Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

- Penulis

Kamis, 27 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

Oleh: Rusdin Tompo – Inisiator Komunitas Puisi [KoPi] Makassar; Koordinator Satupena Sulawesi Selatan

CERAKEN.ID — Suatu sore, menjelang Magrib, pertengahan Agustus 2020. Saya tengah berada di lantai 2 Gedung Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan bersama Heri Rusmana, Syamsir Alam, dan Abdul Hadi–ketiganya merupakan pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan.

Tak lama berselang, Mohammad Hasan Sijaya, SH, MH, Kepala DPK Provinsi Sulawesi Selatan, terlihat akan masuk ke ruangannya, yang pintunya berada di sisi kanan gedung. Namun sebelum masuk, Hasan Sijaya berhenti dan menoleh ke luar jendela kaca. Beliau lalu memanggil saya, minta saya mendekat.

“Pak Rusdin, lihat. Sebentar, kalau lampunya nyala, taman di sebelah itu indah sekali,” kata Hasan Sijaya sembari tangannya menunjuk ke arah selatan.

Mata saya mengikuti arah telunjuknya, melihat bentangan string lights yang biasa dipasang di kafe-kafe. Benar saja, hanya dalam hitungan detik, bohlam-bohlam lampu itu dinyalakan, memberi efek visual nan indah, menyembul di antara rimbun daun-daun hijau.

Waktu peralihan dari cahaya alami siang hari (daylight), terasa beda ketika lampu-lampu outdoor dinyalakan, memancarkan cahaya kuning kemerahan yang lembut. Warna yang memberi efek nyaman dan rileks ini, seolah menyatu sempurna dengan cahaya langit Magrib (golden hour) di Talasalapang.

“Apa bagus kita bikin di situ untuk menghidupkan taman bacanya?” tanya Hasan Sijaya, dengan pandangan yang masih diarahkan ke taman yang berada tepat di depan Masjid Ashabul Jannah tersebut.

“Bikin ki acara pembacaan puisi, dalam rangka HUT Kemerdekaan RI, Pak,” usul saya, spontan.

Hasan Sijaya langsung setuju, akan menggelar kegiatan pembacaan puisi. Namun bukan persis di tanggal 17 Agustus, karena paginya mereka upacara bendera. Pilihannya, kegiatan akan diadakan keesokan harinya: 18 Agustus. Jadi semacam ramah tamah dalam rangka perayaan Proklamasi Kemerdekaan RI.

Secara ringkas, kepada Hasan Sijaya, saya sempat menceritakan pernah punya pengalaman bikin acara baca puisi Sajak-Sajak Merdeka di Makkareso. Juga bersama beberapa teman di Komunitas Puisi (KoPi) Makassar, pernah mencoba mengadakan Sajak Sabtu Sore di kafe.

Masih di kantor DPK Provinsi Sulawesi Selatan, yang berada di Jalan Sultan Alauddin Km 7, Makassar, saya sudah menjapri Nasrul, minta tolong dibuatkan flyer desain kegiatan pembacaan puisi.

Nasrul, adalah teman yang biasa mendesain buku-buku saya, juga desainer grafis yang membuat flyer, spanduk, backdrop, logo, dan lain-lain.

Setelah ngobrol dengan Hasan Sijaya, dan teman-teman pustakawan, saya pamit pulang.

“Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil”. Sabtu, 12 Juni 2021 (foto: aks / ceraken.id)

Tak lama setelah tiba di rumah, Nasrul mengirim draft flyer dari teks yang saya berikan. Saya meminta dia menambahkan ornamen berupa bendera-bendera merah putih kecil–sebagaimana biasa warga memasang rangkaian bendera merah putih di lorong/gang pada saat menyambut tujuh belasan.

Begitu perbaikan desainnya dikirim ulang, dan saya anggap sudah bagus, saya bagikan flyer tersebut di grup WhatsApp Festival Aksara Lontaraq. Grup ini dibentuk, sebagai medium untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dalam rangka pelaksanaan Festival Aksara Lontaraq, yang diinisiasi Upi Asmaradhana, founder Kabar Makassar.

