CERAKEN.ID — Di tengah perjalanan panjang peradaban manusia, keterbatasan dalam menghadapi alam dan berbagai persoalan hidup mendorong manusia mencari cara lain untuk memperoleh perlindungan dan harapan.
Salah satu jalan yang ditempuh adalah melalui praktik-praktik yang berkaitan dengan kekuatan magis, sebuah kepercayaan yang hidup dalam banyak kebudayaan, termasuk di Nusa Tenggara Barat.
Jejak kepercayaan tersebut kini dapat dilihat melalui koleksi peralatan magis yang tersimpan di Museum Negeri NTB, yang berada di Kota Mataram.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Museum ini tidak hanya menyimpan benda-benda arkeologis dan etnografis, tetapi juga merawat artefak yang menggambarkan cara masyarakat tradisional memahami dunia melalui kepercayaan terhadap kekuatan tak kasatmata.
Dalam narasi yang disampaikan museum, praktik magis muncul sebagai respons atas keterbatasan manusia dalam mengendalikan alam dan nasib. Masyarakat kemudian mengenal berbagai azimat atau benda bertuah yang dipercaya mampu memberikan perlindungan, kekuatan, kemampuan meramal, hingga menolak bahaya.
Beberapa benda yang menjadi koleksi museum menunjukkan bagaimana praktik tersebut hidup dalam keseharian masyarakat. Bebadong, misalnya, digunakan sebagai alat pertahanan diri yang dipercaya memberi kekebalan. Rompi bertuah memiliki fungsi serupa, dipakai sebagai pelindung dari ancaman fisik maupun gangguan gaib.
Ada pula Kemalik Genter yang digunakan dalam proses penanaman bibit, dipercaya membantu menjaga tanaman agar tumbuh baik. Kemberasan, berupa batu berwarna putih dan coklat, dikenal sebagai batu beras yang diyakini membawa tuah dan keberkahan.
Sementara batu berbentuk bundar digunakan untuk meramal nasib seseorang, menjadi medium bagi orang-orang tertentu untuk membaca kemungkinan masa depan.
Dalam kehidupan agraris dan peternakan, praktik magis juga hadir melalui penggunaan Poh Jenggik, yang digunakan untuk memandikan ternak dengan harapan hewan terhindar dari penyakit dan mara bahaya.
Semua benda tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan magis tidak berdiri sendiri, tetapi melekat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pertanian hingga keselamatan diri.
Dua Makna Magis dalam Kehidupan Manusia
Istilah magis sendiri memiliki makna yang beragam, tergantung konteks penggunaannya. Dalam kajian budaya dan spiritual, terdapat dua pemahaman utama mengenai istilah ini.
Pertama, magis dalam konsep spiritual, yang berasal dari bahasa Latin magis, berarti “lebih” atau “paling”. Konsep ini dikenal luas dalam tradisi rohani yang dikembangkan oleh Ignatius Loyola, yang menekankan semangat melakukan pelayanan lebih besar bagi Tuhan dan sesama.
Dalam perkembangannya, semangat ini menginspirasi berbagai komunitas pelayanan kaum muda, termasuk gerakan yang dikenal sebagai MAGIS Movement.
Makna ini menempatkan magis sebagai dorongan moral dan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat, bukan sekadar mengejar kepentingan pribadi.
Sementara itu, makna kedua merujuk pada konteks supranatural dan budaya, yakni keyakinan terhadap kekuatan di luar kemampuan manusia biasa. Dalam pemikiran magis atau magical thinking, seseorang percaya bahwa tindakan atau benda tertentu dapat memengaruhi peristiwa nyata meskipun tanpa hubungan sebab-akibat yang logis secara ilmiah.
Contohnya dapat ditemukan pada penggunaan jimat keberuntungan, benda sakral, atau ritual tertentu yang diyakini membawa keselamatan dan rezeki. Dalam konteks keagamaan tertentu, praktik magis ini dibedakan dari doa karena dianggap tidak sepenuhnya bertumpu pada iman dan amal, melainkan pada benda atau ritual tertentu.
Museum sebagai Ruang Refleksi Budaya
Koleksi peralatan magis yang tersimpan di museum hari ini tidak lagi dipandang semata sebagai alat ritual, melainkan sebagai bagian dari perjalanan budaya manusia dalam memahami kehidupan.
Artefak tersebut menjadi jendela untuk melihat bagaimana masyarakat masa lalu menghadapi ketidakpastian melalui simbol, kepercayaan, dan harapan.
Di era modern, ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat, praktik-praktik tersebut mungkin tidak lagi digunakan secara luas. Namun, keberadaannya tetap penting sebagai warisan budaya yang menunjukkan kreativitas dan cara berpikir masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman.
Museum pun berperan sebagai ruang refleksi, mengajak generasi masa kini memahami bahwa di balik benda-benda sederhana tersebut tersimpan cerita tentang harapan manusia, kecemasan akan masa depan, serta usaha mencari perlindungan di tengah keterbatasan hidup.
Dengan demikian, koleksi peralatan magis bukan hanya menyimpan kisah tentang kepercayaan masa lalu, tetapi juga mengingatkan bahwa manusia selalu mencari cara untuk merasa aman, berharap, dan bertahan dalam perjalanan hidupnya.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : liputan


































