NTB Menuju ‘Zero Stunting’: Prevalensi Turun Signifikan di Tahun 2025, Sinergi Integrasi Data Menjadi Kunci

Senin, 16 Februari 2026 - 13:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: dr. I Ketut Artasta, M.P.H

CERAKEN.ID – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mencatatkan progres positif dalam pembangunan sumber daya manusia.

Berdasarkan evaluasi kinerja tahun 2025, angka prevalensi stunting di Bumi Gora menunjukkan tren penurunan yang konsisten, memperpendek jarak menuju target nasional 14%. Hal ini tentu akan memberi sumbangan yang besar terhadap kesehatan masyarakat dan indeks Modal Manusia (IMM) di NTB.

Data terbaru menunjukkan bahwa intervensi spesifik dan sensitif yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB bersama pemangku kepentingan terkait telah membuahkan hasil nyata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan sinkronisasi data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan data pendukung dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, terdapat korelasi positif antara peningkatan indeks modal manusia (IMM) dengan penurunan angka balita gagal tumbuh.

Investasi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah salah satu investasi dengan pengembalian tertinggi di dunia kesehatan. Perbaikan status gizi dapat meningkatkan skor IQ (rata-rata 5–10 poin) yang berkorelasi langsung dengan daya saing tenaga kerja NTB karena peningkatan produktivitas.

Anak yang tidak stunting akan memiliki performa sekolah lebih baik dan angka putus sekolah yang lebih rendah sehingga dapat meningkatkan efisiensi bidang pendidikan.

Disisi lain penurunan stunting juga akan memberi dampak kedepannya meningkatkan calon ibu yang sehat dan akan melahirkan bayi yang sehat juga sehingga bisa memutus rantai kemiskinan dan malnutrisi antar generasi

Penurunan drastis angka stunting di NTB, bukan terjadi secara kebetulan. Pemerintah Provinsi NTB menerapkan strategi yang disebut dengan “Intervensi Sensitif dan Spesifik” yang sangat terintegrasi.

Langkah yang dilakukan adalah dengan Gerakan bhakti stunting dan orang tua asuh yang melibatkan pejabat eselon menjadi orang tua asuh anak balita stunting, kemudian diikuti dengan donasi protein berupa telur selama 3 sampai 6 bulan berturut–turut untuk dikonsumsi oleh anak asuhnya.

Hal berikutnya adalah revitalisasi Posyandu keluarga dimana pelayanan berdasarkan siklus hidup melalyani seluruh keluarga dan digitalisasi data dengan aplikasi e-PPGBM (elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat) yang sangat ketat sehingga data by name by address terpantau secara real time.

Juga dilakukan intervensi gizi spesifik (kesehatan) fokus pada 1000 hari kehidupan dengan pemberian TTD (tablet tambah darah) pada remaja putri untuk mencegah anemia secara dini, pemberian makanan tambahan (PMT) mengutamakan pangan lokal NTB (ikan, telur, tempe tahu, sayur kelor) daripada penggunaan biskuit pabrikan, dan audit kasus stunting sehingga setiap ditemukan kasus baru akan melibatkan tim pakar (dokter spesialis anak, ahli gizi, psikolog) untuk mencari penyebab stunting dan penyakit penyerta serta pola asuhnya sehingga bisa diberikan solusi yang tepat.

Baca Juga :  Mandalika: Antara Sirkuit Dunia dan Fondasi Budaya yang Menjaga Masa Depan

Ada lagi upaya pemerintah yang dilakukan dengan melibatkan OPD lain seperti intervensi sensitif (Lingkungan dan sosial) yaitu penyediaan air bersih dan gencar menerapkan sanitasi total berbasis masyarakat yang juga sangat membantu menurunkan penyakit infeksi yang bisa memicu terjadinya stunting.

Pencapaian Utama Tahun 2025 dalam menurunkan stunting adalah:

1.Penurunan Angka Prevalensi: NTB berhasil menekan angka stunting hingga ke kisaran 16,4% pada akhir 2025 (proyeksi berdasarkan tren penurunan tahunan), turun signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.

2.Korelasi Kesejahteraan (Data BPS): Rilis BPS mengenai Indeks Kedalaman Kemiskinan yang membaik di sektor perdesaan turut berkontribusi pada kemampuan daya beli protein hewani bagi keluarga berisiko stunting.

3.Akses Sanitasi Layak: Peningkatan akses air minum layak yang kini mencapai di atas 90% (berdasarkan data Susenas BPS) menjadi pilar utama dalam mencegah infeksi berulang pada balita.

4.Inovasi Strategis Bakti Stunting dan Pemanfaatan Pangan Lokal: optimalisasi pangan lokal (seperti telur dan ikan) yang diproduksi oleh UMKM lokal NTB terbukti efektif meningkatkan berat badan balita secara cepat.

Optimalisasi kader Posyandu dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) untuk melakukan skrining antropometri secara serentak (Bulan Penimbangan Serentak) dengan alat ukur yang terstandar (antropometri kit digital) sehingga bisa memastikan 100% balita di pelosok desa terpantau pertumbuhannya setiap bulan, bukan hanya yang datang ke Posyandu.

Baca Juga :  Narasi Satu Warsa Iqbal-Dinda: Di Antara Cahaya Hilirisasi dan Badai Kritik Struktural

“Penurunan stunting di NTB bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata kehadiran negara dalam memastikan masa depan generasi emas 2045. Dengan dukungan data BPS yang valid, kita dapat memetakan wilayah ‘merah’ secara presisi dan menyalurkan bantuan tepat sasaran,”

Meski menunjukkan tren positif, Pemerintah Provinsi NTB menyadari bahwa disparitas antar-kabupaten masih menjadi tantangan. Fokus di tahun 2026 akan diarahkan pada:

  • Penguatan konvergensi di tingkat desa/kelurahan.
  • Edukasi pola asuh bagi ibu muda dan remaja putri, serta pencegahan perkawianan usia muda
  • Digitalisasi pelaporan gizi melalui sistem yang terintegrasi dengan data kependudukan.
  • Pendanaan penurunan stunting dari tingkat provinsi sampai dana desa adalah hal baik karena stunting bisa dicegah, dan pencegahannya adalah investasi terbaik yang bisa dilakukan pemerintah saat ini.

Dalam hitungan Cost-Benefit Analysis, setiap satu rupiah yang kita keluarkan untuk intervensi gizi hari ini, akan kembali menjadi 30 hingga 48 rupiah dalam bentuk produktivitas di masa depan.

Ini bukan pengeluaran yang sia-sia (cost), ini adalah investasi (investment) dengan imbal hasil tertinggi dibandingkan investasi infrastruktur fisik sekalipun.

Upaya penanggulangan stunting bukan melihat program stunting sebagai ‘biaya dinas’ atau biaya yang memberatkan pemerintah daerah tetapi harus mulai melihatnya sebagai strategi memenangkan masa depan NTB.

Mari kita pastikan bahwa tidak ada satu pun anak di pelosok Lombok hingga ujung Sape yang kehilangan masa depannya hanya karena kekurangan gizi di 1.000 hari pertama kehidupannya.

Pemerintah Provinsi NTB mengajak seluruh lapisan masyarakat, sektor swasta, dan media untuk terus mengawal momentum ini demi mewujudkan NTB yang sehat, cerdas, dan sejahtera.**

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Program Iqbal – Dinda Menuju Industri Peternakan Berkelanjutan Di NTB
Narasi Satu Warsa Iqbal-Dinda: Di Antara Cahaya Hilirisasi dan Badai Kritik Struktural
Mengakselerasi Peran Taman Budaya NTB dalam Program NTB Makmur Mendunia
Membaca Dayan Gunung dalam Kekinian
Menakar Kinerja Tim Ahli Gubernur di Tengah Momentum Kebangkitan Ekonomi NTB
Enterprise Risk Management: Mengelola Ketidakpastian untuk Menjaga Keberlanjutan Perusahaan
Analisis Hukum Pemberhentian Kepala Desa Berdasarkan Putusan Adat: Konspirasi Tanpa Dasar dan Cacat Secara Yuridis
Mandalika: Antara Sirkuit Dunia dan Fondasi Budaya yang Menjaga Masa Depan

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 13:14 WITA

NTB Menuju ‘Zero Stunting’: Prevalensi Turun Signifikan di Tahun 2025, Sinergi Integrasi Data Menjadi Kunci

Senin, 16 Februari 2026 - 12:28 WITA

Program Iqbal – Dinda Menuju Industri Peternakan Berkelanjutan Di NTB

Senin, 16 Februari 2026 - 11:50 WITA

Narasi Satu Warsa Iqbal-Dinda: Di Antara Cahaya Hilirisasi dan Badai Kritik Struktural

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:26 WITA

Mengakselerasi Peran Taman Budaya NTB dalam Program NTB Makmur Mendunia

Senin, 9 Februari 2026 - 09:39 WITA

Membaca Dayan Gunung dalam Kekinian

Berita Terbaru