CERAKEN.ID– Pelajaran hari ini adalah soal komunikasi. Bagi Kepala Dusun Dasan Daya, Desa Lembar, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Adi Muhayadi, komunikasi bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan sebuah nilai etika sekaligus spiritual yang menentukan kualitas hubungan antarmanusia.
Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, konflik kecil, hingga kesalahpahaman, Adi menilai bahwa kemampuan berbicara dengan baik menjadi fondasi penting kehidupan bermasyarakat.
Terlebih bagi seorang pemimpin wilayah kecil seperti kepala dusun, komunikasi menjadi alat utama untuk merawat harmoni warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Al-Qur’an menggunakan istilah qaulan (perkataan) yang disandingkan dengan berbagai kata sifat untuk menunjukkan bagaimana kita seharusnya berbicara dalam berbagai situasi,” ujar Adi saat berbincang santai bersama warga.
Menurutnya, ajaran tersebut sangat relevan dalam kehidupan sosial hari ini. Dalam Al-Qur’an, terdapat beberapa istilah yang menggambarkan prinsip komunikasi ideal.
Di antaranya qaulan sadidan, perkataan yang benar dan lurus; qaulan balighan, perkataan yang sampai dan menyentuh hati; qaulan ma’rufan, perkataan yang baik; qaulan layyinan, perkataan yang lembut; qaulan kariman, perkataan yang mulia; serta qaulan maysuran, perkataan yang mudah dan menyenangkan didengar.
“Ini bukan sekadar teori agama. Ini panduan praktis bagaimana manusia menjaga hubungan,” kata Adi.
Sebagai pemimpin di tingkat dusun, ia sering menghadapi berbagai persoalan warga, dari persoalan batas tanah, persoalan keluarga, hingga urusan sosial sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, cara menyampaikan pesan sering kali lebih penting daripada isi pesannya.
Nada tinggi, kata-kata keras, atau kalimat yang merendahkan, menurutnya, hanya akan memperkeruh keadaan. Sebaliknya, pendekatan yang lembut dan menghargai sering kali mampu meredakan ketegangan sebelum konflik membesar.
Adi menilai tantangan komunikasi saat ini semakin berat karena masyarakat hidup di era digital, di mana percakapan kerap berlangsung tanpa tatap muka.
Media sosial, menurutnya, sering membuat orang lebih mudah berkata kasar karena tidak berhadapan langsung dengan lawan bicara.
“Padahal setiap kata tetap punya dampak, meskipun dikirim lewat layar,” ujarnya.
Di lingkungan dusun, Adi mencoba menanamkan kebiasaan berdialog sebelum mengambil keputusan bersama.
Setiap persoalan, sekecil apa pun, diupayakan diselesaikan melalui musyawarah. Baginya, komunikasi yang baik bukan hanya soal berbicara, tetapi juga soal mendengar.
Ia percaya, masyarakat yang terbiasa berdialog akan lebih kuat menghadapi perbedaan. Ketegangan sosial sering kali muncul bukan karena persoalan besar, melainkan karena komunikasi yang salah arah.
Pelajaran sederhana dari dusun ini menjadi pengingat bahwa komunikasi sejatinya bukan hanya keterampilan sosial, tetapi juga bagian dari akhlak dan tanggung jawab moral.
Kata-kata yang diucapkan tidak hanya mempengaruhi orang lain, tetapi juga mencerminkan kualitas diri seseorang.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan bising oleh berbagai informasi, nilai-nilai komunikasi yang santun dan beretika terasa semakin penting untuk dirawat.
Sebab, pada akhirnya, hubungan manusia dibangun bukan hanya oleh tindakan, tetapi juga oleh kata-kata yang dipilih untuk diucapkan.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