“Tappa’ ma.” Itu stiker berbahasa Makassar, yang diberikan Hasan Sijaya, sebagai respons atas flyer yang saya bagikan.

Puisi Merdeka, Merdeka Berpuisi

Pada awal pelaksanaan kegiatan pembacaan puisi, belum diberi nama Sastra Sabtu Sore. Di flyer tertulis pembacaan “Puisi Merdeka, Merdeka Berpuisi”, digelar dalam rangka memperingati 75 Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI.

Ada tiga logo lembaga dalam flyer, yakni Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan, Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS), dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar. LAPAKKSS dimasukkan karena Yudhistira Sukatanya dan saya, saat itu, merupakan pengurus lembaga seni budaya yang dimotori oleh Dr. Ajiep Padindang, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

Acara diadakan pada Selasa malam, tanggal 18 Agustus 2020, bertempat di Taman Baca Masjid Ashabul Jannah, Jl. Sultan Alauddin Km 7 Makassar. Staf DPK Provinsi Sulawesi Selatan, menyuguhkan kopi susu, sarabba, pisang goreng dan ubi goreng pada tamu-tamunya yang hadir.

Meski di masa pandemi Covid-19, saya melihat antusiasme mereka yang hadir dari kalangan penyair, sastrawan, seniman, mahasiswa, dan budayawan. Ada semacam kerinduan orang bertemu dalam sebuah event pembacaan karya-karya sastra, meski diberlakukan pembatasan sosial, berupa social distancing dan physical distancing untuk mencegah penularan virus corona (Coronavirus) tersebut.

Malam itu, acara dipandu oleh Andhika Mappasomba, penggiat literasi asal Bulukumba. Panggung berukuran 7×5 meter terlihat hidup ketika tampil anak-anak binaan Dewan Kesenian Gowa. Mereka memadukan puisi dan gerak tari, diiringi kesok-kesok oleh Ancu Batara. Basri B Sila (Daeng Bas), juga menampilkan pertunjukan musik dan sastra liris bersama anak-anak.

Hasan Sijaya menyampaikan, ia memang mengimpikan sebuah tempat berkumpul dan berkreasi, yang jadi ruang ekspresi bagi mereka yang suka berpuisi, bernyanyi, menari, melukis atau lainjya. DPK Provinsi Sulawesi Selatan, katanya, siap memfasilitasi dengan menyediakan Taman Baca sebagai panggung pertunjukan.

“Mimpi saya, taman baca ini akan jadi tempat nongki-nongki kita,” ujarnya, yang disambut tepuk tangan hadirin.

Dengan rendah hati diakui, taman baca yang berada di area kantornya itu, relatif agak sempit. Namun, dia yakin, bila hati kita luas dan terbuka menerima setiap orang yang datang, maka panggung itu akan terasa melebihi luasnya lapangan Karebosi.

Sebagian cerita tentang Sastra Sabtu Sore ini, bisa dibaca dalam buku Hasan Sijaya: Manusia Biasa, Karya Luar Biasa, yang ditulis Idwar Anwar, Yudhistira Sukatanya, dan Upi Asmaradhana. Memoar Hasan Sijaya ini, diterbitkan Pustaka Sawerigading, tahun 2022.

Hasan Sijaya dalam berbagai kesempatan, memang selalu menekankan bahwa perpustakaan merupakan rumah bagi para penggiat literasi, penulis, sastrawan, seniman, dan budayawan. Birokrat yang hobi menyanyi ini, disebut “tena ruanna”, lantaran ia sosok yang inovatif, awesome, dan sombere.

Baca Juga :  Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar
“Serpihan Tak Tersisa”. Sabtu, 21 Juni 2021 (foto: aks / ceraken.id)

Usai acara, kami masih ngobrol. Muncul keinginan agar acara ini berkelanjutan, sehingga perlu nama sebagai branding acara.

Saya mengusulkan nama Sajak Sabtu Sore, diadakan akhir pekan, sebagaimana pernah saya lontarkan kepada Hasan Sijaya, ketika mencetuskan acara ini.

Yudhistira Sukatanya bilang, sebaiknya bukan sajak atau puisi saja, tetapi karya sastra pada umumnya. Maka disepakati namanya menjadi Sastra Sabtu Sore.

Sempat muncul seloroh, S5, kepanjangan dari Sastra Sabtu Sore ditemani sarabba dan kopi susu hehehe.

Acara dengan nama Sastra Sabtu Sore, pertama kali diadakan pada Sabtu, 5 September 2020, menghadirkan Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum dan Yudhistira Sukatanya sebagai narasumber.

Di flyer yang kami sebar, juga mencantumkan Pasara (Pasar Sastra), sebagai wacana menghadirkan buku-buku sastra karya penerbit lokal.

Pada edisi perdana, dibahas puisi-puisi karya Kembong Daeng (saat itu belum Guru Besar), yang terhimpun dalam buku Antologi Puisi “Perempuan Makassar”.

Kembong Daeng, saat itu, merupakan Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Daerah FBS UNM. Beliau dikenal sebagai sosok yang tekun menulis buku ajar Basa Mangkasarak.

Buku-buku yang sudah dihasilkan, baik individu atau tim, antara lain: “Gaya Bahasa Makassar”, “Sintaksis Bahasa Makassar”, “Pappilajarang Basa Mangkasarak untuk SD kelas I-VI (Sipakainga)”, “Pappilajarang Basa Mangkasarak untuk SMP kelas VII-IX”, “Kosakata Tiga Bahasa (Indonesia-Makassar-Bugis), dan “Kelong-kelongna Tau Mangkasaraka”.

Poin yang disampaikan Kembong Daeng, adalah pentingnya keikhlasan dalam berkarya. Ia juga mendesak agar pembelajaran bahasa daerah lebih diintensifkan.

Aktivis NGO senior, Asmin Amin, tampil dengan busana khas hitam-hitam membaca puisi. Sementara Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNM, Dr Mayong Maman, M.Pd, mengapresiasi karya-karya yang sudah ditelorkan Kembong Daeng.

“Jika dulu ada ungkapan Chairil Anwar, yang bukan penyair, tidak perlu ambil bagian, maka di Sastra Sabtu Sore, justru yang bukan penyair diajak, silakan terlibat,” ujar Yudhistira Sukatanya.

Yudhistira Sukatanya merupakan seorang penulis, sutradara teater, dan sastrawan, yang aktif memajukan dunia literasi. Mantan Kepala Stasiun RRI di Natuna dan Ternate, yang punya nama asli Eddy Thamrin ini, juga merupakan budayawan Sulawesi Selatan.

Walau berharap Sastra Sabtu Sore berlangsung kontinu, rupanya tidak semudah yang dibayangkan. Kegiatan Sastra Sabtu Sore, baru bisa diadakan lagi pada Sabtu, 3 April 2021.

“Bermain di Pasar Ampenan”. Sabtu, 2 Oktober 2021 (foto: aks / ceraken.id)

Kali ini, membahas buku anak, dalam rangka “Hari Buku Anak Sedunia”. International Children’s Book Day, diperingati setiap tanggal 2 April, untuk merayakan hari kelahiran penulis dongeng terkenal, Hans Christian Andersen, asal Denmark.

Saya mengajak Madia S. Nura, penulis buku cerita anak Sulawesi Selatan, sebagai pembicara. Sebagai penulis dan pembicara isu media dan anak, saya merasa pembahasan buku-buku bertema anak perlu lebih diberi ruang.

Perempuan yang dikenal sebagai pendongeng dan akrab disapa Madia Gaddafi ini, sudah menghasilkan sejumlah buku, antara lain Pung Julung-Julung, Perpustakaan Paman Burhan, Petualangan Zea, Mae, dan Bassang, Pohon Besar di Bulan, Putri Rambut Kusut, Ayam Warna Warni, Sangiang Serri’ dan Kucing Penjaga Padi.

Acara dipandu Shafira Devi Amorita, S.IP, dari Rumah Dongeng, sebagai moderator. Acara ini diramaikan pula oleh beberapa murid SD Negeri Borong, Kecamatan Manggala, yang tampil membaca puisi.

Sastra Sabtu Sore berlanjut, Sabtu, 12 Juni 2021. Agus K Saputra yang, kala itu, belum lama pindah dari Kendari ke Makassar, seolah menemukan rumah baru.

Sebagai profesional yang berkarier di PT Pegadaian (Persero) tbk, Agus K Saputra terbilang produktif menciptakan puisi.

Bukunya, “Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil”, dibincangkan dalam acara Sastra Sabtu Sore edisi ketiga.

Saya bertindak sebagai moderator, dengan narasumber, masing-masing Agus K. Saputra (Penulis Buku), Dr. Asis Nojeng (Akademisi/Penggiat Literasi), dan Damar l Manakku (Penyair/Penggiat Literasi).

Sastra Sabtu Sore selanjutnya membincangkan buku Sehimpun Puisi”Serpihan Tak Tersisa” karya Nur Failia Majid, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Makassar.

Kegiatan yang diadakan pada Sabtu, 26 Juni 2021 ini, menampilkan Nur Failia Majid (Penulis Buku), sebagai pembicara, dengan pembahas Anil Hukma (Akademisi/Penyair), dan Muh. Amir Jaya (Penyair).

Live Siaran di RRI Makassar

Sastra Sabtu Sore, yang dihelat pada Sabtu, 24 Juli 2021, terasa istimewa karena diadakan untuk merayakan Hari Puisi Indonesia (HPI).

Tema acara yang disiarkan live Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar itu, adalah “Merawat NKRI dengan Nyala dan Nyali Puisi”.

“Seorang Lelaki yang Berkisah”. Sabtu, 11 Desember 2021 (foto: aks / ceraken.id)

Acaranya diadakan malam hari, di lantai dua Gedung Perpustakaan Digital DPK Provinsi Sulawesi Selatan, supaya sinkron dengan slot waktu siaran langsung yang diberikan RRI Pro4 Makassar FM 92,5 Mhz.

Hari itu, ada peluncuran buku antologi puisi “Resolusi dalam Puisi” dari KoPi Makassar, dan penandatanganan MoU antara KoPi Makassar dengan Prodi Bahasa dan Sastra Daerah FBS UNM.

Sebagai inisiator KoPi Makassar, saya menyebut momen itu sebagai peristiwa bersejarah karena bisa launching buku dan menandatangani  kesepahaman bersama dengan salah satu perguruan tinggi ternama di Sulawesi Selatan.

Kemasan acara yang ditampilkan teman-teman cukup variatif, antara lain rampak puisi, kelong bahasa Makassar, sanja Mangkasara, puisi berantai, musikalisasi puisi, serta kolaborasi lagu dan puisi.

Asis Nojeng dkk bahkan sempat mengejutkan hadirin. Pasalnya, mereka membaca puisi sambil membawa dupa, yang asapnya mengisi seisi ruangan.

Partisipan Sastra Sabtu Sore, edisi perayaan Hari Puisi Indonesia 2021, terdiri dari DPK Provinsi Sulawesi Selatan, LAPAKKSS, KoPi Makassar, Prodi Bahasa dan Sastra Daerah FBS UNM, Prodi Bahasa dan Sastra FKIP Unismuh, Bengkel Sastra UNM, Asosiasi Pelestari Bahasa Daerah, K-Apel, Akal dan Rasa, serta Bengkel Seni Bassi Unismuh Makassar.

Dukungan dari RRI Makassar, untuk siaran live, kembali diberikan ketika diadakan di SMPN 33 Makassar, atas ajakan Chairuddin Hakim, yang kala itu sebagai Plt Kepala SMP Negeri 33.

Chairuddin Hakim, selain pendidik, juga merupakan penyair, seniman, dan budayawan, serta penulis buku Kelong Mangkasara.

Baca Juga :  Kemiskinan NTB Menurun, Pekerjaan Berikutnya Lebih Berat

Berlokasi di SMP Negeri 33 Makassar Jl. Tamalate 8 No. 1 Perumnas Tamalate, kami merayakan HUT ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia, dengan tajuk Kenduri Puisi Kemerdekaan, pada Rabu, 18 Agustus 2021.

