Daerah 3T di Bima Jadi Tantangan Terapkan Program Merdeka Belajar

Kamis, 2 Mei 2024 - 14:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BIMA (ceraken.id)– Pengembangan Program Merdeka Belajar di Kabupaten Bima tidak terjadi tanpa rintangan. Sejumlah tantangan menghambat penerapan program ini di berbagai sekolah di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bima, Zunaidin, salah satu masalah utama adalah keberadaan sekolah di daerah 3T (terluar, terpencil, tertinggal) yang membutuhkan pendekatan khusus.

“Masih ada sekolah di Bima yang termasuk dalam daerah 3T, yang menjadi tantangan dalam menyukseskan program Merdeka Belajar,” ungkap Zunaidin, Kamis (2/5/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, Pemerintah Kabupaten Bima tetap optimis dalam menjalankan program ini. Dengan formasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Guru yang cukup banyak di wilayah tersebut, diharapkan program ini dapat berjalan lebih maju dan merata.

“Kami berharap dengan banyaknya formasi PPPK Guru di Kabupaten Bima, 2.612 formasi, program Merdeka Belajar dapat berjalan dengan lebih baik,” tambah Zunaidin.

Zunaidin juga menekankan pentingnya peran tenaga pendidik dalam kesuksesan program Merdeka Belajar. Mereka diharapkan dapat memahami konsep program ini dan berpartisipasi aktif dalam perkembangannya.

“Dalam menghadapi tantangan ini, tenaga pendidik harus memahami dan berperan serta aktif dalam perkembangan program Merdeka Belajar,” tuturnya.

Meskipun masih ada sejumlah rintangan, semangat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Bima tetap tinggi. Pemerintah dan semua pihak terkait berkomitmen untuk terus bekerja keras guna mencapai tujuan program Merdeka Belajar, dengan harapan akan memberikan manfaat yang besar bagi dunia pendidikan di Kabupaten Bima.***

Berita Terkait

Nusantara Tangguh dan Tafsir Kekuatan dalam “Menghadang Kubilai Khan” AJ Susmana
Bangunan Belanda di Taman Suranadi Diajukan Masuk Cagar Budaya
Masjid Songak: Warisan Sejarah dan Tradisi Islam Lombok yang Tetap Hidup
Pengaruh Akulturasi Tionghoa dalam Warisan Budaya Indonesia: Dari Pakaian Tradisional hingga Kuliner
Pantun Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, BRIN Usul Penetapan Hari Pantun Nasional
Pemkab Nganjuk Tetapkan Candi Ngetos dan Candi Lor sebagai Cagar Budaya
Batik Sasambo, Kain NTB dengan Sentuhan Legenda Putri Mandalika
Kinerja Cemerlang Pj Bupati Lobar Tuai Apresiasi Kemendagri, H. Ilham: Ini Hasil Kolaborasi Bersama

Berita Terkait

Kamis, 27 November 2025 - 18:41 WITA

Nusantara Tangguh dan Tafsir Kekuatan dalam “Menghadang Kubilai Khan” AJ Susmana

Minggu, 16 Februari 2025 - 19:24 WITA

Bangunan Belanda di Taman Suranadi Diajukan Masuk Cagar Budaya

Minggu, 16 Februari 2025 - 19:19 WITA

Masjid Songak: Warisan Sejarah dan Tradisi Islam Lombok yang Tetap Hidup

Sabtu, 15 Februari 2025 - 21:05 WITA

Pengaruh Akulturasi Tionghoa dalam Warisan Budaya Indonesia: Dari Pakaian Tradisional hingga Kuliner

Sabtu, 15 Februari 2025 - 20:47 WITA

Pantun Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, BRIN Usul Penetapan Hari Pantun Nasional

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA