Ragam Tradisi Nusantara Menyambut Ramadan: Dari Papajar hingga Assuro Maca

Selasa, 17 Februari 2026 - 17:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keberagaman tradisi ini menjadi kekayaan budaya Nusantara yang memperlihatkan satu pesan universal: menyambut Ramadan berarti kembali kepada kesucian hati dan kebersamaan (Foto: aks/ceraken.id)

Keberagaman tradisi ini menjadi kekayaan budaya Nusantara yang memperlihatkan satu pesan universal: menyambut Ramadan berarti kembali kepada kesucian hati dan kebersamaan (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri untuk menyambutnya.

Tradisi-tradisi ini tidak sekadar menjadi ritual tahunan, tetapi juga menjadi ruang memperkuat hubungan sosial, membersihkan hati, serta menjaga kesinambungan nilai budaya lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Di tengah keberagaman budaya Nusantara, tradisi menyambut Ramadan memperlihatkan satu benang merah: persiapan spiritual dan sosial sebelum memasuki bulan ibadah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari Jawa Barat hingga Sulawesi Selatan, masyarakat merayakan momentum ini melalui kegiatan yang sarat makna kebersamaan.

Papajar, Tradisi Hangat Warga Sunda

Dari Sukabumi, Soni Hendrawan menyebut tradisi “Papajar” sebagai cara khas masyarakat Sunda menyambut datangnya Ramadan. Istilah Papajar berasal dari ungkapan Mapag Pajar atau menjemput fajar, yang dimaknai sebagai menyambut datangnya cahaya keberkahan Ramadan.

Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang. Pada abad ke-17, para ulama berkumpul di Masjid Agung Cianjur untuk menunggu kepastian terlihatnya hilal. Kebiasaan berkumpul itu kemudian berkembang menjadi tradisi kebersamaan masyarakat sebelum memasuki bulan puasa.

Papajar kini identik dengan kegiatan rekreasi keluarga di alam terbuka, sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan sosial tanpa sekat status. Kegiatan botram atau makan bersama menjadi inti perayaan, di mana keluarga membawa bekal dalam jumlah besar untuk dinikmati bersama.

Beberapa lokasi favorit masyarakat Jawa Barat untuk Papajar antara lain Kebun Raya Cibodas, Pantai Pelabuhanratu, dan Situ Gunung.

Papajar biasanya dilakukan satu hingga dua minggu sebelum puasa, berbeda dengan tradisi Munggahan yang berlangsung sehari menjelang Ramadan.

Baca Juga :  Menunggu Dinas Kebudayaan Bergerak: Antara Harapan Publik dan Tugas Mendesak Menjaga Akar Budaya

Jika Papajar lebih bernuansa rekreasi di luar ruangan, Munggahan lebih menitikberatkan silaturahmi, doa bersama, dan refleksi spiritual di rumah atau masjid.

Dalam filosofi Sunda, Munggahan berasal dari kata munggah atau naik, yang berarti peningkatan kualitas spiritual saat memasuki bulan Ramadan. Tradisi ini diisi dengan saling memaafkan, makan bersama, ziarah kubur, pengajian, serta persiapan mental dan spiritual sebelum menjalani ibadah puasa.

Nyadran dan Padusan, Tradisi Jawa Menyucikan Diri

Dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Dyah Ruwiyati menjelaskan dua tradisi yang lazim dilakukan masyarakat Jawa menjelang Ramadan, yakni Nyadran dan Padusan.

Nyadran sering pula disebut Ruwahan merupakan tradisi membersihkan makam leluhur sekaligus berdoa bersama dan menggelar kenduri atau makan bersama. Prosesi ini menjadi bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah meninggal sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Usai membersihkan makam, masyarakat biasanya menikmati hidangan bersama di sekitar area pemakaman. Salah satu menu khas yang disajikan adalah ayam ingkung, ayam utuh berbumbu rempah yang dimasak perlahan, serta apem tepung beras sebagai simbol permohonan maaf dan harapan akan ampunan.

Sementara itu, Padusan berasal dari kata adus atau mandi, yang berarti membersihkan diri secara lahir dan batin. Tradisi ini dilakukan di sungai, sendang, atau mata air yang dianggap bersih, meski kini banyak juga dilakukan di kolam renang atau di rumah.

Makna utama Padusan bukan sekadar mandi, tetapi meluruhkan sifat buruk, kemarahan, dan iri hati sebelum memasuki Ramadan.

Assuro Maca, Doa dan Kebersamaan di Tanah Bugis-Makassar

Sementara itu, di Makassar, tradisi menyambut Ramadan dikenal sebagai Assuro Maca atau Suro Maca, sebagaimana disampaikan penulis dan sutradara teater Yudhistira Sukataya.

Baca Juga :  Kebudayaan NTB di Masa Jeda: Antara Akar Rumput yang Menggeliat dan Roadmap Panjang Menuju Indonesia Emas

Dalam bahasa Bugis, Assuro Maca berarti “meminta dibacakan doa”. Tradisi ini berupa doa bersama yang dipimpin tokoh agama, diikuti dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan permohonan keselamatan menjelang Ramadan.

Hidangan khas yang disajikan antara lain songkolo patang rupa, ketan berwarna putih, hitam, dan kuning, serta songkolo dengan gula merah. Biasanya turut disajikan pula ikan bandeng, ayam goreng atau bakar, serta pisang raja yang melambangkan harapan akan kehidupan yang manis.

Tradisi ini dilakukan sejak satu minggu hingga sehari sebelum puasa, sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi keluarga dan tetangga.

Persamaan di Tengah Keragaman

Meski memiliki nama, bentuk, dan ritual yang berbeda, Papajar di Jawa Barat, Munggahan, Nyadran, Padusan di Jawa, hingga Assuro Maca di Sulawesi Selatan memiliki tujuan yang serupa: menyucikan diri, mempererat hubungan sosial, serta mempersiapkan hati sebelum memasuki Ramadan.

Tradisi-tradisi ini memperlihatkan bagaimana nilai Islam berakulturasi dengan budaya lokal, menciptakan cara-cara unik masyarakat dalam menyambut bulan suci.

Di tengah modernisasi, tradisi tersebut tetap bertahan sebagai pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga momentum memperbaiki hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya.

Pada akhirnya, keberagaman tradisi ini menjadi kekayaan budaya Nusantara yang memperlihatkan satu pesan universal: menyambut Ramadan berarti kembali kepada kesucian hati dan kebersamaan.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Antara Kepercayaan dan Warisan Budaya: Jejak Peralatan Magis dalam Koleksi Museum Negeri NTB
Menunggu Dinas Kebudayaan Bergerak: Antara Harapan Publik dan Tugas Mendesak Menjaga Akar Budaya
Berosok di Tepian Sungai: Tradisi Penyucian Diri Menyambut Ramadan di Lombok
Nyiwaq: Jejak Doa dan Ingatan dalam Tradisi Kematian Masyarakat Sasak
Menjaga Jejak Tradisi: Upacara Adat dan Warisan Budaya dalam Koleksi Museum Negeri NTB
Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat
Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Mendesak Reformasi Pendanaan dan Tata Kelola Cagar Budaya di NTB
Parewa Kamutar dan Jejak Kesultanan Sumbawa di Museum NTB

Berita Terkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 01:30 WITA

Antara Kepercayaan dan Warisan Budaya: Jejak Peralatan Magis dalam Koleksi Museum Negeri NTB

Rabu, 18 Februari 2026 - 01:04 WITA

Menunggu Dinas Kebudayaan Bergerak: Antara Harapan Publik dan Tugas Mendesak Menjaga Akar Budaya

Selasa, 17 Februari 2026 - 17:34 WITA

Ragam Tradisi Nusantara Menyambut Ramadan: Dari Papajar hingga Assuro Maca

Selasa, 17 Februari 2026 - 13:29 WITA

Berosok di Tepian Sungai: Tradisi Penyucian Diri Menyambut Ramadan di Lombok

Selasa, 17 Februari 2026 - 11:00 WITA

Nyiwaq: Jejak Doa dan Ingatan dalam Tradisi Kematian Masyarakat Sasak

Berita Terbaru