CERAKEN.ID — Ketika gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) dan meninggalkan kebutuhan mendesak di berbagai wilayah, bantuan kemanusiaan menjadi bagian penting dari upaya menjaga kehidupan tetap berjalan.
Di tengah situasi tanggap darurat itu, PT Pegadaian (Persero) bergerak melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pegadaian Peduli, menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak di sejumlah kabupaten. Bantuan tahap awal itu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus meringankan beban para penyintas yang masih menghadapi situasi sulit pascagempa.
Menjangkau Tujuh Kabupaten Terdampak
Melalui PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah VII Bali Nusra, bantuan disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak, yakni Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai, Ende, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Ngada.
Bantuan yang dibawa ke daerah-daerah terdampak mencakup paket sembako dan bahan pangan pokok, air bersih, perlengkapan bayi dan balita, obat-obatan, perlengkapan sanitasi, hingga kebutuhan pengungsian seperti tenda, selimut, dan tikar lipat.
Penyalurannya dilakukan melalui berbagai mekanisme. Sebagian bantuan diberikan langsung kepada masyarakat terdampak, sementara sebagian lainnya disalurkan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta jaringan relawan yang berada di lapangan. Pola ini ditempuh agar bantuan dapat bergerak lebih cepat, menjangkau wilayah yang membutuhkan, dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian (Persero) Kanwil VII Bali Nusra, Edy Purwanto, mengatakan respons tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus gerak cepat Pegadaian terhadap masyarakat yang terdampak gempa.
“Kami berupaya bergerak cepat untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur. Bantuan ini diharapkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan dasar masyarakat, khususnya para penyintas yang saat ini masih berada di lokasi pengungsian. Kami juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak di lapangan agar bantuan yang diberikan dapat tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.”
Di Kabupaten Ende, bantuan Pegadaian diterima langsung oleh Bupati Ende pada 20 Agustus 2026. Penyerahan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak sekaligus mendukung penanganan bencana di wilayah tersebut.
Pada hari yang sama, bantuan juga disalurkan melalui BPBD Kabupaten Nagekeo dan diterima oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo.
Dari Posko Maurole hingga Wilayah Sulit Dijangkau
Sehari kemudian, 21 Agustus 2026, bantuan kembali bergerak ke Maurole, Kabupaten Ende, dan diserahkan melalui Posko Koramil Maurole. Distribusi logistik menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi masyarakat di sejumlah wilayah Flores yang sulit diakses.
Untuk menjangkau daerah tersebut, Pegadaian melibatkan relawan Indonesia Off-Road Federation (IOF). Dukungan jaringan relawan ini memungkinkan bantuan logistik bergerak menuju kawasan yang membutuhkan akses khusus.

Penyaluran bantuan juga dilakukan oleh Tim SPI Ende untuk meneruskan bantuan dari Tim SPI Selindo ke sejumlah posko dan desa terdampak, di antaranya Posko Desa Beremari, Desa Wolokaro, dan Desa Rukuramba di Kecamatan Nangapanda.
Tim juga memberikan perhatian kepada warga terdampak yang mengalami kondisi khusus, termasuk seorang nasabah yang sedang menderita stroke setelah rumahnya mengalami keretakan dan kerusakan akibat gempa.
Sebelumnya, pada 17 Agustus 2026, Pegadaian Cabang Maumere telah menyerahkan bantuan paket sembako di Posko Bencana Maumere. Di wilayah lain, Pegadaian Cabang Ruteng turut menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak di Kabupaten Manggarai, sementara Deputi Bisnis Area Ende menyalurkan bantuan sembako dan sarana prasarana ke posko bencana di Kabupaten Manggarai Barat.
Rangkaian penyaluran tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya dengan satu jalur distribusi. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, BPBD, relawan, dan jaringan masyarakat menjadi penting agar bantuan dapat bergerak hingga ke wilayah yang sulit dijangkau.
Komitmen Hadir di Tengah Masa Sulit
Kepada ceraken.id, Selasa, 25 Agustus 2026, Deputi Bisnis Area Ende, I Gede Anom Sastrawan, menegaskan bahwa kehadiran Pegadaian di wilayah terdampak merupakan bagian dari komitmen untuk bersama-sama menghadapi masa sulit.
“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian dan komitmen kami untuk meringankan masyarakat terdampak,” ujar Anom Sastrawan.
Menurutnya, wilayah kerja Pegadaian Area Ende memiliki cakupan yang luas, meliputi Pulau Flores, Pulau Sumba, dan Pulau Lembata. Jangkauan tersebut sekaligus menempatkan Pegadaian sebagai salah satu bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat di berbagai pulau di Nusa Tenggara Timur.
Selain layanan gadai yang memberikan akses pinjaman dengan jaminan emas, kendaraan, elektronik, dan barang berharga lainnya, Pegadaian juga menyediakan layanan investasi emas melalui tabungan dan cicil emas. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, tersedia pula berbagai solusi pembiayaan untuk mendukung kebutuhan modal kerja.
Layanan-layanan tersebut kini juga terintegrasi melalui aplikasi Tring!, sebuah platform yang memungkinkan masyarakat mengakses berbagai transaksi dalam ekosistem keuangan dan emas. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat membeli, menjual, menabung, mencicil, hingga mencetak emas, sekaligus memanfaatkan layanan gadai dan memantau portofolio aset.
Koordinasi untuk Pemulihan
Di tengah proses penanganan dampak gempa, Pegadaian terus melakukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD setempat, serta jaringan kantor Pegadaian di wilayah NTT. Koordinasi dilakukan untuk mengidentifikasi perkembangan kondisi di lapangan dan kebutuhan masyarakat terdampak, termasuk kondisi nasabah maupun fasilitas operasional Pegadaian.
Penyaluran bantuan di tujuh kabupaten menjadi bagian dari komitmen Pegadaian untuk hadir ketika masyarakat menghadapi situasi darurat. Kehadiran pemerintah daerah, BPBD, relawan, dan berbagai elemen masyarakat diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan kepada kelompok yang paling membutuhkan.
Pegadaian juga menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan menyiapkan bantuan lanjutan sesuai kebutuhan masyarakat. Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya membantu para penyintas melewati masa tanggap darurat, tetapi juga ikut menopang proses pemulihan pascabencana.
Melalui Pegadaian Peduli, kepedulian diterjemahkan bukan semata dalam bentuk penyaluran logistik, melainkan juga melalui kehadiran dan kerja bersama. Di tengah rumah-rumah yang retak, posko-posko pengungsian, dan wilayah yang sulit dijangkau, bantuan menjadi penanda bahwa masyarakat terdampak tidak menghadapi masa sulit itu sendirian. (*/aks)



























































