmen bersama, inovasi hanya menjadi proyek sesaat.
Pemerintah kota perlu memastikan bahwa program ini disertai kampanye edukasi berkelanjutan di sekolah, lingkungan, dan komunitas. Peran kepala lingkungan, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal menjadi kunci keberhasilan.
Momentum Mengubah Kota
Kondisi TPA yang semakin penuh sebenarnya dapat menjadi momentum perubahan. Krisis sering kali memaksa manusia menemukan cara baru yang lebih bijak.
Tempah Dedoro menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus mahal atau rumit. Kadang, solusi terbaik justru lahir dari pendekatan sederhana yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Jika setiap lingkungan mampu mengurangi sampah organiknya, maka ratusan ton sampah harian kota dapat ditekan secara signifikan.
Kota menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman, sebagaimana tujuan yang dicanangkan Pemerintah Kota Mataram.
Pertanyaan awal kini menemukan jawabannya: ketika TPA penuh, yang harus dilakukan bukan hanya mencari tempat pembuangan baru, tetapi mengubah cara kita memperlakukan sampah.
Dan perubahan itu dimulai dari rumah, dari dapur, dari lingkungan terdekat.
Karena kota yang bersih bukan hanya hasil kerja pemerintah, tetapi hasil kesadaran warganya. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































