CERAKEN.ID– Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, berbagai elemen masyarakat mulai menggelar kegiatan penyambutan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus persiapan spiritual.
Di Kota Mataram, semangat itu terasa dalam kegiatan Tasyakuran dan Gema Ramadhan 1447 Hijriah yang diselenggarakan DPD Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia Nusantara Jaya (LASQI NJ) Kota Mataram di Aula Pendopo Wali Kota Mataram, Kamis (05/02/2025).
Kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni pembuka rangkaian kegiatan keagamaan, tetapi menjadi momentum refleksi bersama. Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, yang hadir langsung dalam acara tersebut, menekankan pentingnya mempersiapkan diri secara batin sebelum memasuki bulan penuh berkah itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jangan memasuki Bulan Suci Ramadhan tanpa persiapan, terutama kebersihan jiwa,” tegasnya di hadapan para hadirin yang terdiri dari tokoh masyarakat, pengurus LASQI, serta berbagai unsur organisasi keagamaan dan seni budaya.
Menurutnya, Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan atau rutinitas ibadah, tetapi perubahan sikap dan perilaku. Karena itu, persiapan menyambut Ramadhan seharusnya dimulai dari pembersihan batin.
Ia berharap kegiatan Gema Ramadhan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi pemicu kesadaran kolektif untuk memperbaiki diri sejak sekarang.
“Kita harus menampilkan etika, sikap, dan perilaku yang berbeda dengan sebelas bulan lainnya, terutama kebersihan jiwa,” ujarnya.
Selama ini, kata Wakil Wali Kota, masyarakat cenderung lebih sibuk membersihkan lingkungan secara fisik atau mempersiapkan kebutuhan pangan menjelang Ramadhan. Namun, aspek pembersihan batin sering kali luput dari perhatian.
Padahal, esensi puasa tidak hanya terletak pada menahan lapar dan dahaga. Tanpa kebersihan hati, seseorang tetap dapat terjebak pada perilaku yang merugikan orang lain, meskipun secara lahiriah menjalankan ibadah puasa.
“Kalau jiwa tidak dibersihkan, kita bisa terjebak pada puasa yang hanya menahan rasa lapar dan dahaga, tetapi masih melontarkan kata-kata negatif. Banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, TGH Mujiburrahman juga mengutip ajaran ulama besar Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang menegaskan bahwa kedekatan seseorang dengan Allah SWT bukan hanya ditentukan oleh banyaknya ibadah ritual, melainkan oleh kualitas akhlak.
Tiga hal utama yang menjadi ukuran, menurut beliau, adalah kedermawanan, kerendahan hati, dan kebersihan jiwa. Nilai-nilai inilah yang seharusnya dihidupkan selama Ramadhan.
“Kalau tiga hal ini kita bawa dalam Ramadhan, dermawan, rendah hati, dan membersihkan jiwa, maka luar biasa nilai puasa kita di sisi Allah SWT,” tambahnya.
Tantangan menjaga kebersihan jiwa, lanjutnya, semakin besar di era digital saat ini. Dosa dan kesalahan dapat datang hanya melalui pandangan mata atau sentuhan jari pada layar gawai.
Informasi negatif, ujaran kebencian, hingga perilaku tidak etis di ruang digital menjadi ujian tersendiri bagi masyarakat modern.
Karena itu, Ramadhan menjadi kesempatan berharga untuk membersihkan diri, melebur kesalahan, dan memperbaiki kualitas keimanan. Ia menjelaskan bahwa kata Ramadhan sendiri berasal dari kata ramdo, yang berarti pelebur.
Momentum ini, menurutnya, harus disambut dengan kegembiraan karena menjadi kesempatan menghapus dosa, baik yang disengaja maupun tidak, sekaligus menambah investasi amal untuk kehidupan akhirat.
“Ramadhan adalah kesempatan kita melebur dosa dan menambah investasi akhirat,” tuturnya.
Suasana hangat kegiatan semakin terasa ketika Wakil Wali Kota menutup sambutannya dengan pantun sederhana yang mengundang senyum dan tepuk tangan seluruh peserta.
“Jalan-jalan ke Senggigi,
Lewati dua roda pedati,
Ada yang datang ada yang pergi,
Hidup di dunia tidak ada yang abadi.”
Pantun itu seolah menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Ramadhan hadir sebagai kesempatan tahunan untuk memperbaiki diri, sebelum waktu benar-benar habis.
Melalui kegiatan seperti Gema Ramadhan, Kota Mataram tidak hanya merawat tradisi religius, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai spiritual di tengah dinamika kehidupan modern.
Persiapan fisik mungkin penting, namun kebersihan jiwa tetap menjadi bekal utama untuk meraih makna sejati Ramadhan. (TK Kominfo)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : Akun PPID Kota Mataram































