Menjahit Harapan dari Desa: Semangat Kerelawanan dan Pendidikan dalam Gerakan Beriuk Betukah

- Penulis

Senin, 16 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ahmad Junaidi menutup sesi berbagi dengan harapan agar semakin banyak orang baik terlibat, membantu pendidikan, pengembangan kapasitas relawan, hingga memperkuat usaha sosial yang telah berjalan (Foto: aks/ceraken.id)

Ahmad Junaidi menutup sesi berbagi dengan harapan agar semakin banyak orang baik terlibat, membantu pendidikan, pengembangan kapasitas relawan, hingga memperkuat usaha sosial yang telah berjalan (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Kegiatan sosial berbasis komunitas kembali menunjukkan daya hidupnya melalui pertemuan lintas generasi dan gagasan dalam kegiatan “Beriuk Betukah”, sebuah ruang berbagi, belajar, dan bertukar manfaat yang digagas komunitas Mari Gerak.

Dalam forum tersebut, berbagai tokoh dan komunitas berbagi pengalaman tentang bagaimana gerakan kecil dapat memberi dampak besar bagi masyarakat, terutama di desa-desa.

Salah satu narasumber yang hadir dalam sesi berbagi adalah Ahmad Junaidi, Founder Jage Kastare Foundation (JKF) dari Lombok Tengah. Ia melihat kegiatan seperti ini memiliki manfaat berlapis, baik secara sosial, ekonomi, hingga pendidikan psikologis bagi generasi muda.

Menurutnya, manfaat pertama dari kegiatan ini adalah mempertemukan orang-orang yang sebelumnya sudah memiliki kepedulian sosial, namun belum tentu saling mengenal. Pertemuan tersebut memperluas jejaring solidaritas, sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan antar komunitas.

Manfaat kedua, kata Junaidi, terletak pada aspek teknis pertukaran pakaian layak pakai. Ia menilai konsep pertukaran atau pemanfaatan kembali pakaian memberikan nilai baru pada barang yang sebelumnya tidak lagi digunakan pemiliknya.

Ketika pakaian tersebut berpindah tangan dan digunakan di lingkungan baru, nilai ekonominya tetap hidup, sekaligus mengurangi limbah tekstil dan memperkuat kepedulian lingkungan.

Lebih jauh, ia melihat dampak jangka panjang kegiatan seperti ini justru terasa pada anak-anak yang hadir dan menyaksikan langsung aktivitas sosial tersebut. Pengalaman itu menjadi memori yang membentuk cara pandang mereka terhadap kebersamaan, berbagi, dan belajar.

Anak-anak, katanya, belajar dari berbagai zona aktivitas: mulai dari membaca buku, pertunjukan seni, hingga pertukaran pakaian, yang semuanya menjadi proses pembelajaran sosial di luar ruang kelas formal.

Junaidi berharap kegiatan serupa tidak hanya berlangsung di kota, tetapi menyebar hingga ke tingkat kecamatan dengan semangat yang sama, meskipun dalam skala yang disesuaikan dengan kemampuan komunitas setempat.

Baca Juga :  Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah
Dari Desa Ungga, Kerelawanan Tumbuh

Jage Kastare Foundation sendiri lahir dari keberanian sederhana pada 2013, saat gerakan komunitas pendidikan di desa masih jarang ditemukan. Yayasan ini berbasis di Desa Ungga, sebuah desa di wilayah Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

JKF bergerak melalui semangat kerelawanan, fokus pada pendidikan, kewirausahaan sosial, serta berbagai isu sosial lain.

Visi utama yayasan ini adalah membentuk generasi muda desa yang percaya diri, adaptif, peduli lingkungan dan masyarakat, berpikiran global, namun tetap menghargai budaya lokal.

Program-program yang dijalankan pun beragam, mulai dari pendidikan Bahasa Inggris bagi anak-anak desa, bimbingan beasiswa, pendidikan anak usia dini, hingga kegiatan literasi dan pelestarian budaya lokal.

Relawan datang dari berbagai latar belakang, membentuk ekosistem pembelajaran yang terbuka dan inklusif.

Anak-anak belajar dari berbagai zona aktivitas: mulai dari membaca buku, pertunjukan seni, hingga pertukaran pakaian, yang semuanya menjadi proses pembelajaran sosial di luar ruang kelas formal (Foto: aks/ceraken.id)
Charity Shop dan Pendidikan sebagai Jalan Pemberdayaan

Salah satu program unggulan JKF adalah Jagger Charity Shop, usaha sosial berbasis pengumpulan dan penjualan kembali pakaian layak pakai. Program ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka sumber pendapatan bagi warga yang terlibat.

Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membantu keluarga kurang mampu, memberikan bantuan pendidikan, serta membiayai mahasiswa desa yang berpotensi namun terkendala ekonomi. Hingga kini, sejumlah mahasiswa berhasil menyelesaikan studi berkat dukungan komunitas tersebut.

Selain itu, JKF juga menjalankan program Lombok Equality Scholarship, pendidikan anak usia dini, bantuan pembangunan sekolah terpencil, hingga program tanggap bencana dan penghijauan desa.

Upaya penanaman pohon, edukasi lingkungan bagi anak-anak, hingga rencana restorasi bakau menunjukkan kepedulian yayasan terhadap masa depan ekologis desa.

Baca Juga :  Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Selama lebih dari satu dekade, berbagai dampak sosial, ekonomi, dan budaya mulai terlihat. Program pembelajaran bahasa membuka peluang bagi anak desa untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Kegiatan literasi meningkatkan keterampilan dasar masyarakat. Sementara pelestarian seni dan sejarah desa menghidupkan kembali identitas budaya lokal.

JKF juga menjadi inspirasi lahirnya komunitas serupa di daerah lain, membuktikan bahwa gerakan berbasis desa mampu menularkan semangat perubahan. Sejumlah relawannya bahkan berhasil memperoleh beasiswa studi lanjut di luar negeri melalui rekomendasi yayasan.

Meski berkembang, tantangan tetap ada. JKF membutuhkan sistem manajemen yang lebih profesional, perekrutan relawan yang lebih sistematis, serta dukungan pendanaan berkelanjutan.

Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi seperti Universitas Mataram, diharapkan mampu memperkuat sistem pembinaan relawan dan pengelolaan organisasi.

Ke depan, JKF menargetkan berdirinya pusat pembelajaran Bahasa Inggris berbasis komunitas, penyebaran kotak donasi pakaian di berbagai kota, hingga membantu lebih banyak mahasiswa desa memperoleh pendidikan tinggi.

Mereka juga bercita-cita menjadi rujukan organisasi sosial berbasis desa di tingkat provinsi.

Kisah JKF dan kegiatan Beriuk Betukah memperlihatkan bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari program besar pemerintah, tetapi juga dari inisiatif warga yang bergerak bersama.

Pertemuan, berbagi pakaian, membaca buku, dan berdiskusi sederhana bisa menjadi pintu perubahan bagi masa depan anak-anak desa.

Ahmad Junaidi menutup sesi berbagi dengan harapan agar semakin banyak orang baik terlibat, membantu pendidikan, pengembangan kapasitas relawan, hingga memperkuat usaha sosial yang telah berjalan.

Di tengah tantangan pembangunan desa, kisah ini menunjukkan satu hal penting: harapan bisa tumbuh dari tempat sederhana, selama ada orang-orang yang mau bergerak bersama.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA