Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Mataram — Ruang Pamer Rplay Lombok menjadi ruang temu seni lintas negara ketika komunitas Mandalika Art Community (MAC) menerima kunjungan sekaligus perkenalan seniman fotografi asal Korea Selatan, Kim Dong Pil, Sabtu (7/2/2026).

Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi komunitas seni, tetapi juga membuka dialog kreatif mengenai bagaimana alam Lombok dibaca dan diterjemahkan melalui perspektif visual kontemporer.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua MAC Lalu Syaukani bersama anggota komunitas Bambang Prasetya, Lalu Arif Budiman, dan I Nyoman Sandiya. Dari pihak Kim Dong Pil turut hadir kuratornya, Mr Hong. Sementara pihak Rplay Lombok diwakili oleh Mr Red selaku pemilik serta Nitha, Chief Secretary PT Rplay Group Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Momentum penting dalam pertemuan itu ditandai dengan penyerahan karya fotografi Kim Dong Pil kepada komunitas MAC. Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025. Karya itu diterima langsung oleh Ketua MAC, Lalu Syaukani.

Bagi Kim dan kuratornya, Mr Hong, karya tersebut memiliki posisi istimewa di antara sejumlah karya yang dihasilkan selama eksplorasi visual di Lombok. Lanskap persawahan Tetebatu dinilai menghadirkan komposisi alam yang kuat, sekaligus menyimpan kedalaman rasa yang berhasil ditangkap melalui pendekatan fotografi udara.

Dalam proses kreatifnya, Kim Dong Pil menggunakan teknik pemotretan berbasis drone. Pengambilan gambar dilakukan sejak dini hari hingga matahari terbenam, dengan durasi pemotretan mencapai sekitar sepuluh jam.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota

Waktu panjang tersebut diperlukan untuk menangkap perubahan cahaya matahari yang menjadi unsur penting dalam membangun karakter visual setiap karya.

Meski pemotretan berlangsung dalam satu hari, proses penciptaan satu karya fotografi bisa memakan waktu hingga satu minggu.

Tahapan seleksi gambar, penyusunan komposisi, hingga proses penyempurnaan visual menjadi bagian penting sebelum karya akhirnya dipresentasikan kepada publik.

Ketua MAC, Lalu Syaukani, menilai karya Kim Dong Pil menawarkan cara pandang baru dalam membaca lanskap Lombok. Menurutnya, kekuatan karya tersebut terletak pada kemampuan Kim menerjemahkan alam lokal dengan bahasa visual yang sederhana namun memiliki kedalaman makna.

“Mr Kim mengambil konsep lokal alam Lombok dengan bahasa universal bernuansa kontemporer. Kalau kita menggambar alam Lombok, biasanya berhenti pada visualnya saja. Tapi melalui fotografi Mr Kim, kita justru diajak berpikir dan merenung. Awalnya kita bertanya ini apa, lalu setelah dilihat secara utuh, ternyata sebuah rangkaian karya yang sangat estetik dan kontemporer,” ujar Syaukani.

Meski pemotretan berlangsung dalam satu hari, proses penciptaan satu karya fotografi bisa memakan waktu hingga satu minggu (Foto: aks)

Ketertarikan Kim Dong Pil terhadap Lombok sendiri berawal dari peristiwa sederhana. Melalui Nitha, diceritakan bahwa kuratornya, Mr Hong, tanpa sengaja berkunjung ke restoran Rplay dan tertarik pada lukisan yang dipajang, khususnya karya Lalu Syaukani.

Ketertarikan tersebut kemudian membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut terhadap seni dan lanskap Lombok.

Selain itu, Kim yang berasal dari Ulsan, Korea Selatan, memang memiliki minat besar terhadap lanskap pertanian dan alam terbuka.

Baca Juga :  Belian, Doa, dan Daya Hidup Tradisi

Keindahan farm landscape di Indonesia, terutama Lombok, menjadi daya tarik tersendiri bagi eksplorasi karya fotografi udara yang selama beberapa tahun terakhir ia lakukan.

Hasil perjalanan visual itulah yang rencananya akan dipamerkan di Rplay sekitar April hingga Juni 2026 mendatang.

Bagi anggota MAC, pertemuan ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana seniman asing memandang kebudayaan dan lanskap lokal. I Nyoman Sandiya menilai interaksi tersebut memperkaya wawasan komunitas seni di Lombok.

“Sehingga kita tahu bagaimana seniman luar, khususnya dari Korea, menangkap seni budaya dan keindahan lokal Lombok dengan media yang berbeda, yakni teknik fotografi,” ujarnya.

Sementara itu, Nitha menilai penyerahan karya Kim kepada MAC memiliki makna simbolis yang penting. Baginya, langkah tersebut menunjukkan keseriusan sang seniman untuk membangun kedekatan dengan komunitas lokal.

“Ini adalah salah satu bentuk keseriusan Mr Kim untuk benar-benar ingin mempelajari lebih dalam dan mendekati orang-orang lokal Lombok,” kata Nitha.

Pertemuan di Ruang Pamer Rplay ini sekaligus menegaskan bahwa seni dapat menjadi jembatan perjumpaan lintas budaya.

Alam Lombok yang selama ini menjadi inspirasi masyarakat setempat, kini menemukan pembacaan baru melalui perspektif global, namun tetap berakar pada keindahan lokal.

Dan di tengah arus pariwisata serta modernisasi yang terus berkembang, seni menjadi pengingat bahwa lanskap Lombok bukan sekadar objek wisata, melainkan ruang hidup yang menyimpan cerita, rasa, dan identitas yang dapat dibaca melalui berbagai bahasa seni. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman
Masa Depan Ritus Kebangru’an

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Senin, 2 Februari 2026 - 19:14 WITA

Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA