CERAKEN.ID — Menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam di Indonesia kembali menanti kepastian awal bulan suci melalui Sidang Isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada 29 Syakban 1447 H atau Selasa, 17 Februari 2026.
Di berbagai daerah, suasana menyambut bulan puasa bukan hanya hadir melalui persiapan ibadah, tetapi juga melalui tradisi kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu refleksi tradisi tersebut ditulis oleh Alfan Hadi, seorang praktisi hukum dari Gumi Dayang Gunung, yang membagikan kisah penyucian diri menjelang Ramadan melalui tulisan puitis di media sosialnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tulisan itu menggambarkan bagaimana masyarakat Lombok memaknai datangnya bulan suci melalui tradisi berosok, ritual mandi di sungai sebagai simbol pembersihan diri.
Di tepian sungai yang airnya mengalir tenang, masyarakat berkumpul membawa tubuh dan jiwa yang lelah oleh rutinitas kehidupan. Matahari yang condong ke barat seakan menjadi penanda bahwa bulan suci segera tiba.
Air sungai menjadi saksi bagaimana manusia mencoba kembali kepada fitrah, membasuh diri dari beban batin yang menumpuk sepanjang tahun.
Tradisi ini memiliki kemiripan dengan budaya Balimau yang dikenal di ranah Minangkabau. Namun di Pulau Lombok, ritual tersebut dikenal dengan sebutan berosok.
Air sungai bukan sekadar media membersihkan tubuh, tetapi simbol penyucian hati, pelepasan dendam, dan penguatan niat memasuki Ramadan dengan jiwa yang lebih bersih.
Dalam narasi yang ditulis Alfan Hadi, aroma limau, pandan, dan bunga-bungaan bercampur dengan udara sore di tepi sungai, menciptakan suasana sakral sekaligus akrab.
Orang-orang tidak hanya mandi, tetapi juga saling bersalaman, saling memaafkan, dan melepas beban batin sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Doa-doa pun mengalir bersama gemericik air. Harapan agar niat yang sempat bengkok kembali lurus, agar hati yang pernah dipenuhi iri dan amarah kembali jernih.
Air yang jatuh ke tubuh bukan sekadar membasuh kulit, tetapi menjadi simbol air mata tobat yang menyatu dengan alam.
Sungai dalam tradisi ini menjadi guru tentang keikhlasan. Ia menerima segala yang kotor, lalu mengalirkannya menuju muara, seakan mengajarkan manusia untuk melepaskan beban hidup dan kembali bersih sebelum memasuki madrasah Ramadan.
Tradisi berosok juga memperlihatkan bahwa menyambut Ramadan bukan hanya ritual individual, tetapi momentum sosial untuk mempererat hubungan antarmanusia.
Di tepi sungai, warga berkumpul, bercengkerama, dan saling memaafkan, sebelum nantinya berdiri bersama dalam saf salat tarawih dan menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Kini, ketika senja menutup hari-hari terakhir bulan Syakban, masyarakat kembali menanti dentang bedug magrib pertama Ramadan.
Tubuh telah segar, hati terasa ringan, dan harapan pun mengalir bersama air sungai: semoga bulan suci kali ini membawa ampunan dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Tradisi berosok mengingatkan bahwa Ramadan tidak hanya datang sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai kesempatan memperbarui diri.
Dan di tepian sungai Lombok, air yang mengalir setiap tahun terus menjadi saksi perjalanan manusia menuju kesucian hati.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : liputan


