Acara diadakan bukan di hari Sabtu, karena alasan penyesuaian waktu dengan siaran RRI, dan momen tujuh belasan.

Kegiatan temu penyair, pembacaan puisi, serta pameran dan pembacaan Kelong Mangkasara ini, dirangkaikan pula dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Gerakan Literasi Sekolah antara KoPi Makassar dengan SMPN 33 Makassar.

Sesuai semangatnya, kegiatan di sekolah memotivasi sejumlah guru dan siswa membacakan puisi-puisi mereka. Prof. Kembong Daeng, Chairuddin Hakim, Rosita Desriani, Muhammad Naafi Ramadhan, antara lain tampil membaca puisi.

Kolaborasi dan Ekosistem Sastra
“Resolusi dalam Puisi”. Sabtu, 19 Maret 2022 (foto: aks / ceraken.id)

Sastra Sabtu Sore terus bergerak. Guna memeriahkan Bulan Bahasa, kegiatan kolaboratif ini diadakan di The Gade Coffee & Gold, Jalan Tamalanrea Raya Blok M Nomor 2, Kompleks Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Makassar, Sabtu, 2 Oktober 2021.

Buku yang dibincangkan adalah Kumpulan Puisi “Bermain di Pasar Ampenan” karya Agus K. Saputra. Selain Agus K Saputra, Yudhistira Sukatanya tampil sebagai pembicara, dengan moderator: Melati Syahrir (Penggiat Literasi).

Di bulan Oktober, kembali diadakan Sastra Sabtu Sore, tepatnya pada tanggal 23 Oktober 2021, bertempat di The King Coffee Jalan Skarda N I Nomor 2 Makassar (dekat Puskesmas Mangasa).

Buku yang didiskusikan adalah kumpulan Cerpen “Memeluk Retak” karya I.R. Makkatutu, dengan narasumber I.R. Makkatutu (Penulis), Asis Nojeng (Akademisi), dan Damar I Manakku (Penerbit). Mami Kiko, yang dikenal sebagai pendongeng, bertugas sebagai moderator.

Acara Sastra Sabtu Sore ini, dibuka dengan pembacaan puisi oleh Maysir Yulanwar, yang membacakan puisi karya Srie Astuti Asdy berjudul “Pulang ke Dasar Hatimu”.

“Sastra Sabtu Sore merupakan upaya kecil para penggiat literasi untuk menggairahkan sastra di Sulawesi Selatan,” jelas Yudhistira Sukatanya saat memberikan sepatah kata dalam acara Sastra Sabtu Sore, hari itu.

Sastrawan dan sutradara teater itu berharap, kelak acara ini dikembangkan dan menjadi semacam tur sastra. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi dan sinergitas dengan para penggiat sastra di daerah.

Ide ini bisa dimulai dengan mengajak penulis dan penggiat literasi di Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba. Bisa juga diawali dari Maros, Pangkep Barru, hingga ke Parepare.

Masih berkaitan dengan buku kumpulan cerpen, Sastra Sabtu Sore pada edisi Sabtu, 11 Desember 2021, membahas buku “Seorang Lelaki yang Berkisah” karya Ilyas Ibrahim Husain.

Acara yang dihelat di The King Coffee Jalan Skarda N I Nomor 2 itu menghadirkan narasumber Ilyas Ibrahim Husain (Penulis), Tetta Sally (Pimred http://Karebaindonesia.id), dan M. Galang Pratama (Penerbit), dengan moderator Rosita Desriani.

Buku antologi KoPi Makassar, “Resolusi dalam Puisi”, yang dikerjakan pada 2020, dan diterbitkan tahun 2021, akhirnya dibahas oleh tiga narasumber, yakni Yudhistira Sukatanya (Sastrawan), Maysir Yulanwar (Penyair), dan Anil Hukma (Akademisi), pada Sabtu, 19 Maret 2022.

Diskusi buku puisi di Figor Cafe, Cabang BTP Tamalanrea ini, diadakan oleh KoPi Makassar, dan Satupena Sulawesi Selatan.

Merayakan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2022, KoPi Makassar dan Satupena Sulawesi Selatan, mengadakan Sastra Sabtu Sore di Roemah Lamdoek, Jalan Lamadukelleng, Sabtu, 30 Juli 2022.

Puisi adalah karya sastra yang unik. Saking uniknya, puisi nyaris tak lagi punya definisi (foto: aks / ceraken.id)

HPI diperingati setiap tanggal 26 Juli, merujuk pada hari kelahiran penyair Chairil Anwar. Tahun 2022, merupakan pelaksanaan HPI yang bertepatan dengan peringatan 100 tahun pelopor Angkatan ’45 tersebut.

Hari itu, tema spesialnya berupa pembacaan puisi-puisi cinta: Pulang ke Cinta. Cinta merupakan tema universal, lintas generasi, dan tetap aktual.

Pada kesempatan itu, saya sampaikan impian yang berkali-kali saya lontarkan. Bahwa saya menginginkan aktivitas pembacaan karya sastra, khususnya puisi, laiknya live music atau berkaraoke, sebagai sarana edukasi agar karya sastra semakin dekat dan tak berjarak dengan masyarakat pembacanya.

Sore hingga menjelang malam, para pembaca puisi tampil bergantian diiringi petikan gitar Romy–guru musik yang biasa memberi les privat.

Pembaca puisi antara lain, Putri Kumalasari (Duta GenRe Sulawesi Selatan), Indah (novelis), Lisana (mahasiswa), dan Mutmainnah yang datang membaca puisi ditemani anak kecilnya. Juga ada pasangan suami istri Yudhistira Sukatanya dan Dewi Ritayana, Rosita Desriani, Handayani Hasan, Maysir Yulanwar, Agus K Saputra, Rahmat Soni, dan Wawan dari Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ).

Dalam Rangka Hari Ayah Nasional, kami merayakannya dengan mengadakan peluncuran dan diskusi buku Kumpulan Puisi dan Musikalisasi Mencari Rumah Sembunyi karya Agus K. Saputra, yang merekam dan mendokumentasikan pengalaman penulisnya saat dibekap Covid-19.

Selain Agus K. Saputra (penulis), pembincang buku ini adalah Anil Hukma (akademisi & penyair), dan Maysir Yulanwar (penyair).

Acara yang dipandu Rosita Desriani ini, diadakan di Roemah Masagena, Jalan  Pengayoman No. 34 Makassar, pada Sabtu, 12 November 2022.

Acara dibuka oleh Icha, murid SD Negeri Borong, yang membawakan lagu “Harta Berharga” ciptaan Arswendo Atmowiloto dan Harry Tjahyono.

Selain itu, ada pula kolaborasi pembacaan puisi dan musikalisasi oleh Dzafran, murid SD Negeri Borong, dan Kang Soni Hendrawan, yang dilakukan secara daring. Dzafran berada di lokasi acara, sedangkan Kang Soni berada di Sukabumi.

Maysir Yulanwar membuat catatan terhadap buku Agus K Saputra. Menurutnya, karena puisi lebih bersifat semiotik, maka puisi mempersila penyairnya melakukan upaya “Pergeseran Makna (Displecing). “Perusakan makna” (Distorsing), dan “Penciptaan Makna (Creating). Puisi adalah karya sastra yang unik. Saking uniknya, puisi nyaris tak lagi punya definisi.

Sebanyak 300 puisi karya Kang Agus sudah dimusikalisasi oleh Kang Soni Hendrawan. Semua karya itu bisa dinikmati di kanal YouTube miliknya. Tinggal menyorot gadget ke barcode, langsung terhubung ke youtube.

“Jenis buku seperti ini yang dibutuhkan kekinian zaman,” pungkas Maysir Yulanwar. (*)

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Tradisi ke Masa Depan: Mandalika Menjadi Panggung Kebudayaan
Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar
“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”
Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan
Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya
Kemiskinan NTB Menurun, Pekerjaan Berikutnya Lebih Berat
Pertumbuhan Ekonomi NTB: Tinggi Angkanya, Perlu Merata Manfaatnya
Sokola, Relawan Mandiri, dan Butet Manurung

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:31 WITA

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:32 WITA

Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:33 WITA

“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:44 WITA

Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:33 WITA

Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA