Menjaga Jejak Tradisi: Upacara Adat dan Warisan Budaya dalam Koleksi Museum Negeri NTB

Selasa, 17 Februari 2026 - 10:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Benda-Benda Perawatan Bayi (Foto: aks/ceraken.id)

Benda-Benda Perawatan Bayi (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Dalam catatan Museum Negeri NTB, salah satu ciri utama masyarakat tradisional adalah kemampuannya mempertahankan tradisi masa lalu, termasuk berbagai upacara adat yang terus hidup hingga kini.

Upacara adat bukan sekadar seremoni turun-temurun, tetapi menjadi bentuk aktualisasi kepercayaan masyarakat dalam menjaga hubungan harmonis dengan Sang Pencipta, alam semesta, lingkungan, dan sesama manusia.

Di berbagai wilayah Nusa Tenggara Barat, upacara adat masih menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan masyarakat. Tradisi ini biasanya dilakukan saat masyarakat hendak memulai suatu aktivitas penting atau sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dan hasil yang telah diperoleh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu contoh yang masih bertahan adalah upacara Selamat Olor, yakni selamatan aliran air dari hulu menuju sawah sebagai penanda dimulainya musim tanam. Tradisi ini masih dilaksanakan di Desa Bayan, wilayah Kabupaten Lombok Utara, sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber air yang menjadi nadi pertanian masyarakat.

Pakaian Upacara Daur Hidup (Foto: aks/ceraken.id)

Selain itu, dikenal pula upacara ngaji makam ngaturan ngulak kaya, yang menjadi ungkapan syukur atas hasil karya dan hasil bumi yang diperoleh selama satu tahun. Upacara-upacara semacam ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memaknai keberhasilan hidup tidak semata hasil kerja manusia, melainkan juga anugerah Tuhan dan keseimbangan alam.

Upacara adat biasanya melibatkan hampir seluruh warga dalam komunitas. Di sinilah nilai sosial seperti kerukunan, kebersamaan, dan gotong royong terasa sangat kuat. Setiap tahapan kegiatan memiliki pembagian peran yang jelas, baik berdasarkan kesepakatan adat maupun spontanitas warga yang merasa memiliki tradisi tersebut.

Baca Juga :  Antara Kepercayaan dan Warisan Budaya: Jejak Peralatan Magis dalam Koleksi Museum Negeri NTB

Lebih jauh lagi, pelaksanaan upacara adat turut membawa dampak positif terhadap pelestarian kearifan lokal dan lingkungan. Alam tidak dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.

Jejak Tradisi dalam Koleksi Museum

Warisan budaya tersebut kini terdokumentasi dan tersimpan melalui berbagai koleksi benda budaya yang dirawat oleh Museum Negeri NTB. Koleksi tersebut merepresentasikan siklus kehidupan manusia sejak lahir hingga meninggal dunia, lengkap dengan perangkat budaya yang menyertainya.

Benda-Benda Upacara Perkawinan (Foto:aks/ceraken.id)

Pada fase kelahiran dan perawatan bayi, misalnya, terdapat berbagai peralatan tradisional, antara lain Ro’a Oinana dari wilayah Bima sebagai periuk untuk air hangat memandikan bayi, Tepak dari Pulau Lombok sebagai tempat memandikan bayi, serta Kemeq yang digunakan sebagai tempat ari-ari.

Ada pula Edas-edas sebagai alat pemotong tali pusar, batu penumbuk boreh atau obat tradisional, miniatur geong untuk ayunan bayi, serta pemeter dari Pulau Sumbawa untuk melatih anak berjalan.

Dalam fase kehidupan berikutnya, pakaian dan perhiasan adat menjadi bagian penting dalam upacara daur hidup. Koleksi kain Polak Desa, Telang, dan Lekat Desa dari Sumbawa, Bokor dan Bebutu dari Lombok, hingga berbagai perhiasan seperti Kondo Loi atau kalung azimat, Kawari, serta gelang kana dan jima ancu dari Bima menunjukkan ragam ekspresi budaya masyarakat NTB dalam merayakan perjalanan hidup manusia.

Upacara perkawinan pun memiliki perangkat budaya yang kaya makna. Pada masyarakat Sasak, dikenal penggunaan Ider-ider sebagai hiasan dinding, kain Umbaq sebagai olen-olen dalam prosesi sorong serah, serta berbagai perlengkapan seperti dulang kuningan, tembolak, dan talam kayu untuk penyajian hidangan.

Baca Juga :  Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Sementara pada masyarakat Mbojo di Bima, Lingga Kapanca menjadi bagian penting dari kelengkapan perkawinan.

Benda-Benda Upacara Kematian (Foto: aks/ceraken.id)

Sementara itu, fase akhir kehidupan manusia juga memiliki rangkaian tradisi tersendiri. Koleksi benda-benda upacara kematian seperti kain kelambu, kain kafan atau leang putiq, kendi dan ceret pembawa air ke kuburan, pedupaan untuk membakar kemenyan, tambok sebagai tempat air, dulang kayu, tudung saji, hingga kain osap untuk menutup wajah jenazah memperlihatkan penghormatan masyarakat terhadap perjalanan akhir manusia.

Museum sebagai Penjaga Memori Bersama

Museum Negeri NTB yang berlokasi di Kota Mataram menjadi pusat pelestarian warisan budaya daerah sejak diresmikan pada 23 Januari 1982.

Museum ini menyimpan lebih dari tujuh ribu koleksi yang mencakup bidang geologi, arkeologi, dan budaya, termasuk berbagai artefak khas masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.

Keberadaan museum ini menjadi penting di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus nilai-nilai tradisi.

Melalui koleksi yang ditampilkan, generasi muda dapat memahami bahwa setiap benda dan setiap upacara memiliki makna mendalam, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Upacara adat pada akhirnya bukan sekadar ritual, melainkan warisan nilai yang mengajarkan manusia hidup selaras dengan sesama dan alam.

Dan melalui museum, warisan itu tidak sekadar dikenang, tetapi terus dirawat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Antara Kepercayaan dan Warisan Budaya: Jejak Peralatan Magis dalam Koleksi Museum Negeri NTB
Menunggu Dinas Kebudayaan Bergerak: Antara Harapan Publik dan Tugas Mendesak Menjaga Akar Budaya
Ragam Tradisi Nusantara Menyambut Ramadan: Dari Papajar hingga Assuro Maca
Berosok di Tepian Sungai: Tradisi Penyucian Diri Menyambut Ramadan di Lombok
Nyiwaq: Jejak Doa dan Ingatan dalam Tradisi Kematian Masyarakat Sasak
Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat
Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Mendesak Reformasi Pendanaan dan Tata Kelola Cagar Budaya di NTB
Parewa Kamutar dan Jejak Kesultanan Sumbawa di Museum NTB

Berita Terkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 01:30 WITA

Antara Kepercayaan dan Warisan Budaya: Jejak Peralatan Magis dalam Koleksi Museum Negeri NTB

Rabu, 18 Februari 2026 - 01:04 WITA

Menunggu Dinas Kebudayaan Bergerak: Antara Harapan Publik dan Tugas Mendesak Menjaga Akar Budaya

Selasa, 17 Februari 2026 - 17:34 WITA

Ragam Tradisi Nusantara Menyambut Ramadan: Dari Papajar hingga Assuro Maca

Selasa, 17 Februari 2026 - 13:29 WITA

Berosok di Tepian Sungai: Tradisi Penyucian Diri Menyambut Ramadan di Lombok

Selasa, 17 Februari 2026 - 11:00 WITA

Nyiwaq: Jejak Doa dan Ingatan dalam Tradisi Kematian Masyarakat Sasak

Berita Terbaru