Nyiwaq: Jejak Doa dan Ingatan dalam Tradisi Kematian Masyarakat Sasak

Selasa, 17 Februari 2026 - 11:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Koleksi Museum NTB". Nyiwaq tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga cermin cara masyarakat memahami kehidupan itu sendiri (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Upacara kematian merupakan salah satu rangkaian penting dalam daur hidup masyarakat tradisional di Indonesia.

Di Pulau Lombok, tradisi tersebut hidup kuat dalam praktik masyarakat etnis Sasak, yang memadukan nilai agama, adat, serta solidaritas sosial dalam setiap tahap penghormatan terakhir kepada anggota keluarga yang meninggal dunia.

Setelah jenazah dimakamkan, keluarga yang ditinggalkan tidak serta-merta menghentikan rangkaian ritual. Justru, fase berikutnya menjadi ruang penting untuk menguatkan ikatan sosial sekaligus mendoakan perjalanan arwah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tradisi ini dikenal sebagai selamat arwah, di mana keluarga mengundang warga sekitar untuk berkumpul dan melakukan dzikir serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an.

Kegiatan dzikiran berlangsung sejak hari pertama hingga hari ketujuh setelah pemakaman. Pada fase ini, rumah duka menjadi ruang kebersamaan, tempat para tetangga dan kerabat hadir membawa empati sekaligus doa.

Kehadiran mereka menjadi bentuk nyata solidaritas sosial yang masih kuat dalam masyarakat Sasak.

Puncak rangkaian ritual biasanya berlangsung pada hari ketujuh atau kesembilan, yang dikenal sebagai tradisi Nyiwaq. Pada momen inilah dilakukan pemasangan nisan sebagai penanda makam, sekaligus peneguhan bahwa fase awal perpisahan telah dilalui.

Namun Nyiwaq tidak hanya soal penanda makam. Pada hari tersebut, keluarga juga menyerahkan sedekah atas nama almarhum kepada seorang Kiyai.

Baca Juga :  Dari Tradisi Lokal Menuju Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Sedekah itu berupa seperangkat pakaian lengkap, tikar, bantal, serta perlengkapan rumah tangga lain yang secara adat disebut Patuk.

Penyerahan Patuk dilakukan secara resmi di hadapan masyarakat yang hadir. Prosesi ini diiringi dengan ungkapan tradisional yang diwariskan turun-temurun dan dihafal oleh para tetua adat.

Kalimat tersebut menjadi simbol penyerahan amal kebaikan yang diharapkan dapat menjadi bekal bagi almarhum di alam akhirat:

“Tabek kiyai silak tampi sedekah jinah si Anu sedekah jinah urip aning pati, pati aning urip rauh dunia rauhing dalam akherat urip pati pardu karna Allah. Allahuma Salliala Muhammad.”

Ungkapan ini bukan sekadar ritual lisan, melainkan doa kolektif yang mengandung filosofi bahwa kehidupan dan kematian adalah dua fase yang saling menyambung dalam kehendak Tuhan.

Kekayaan tradisi tersebut kini juga menjadi bagian penting dari upaya pelestarian budaya daerah.

Koleksi terkait Upacara Nyiwaq tersimpan di Museum Negeri NTB, yang menyimpan berbagai artefak ritual, antara lain Al-Qur’an, rehan, dulang pedupaan, ceret, tembolak, dulang penamat, pekinangan, lampu kuningan, mangkok dan tare kuningan, tikar lontar, kain regi genep, kain tapo kemalo, hingga peralatan dapur tradisional seperti sendok, sendok sayur, ceraken, gadang, dan bakul atau keraro.

Koleksi tersebut menjadi saksi bahwa ritual kematian bukan hanya peristiwa personal, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat di Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga :  Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Upaya memperkenalkan kekayaan budaya lokal juga tampak ketika museum tersebut menggelar pameran temporer pada Desember 2023 bertema Kenang-Kenangan dari Seribu Tahun.

Pameran ini diselenggarakan bekerja sama dengan Museum and Art Gallery of the Northern Territory, dengan kurasi bersama kurator senior mereka, James Bennet.

Sebanyak 170 koleksi dipamerkan, mencakup keramik, wastra, dan naskah lontar yang dibagi dalam lima tema utama: Cerita Bisu dari Masa Lalu, Harta dari Laut, Keramik Pada Zaman Rempah-Rempah di Nusa Tenggara Barat, Dari Mana Seniman Keramik Mencari Inspirasi?, serta Sangat Asing Tetapi Akrab di Mata.

Pameran tersebut memperlihatkan bagaimana benda-benda budaya menjadi penghubung lintas generasi.

Dalam konteks itu, tradisi Nyiwaq bukan sekadar ritual duka, melainkan juga mekanisme sosial yang menjaga nilai gotong royong, doa bersama, dan penghormatan terhadap leluhur. Ritual tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Sasak memandang kematian bukan sebagai akhir, melainkan peralihan menuju kehidupan berikutnya.

Di tengah perubahan sosial modern, tradisi ini terus bertahan karena memiliki makna mendalam: mempererat solidaritas, menjaga nilai spiritual, serta merawat ingatan kolektif keluarga dan komunitas.

Dengan demikian, Nyiwaq tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga cermin cara masyarakat memahami kehidupan itu sendiri.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Antara Kepercayaan dan Warisan Budaya: Jejak Peralatan Magis dalam Koleksi Museum Negeri NTB
Menunggu Dinas Kebudayaan Bergerak: Antara Harapan Publik dan Tugas Mendesak Menjaga Akar Budaya
Ragam Tradisi Nusantara Menyambut Ramadan: Dari Papajar hingga Assuro Maca
Berosok di Tepian Sungai: Tradisi Penyucian Diri Menyambut Ramadan di Lombok
Menjaga Jejak Tradisi: Upacara Adat dan Warisan Budaya dalam Koleksi Museum Negeri NTB
Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat
Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Mendesak Reformasi Pendanaan dan Tata Kelola Cagar Budaya di NTB
Parewa Kamutar dan Jejak Kesultanan Sumbawa di Museum NTB

Berita Terkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 01:30 WITA

Antara Kepercayaan dan Warisan Budaya: Jejak Peralatan Magis dalam Koleksi Museum Negeri NTB

Rabu, 18 Februari 2026 - 01:04 WITA

Menunggu Dinas Kebudayaan Bergerak: Antara Harapan Publik dan Tugas Mendesak Menjaga Akar Budaya

Selasa, 17 Februari 2026 - 17:34 WITA

Ragam Tradisi Nusantara Menyambut Ramadan: Dari Papajar hingga Assuro Maca

Selasa, 17 Februari 2026 - 13:29 WITA

Berosok di Tepian Sungai: Tradisi Penyucian Diri Menyambut Ramadan di Lombok

Selasa, 17 Februari 2026 - 11:00 WITA

Nyiwaq: Jejak Doa dan Ingatan dalam Tradisi Kematian Masyarakat Sasak

Berita Terbaru