Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karya lukis Dek Mahendra. Bentang alam yang tenang, dengan sapuan warna lembut namun terang (Foto/Screeshoot: aks)

Karya lukis Dek Mahendra. Bentang alam yang tenang, dengan sapuan warna lembut namun terang (Foto/Screeshoot: aks)

CERAKEN.ID– Di tengah derasnya arus visual media sosial, sesekali muncul karya yang membuat orang berhenti menggulir layar.

Mata tertahan, napas terasa melambat, dan suasana hati seperti disentuh kesejukan yang sederhana. Itulah yang terjadi ketika perupa Dek Mahendra mengunggah lukisan lanskap terbarunya, sebuah karya cat air di atas kertas berukuran 30 x 40 sentimeter.

Lukisan itu menampilkan bentang alam yang tenang, dengan sapuan warna lembut namun terang. Gradasi langit, siluet pepohonan, serta kehadiran burung-burung yang terbang di kejauhan membangun suasana yang terasa hidup sekaligus damai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak ada keramaian, tidak ada dramatisasi. Yang ada hanya kesunyian yang hangat, seperti sore hari yang pelan-pelan turun tanpa ingin mengganggu siapa pun.

Mahendra sendiri menggambarkan perasaan yang ingin ia hadirkan lewat karya itu sebagai sesuatu yang damai, segar, dan alami. Warna-warna cerah dipilih, tetapi tetap dijaga agar tidak kehilangan kesan natural.

“Kehadiran burung-burung di langit menambah dimensi naratif, seolah-olah penonton sedang diajak melihat dunia yang sedang bernapas,” tulisnya dalam unggahan tersebut.

Hal ini pun memantik sebuah percakapan yang kesannya sederhana namun tepat sasaran. Bahwa lukisan itu terasa menyejukkan, terlebih dengan goresan warna kecoklatan yang membuat lanskap tampak hidup, seakan memiliki napas sendiri.

Baca Juga :  Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Mahendra menjawab singkat, penuh kerendahan hati, “Terimakasih…”

Namun percakapan kemudian bergerak ke sesuatu yang lebih dalam. Ada pertanyaan lanjutan, apakah Mahendra masih setia dengan konsep “tapak dara” yang selama ini dikenal melekat dalam perjalanan artistiknya.

Jawaban Mahendra membuka kembali pintu menuju dunia filosofis yang selama ini menjadi fondasi karyanya.

Menurutnya, konsep tapak dara tidak pernah ia tinggalkan. Sejak awal berkarya, simbol ini menjadi ruh yang terus hadir, baik secara eksplisit maupun tersirat.

Tapak dara, dalam pemahaman Mahendra, bukan sekadar tanda tambah atau persilangan garis sederhana. Ia memaknainya sebagai pertemuan berbagai dimensi kehidupan dan kesadaran manusia.

Garis vertikal ke atas, menurutnya, melambangkan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa, sebuah perjalanan spiritual yang kerap hadir dalam karya-karyanya.

Garis vertikal ke bawah menggambarkan alam bawah sadar, wilayah batin yang sering menjadi sumber lahirnya gagasan dan ekspresi artistik.

Sementara garis horizontal melambangkan kehidupan di muka bumi: relasi antara manusia dan alam, ruang tempat segala dinamika berlangsung.

Simbol sederhana itu, kata Mahendra, bahkan berkaitan dengan dasar bentuk swastika dalam tradisi Hindu, dengan perputaran searah jarum jam yang memiliki makna kosmis tentang pergerakan dan keseimbangan kehidupan.

Baca Juga :  Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Ia menambahkan, konsep tapak dara juga hadir dalam tubuh manusia sendiri. Saat seseorang merentangkan kedua tangan, jarak dari ujung jari tengah kiri ke ujung jari tengah kanan pada umumnya sebanding dengan tinggi badan seseorang.

Persilangan proporsi itu, bagi Mahendra, merupakan refleksi bahwa manusia sendiri adalah pertemuan garis-garis kehidupan tersebut.

Namun, dengan rendah hati ia mengakui bahwa makna tapak dara jauh lebih kompleks daripada yang bisa diuraikannya.

“Kalau bicara arti tapak dara sangat kompleks. Ini hanya pemikiran keterbatasan pengetahuan saya,” ujarnya.

Di titik inilah, lukisan lanskap yang tampak sederhana itu menemukan kedalamannya. Apa yang terlihat hanya sebagai pemandangan alam ternyata menyimpan perjalanan panjang seorang seniman dalam merumuskan hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Karya Mahendra tidak berteriak. Ia tidak memaksa penonton untuk memahami konsepnya. Lukisannya justru mengajak siapa pun berhenti sejenak, merasakan ketenangan, lalu perlahan menemukan maknanya sendiri.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, mungkin justru itulah yang paling dibutuhkan: ruang untuk bernapas, seperti langit dalam lukisan itu dan dunia yang, meminjam kata Mahendra, sedang bernapas pelan di hadapan kita. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman
Masa Depan Ritus Kebangru’an

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Senin, 2 Februari 2026 - 19:14 WITA

Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA