CERAKEN.ID– Malam itu, suasana terasa tenang. Di berugaq, di bawah langit yang diterangi bulan purnama, secangkir kopi hangat menjadi teman berbincang. Angin bergerak pelan, membawa rasa damai khas malam di Mataram.
Di tengah suasana itulah sebuah percakapan ringan berubah menjadi refleksi tentang kota yang terus tumbuh.
Di ujung gawai, praktisi media sekaligus jurnalis senior M. Sukri Aruman merespons pertanyaan sederhana namun penuh makna: diksi apa yang tepat menggambarkan Kota Mataram hari ini?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jawabannya singkat, namun padat filosofi: Ajong Mentaram.
Istilah itu lahir sebagai metafora bagi denyut Kota Mataram yang terus bergerak, beradaptasi, sekaligus menjaga arah.
Kata ajong menggambarkan ayunan langkah yang lentur, tidak kaku, mampu mengikuti perubahan, tetapi tetap memiliki tujuan yang jelas. Sebuah gerak yang dinamis, namun tidak kehilangan keseimbangan.
Sementara Mentaram menjadi representasi identitas kota yang bertumbuh dari akar budaya Sasak, nilai gotong royong, serta semangat masyarakat urban modern yang tetap berpijak pada kearifan lokal. Kota yang berkembang tanpa meninggalkan jati dirinya.
Ajong Mentaram, dalam makna yang lebih luas, dapat dipahami sebagai lenggok Mataram, gerak sebuah kota yang tidak hanya bergerak maju, tetapi bergerak dengan rasa, ritme, dan tanggung jawab bersama.
“Smart City: Your City, Your Responsibility,” imbuh Sukri, menegaskan bahwa konsep kota cerdas tidak sekadar persoalan teknologi.
Rubrik Ajong Mentaram sendiri hadir untuk memotret perjalanan pembangunan Kota Mataram sebagai proses kolektif menuju Smart City.
Sebab, kota cerdas tidak semata diukur dari kecanggihan infrastruktur digital atau tata kota modern, tetapi dari kesadaran warganya sebagai aktor utama perubahan.
Di sinilah Ajong Mentaram menjadi lebih dari sekadar istilah. Ia menjadi narasi bahwa setiap kebijakan, inovasi, kritik, hingga partisipasi publik merupakan bagian dari lenggok kota yang terus menari menuju masa depan.
Dalam filosofi tersebut, pembangunan dipahami sebagai dialog antara pemerintah dan warga. Kota bukan sekadar kumpulan bangunan dan jalan raya, tetapi ekosistem sosial yang hidup dari kepedulian bersama.
Karena itu, setiap kemajuan mesti berjalan seiring dengan tanggung jawab. Menjaga lingkungan tetap bersih, merawat toleransi, memperkuat ekonomi lokal, hingga membangun budaya digital yang sehat menjadi bagian dari perjalanan kota.
Tagline Your City, Your Responsibility menegaskan satu hal penting: Mataram bukan hanya milik pemerintah atau institusi tertentu, tetapi milik semua orang yang hidup dan beraktivitas di dalamnya. Masa depan kota bergantung pada sejauh mana warganya merasa memiliki.
Ajong Mentaram mengajak warga untuk tidak sekadar menjadi penonton pembangunan. Kota membutuhkan partisipasi, kritik yang konstruktif, inovasi, serta keterlibatan nyata warganya agar gerak pembangunan tidak kehilangan arah.
Pada akhirnya, Ajong Mentaram bukan sekadar slogan atau konsep. Ia adalah cerita tentang sebuah kota yang terus belajar, bergerak, dan bertumbuh bersama warganya.
Sebab, seperti disampaikan Sukri Aruman, kota akan menemukan masa depannya emban warganya bersedia menjadi penari sekaligus pemain utama dalam panggung pembangunan itu sendiri.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : Liputan































