Senja di Savana Bale Tepak Batujai*

Jumat, 20 Maret 2026 - 04:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Ilustrasi:

(Ilustrasi: "Embrio" - Dery Firmansyah)

Dyah Ruwiyati

CERAKEN.ID — “Bun, bagaimana perasaan Bunda ketika mengandung aku?“ tanya Ghiska menyentakkan Syafrina yang sedang asyik menatap semburat jingga di langit bersama sinar bulat matahari berwarna keemasan yang sudah semakin menurun mendekati batas cakrawala.

Perempuan berkerudung warna terakota berpadu dengan busana kasual duduk mengelesot di atas rerumputan tebal menghadap ke arah genangan air bendungan Batujai yang menyurut karena sudah dua bulan ini masanya musim kemarau. Ghiska, gadis penyandang down syndrome [1] berusia 17 tahun dengan busana yang senada dengan sang bunda memosisikan duduk di sebelah kanannya menyandarkan kepala manja di bahu Syafrina.

Syafrina menggerakkan bahunya mengisyaratkan Ghiska untuk mengangkat kepalanya, sementara dia memutar bokongnya 90 derajat untuk menghadap sang putri yang dilahirkan saat usianya menginjak 23 tahun. Ghiska melakukan hal yang sama dengan gerakan kebalikan, sehingga mereka berdua duduk berhadapan. Dengan dua kaki menekuk ujung jari-jari kaki mereka yang tanpa alas saling menyentuh. Sementara senja semakin menjelagakan warna jingga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Gadis cantiknya Bunda…,” Syafrina menggantung ucapannya sambil menjangkau dagu Ghiska dengan jari tangan kanannya yang terulur. Netra kecil Ghiska mencari tatapan bundanya.

“Ghiska ingat bagaimana cerita bunda dulu?” Syafrina menuntaskan kalimat tanyanya. Gadis bersurai sebatas dagu itu mengangguk.

“Dokter mengatakan bahwa bunda akan memiliki seorang putri down sindrom,” jawab Ghiska dengan suara yang sedikit cadel karena memiliki lidah yang tebal.

“Benar sekali. Jujur saat itu bunda merasa shock, tapi ayah menguatkan. Ayah dan bunda membaca banyak literatur tentang down sindrom. Sejak itu ayah dan bunda siap menerima Ghiska apapun keadaanmu,” tandas Syafrina dengan senyum mengembang tanpa melepaskan tatapannya dari belahan jiwanya yang buatnya sudah tumbuh menjadi gadis secantik bidadari.

Ghiska menopangkan dagunya dengan dua telapak tangan yang dipangkukan di atas kedua lututnya. Hidung mungilnya mengendus seolah mengisyaratkan bundanya untuk melanjutkan kisah.

“Sembilan bulan kamu bertumbuh dalam rahim bunda, sampai kamu terlahir dan cinta kami tercurah untukmu seutuhnya, anak hebatku”, Syafrina meraih dua tangan Ghiska setelah menuntaskan kalimatnya. Mengajak berdiri melangkah meninggalkan area savana yang mulai menggelap. Dengan gerakan yang hampir bersamaan mereka mengenakan sandal jepit yang

letaknya tak jauh dari tempat mereka mengelesot semula. Susah payah Ghiska mengikuti langkah kaki jenjang sang bunda dengan tubuh gemuk dan kaki-kaki pendeknya.

Baca Juga :  Hari Kemenangan Mailan

Berdua melangkah meninggalkan padang rumput hijau yang semakin ramai dengan pengunjung yang ingin menghabiskan malam.

Syafrina mensejajarkan langkahnya dengan langkah Ghiska di sisi kirinya dengan merangkul bahu gadis yang tingginya terpaut 15 sentimeter di bawah tinggi tubuhnya yang mencapai 170 senti, menuju area parkir.

“Setahun lalu kita masih bertiga menyusuri tempat ini ya, Gis?” desah Syafrina namun masih cukup jelas terdengar di rungu Ghiska. Gadis itu mengangguk dengan tangan kanan merangkul erat pinggang Syafrina.

“Sekarang juga ayah sedang tersenyum memandang kita dari sana, Bun,” ucap Ghiska lebih mirip bisikan lirih. Netra sipitnya menatap langit yang tidak lagi biru, mengerjap menyisakan binar berkilau terpantul sinar bulan yang mulai menggantikan cahaya mentari.

“Bunda juga mau bertanya sama Ghiska, boleh?.“ Syafrina menoleh sekilas ke arah putri satu-satunya itu. Lewat ekor matanya Syafrina menangkap anggukan berulang Ghiska.

“Sejak Ghiska kecil pernahkah merasakan ayah dan bunda tidak menyayangimu?. Pernahkah Ghiska merasa terluka oleh sikap ayah dan bunda?” Syafrina sengaja melambatkan ucapannya agar Ghiska memahami. Spontan Ghiska menggeleng, dalam hatinya Syafrina menggemakan Alhamdulillah tanpa henti. Memang dari hasil assesmen IQ Ghiska sedikit di atas rata-rata penyandang Down Syndrome kebanyakan. Banyak kemudahan yang Syafrina rasakan setiap berkomunikasi intens dengan Ghiska.

“Buat ayah dan bunda Ghiska adalah harta yang tak ternilai, yang Allah anugerahkan dalam kehidupan kami,” kisah Syafrina sambil mengencangkan rengkuhan tangannya di bahu Ghiska.

“Bunda, jangan tinggalkan Ghiska ya. Cuma bunda yang Ghiska punya saat ini,“ pinta Ghiska dengan suara terputus dan pelukannya yang mengerat.

Ada yang menyesak di dada Syafrina, rasanya bagai ada yang membarutkan hatinya dengan kuku tipis yang tajam. Perih memang, hanya saja sebagai seorang single parent dia tidak boleh tampak lemah di hadapan Ghiska, buah cintanya dengan Firman kekasih hatinya yang sudah lebih dulu berpulang, begitu mendadak dalam tidurnya. Diagnosis dokter serangan jantung karena keletihan.

Firman mewariskan cita-citanya untuk merawat, mendampingi dan menyiapkan Ghiska menjadi pribadi yang mandiri sampai menua bersama. Hanya saja Sang Pemilik Hidup selalu punya rencana dan takdirnya sendiri untuk setiap umatNya yang jauh lebih indah di versiNya.

Harapan Ghiska yang tidak ingin ditinggalkan, seperti itu juga doa yang selalu dilangitkan ketika malam semakin lelap, berharap Allah mengabulkan harapannya. Harapan supaya Ghiska jangan pernah merasakan pedihnya kehilangan. Harapan tidak ada yang membuat Ghiska tersakiti, terusik atau tak terpedulikan.

Baca Juga :  Hari Kemenangan Mailan

Permintaan Ghiska meskipun diucapkan dengan lembut, terpatah nyaris mirip desahan, buatnya seperti dentuman meriam yang nyaris memorak porandakan hati dan jiwanya. Syafrina mencoba mengulaskan senyum di bibirnya yang bergetar dan berusaha menahan tumpahan air dari sepasang netra bulatnya yang memanas.

Setelah duduk di belakang kemudi dan mengembuskan nafasnya untuk menenangkan hati resahnya, Syafrina melajukan city car hitam pekatnya menyusuri by pass menuju kota Mataram, bersama Ghiska yang duduk manis di sisinya . Ritual selanjutnya menyenandungkan lagu favorit mereka bertiga dari KLA Project – Kau t’lah warnai hidupku. Seperti biasa Ghiska pun ikut menyenandungkan refrainnya dengan ceria…

Tiba-tiba kuterkesima seorang dara menjentikkan jarinya

Sekejap semua berubah

Mengagumkan

Kau t’lah warnai hidupku

 Dan tawa merekapun lepas memecah malam. Menyatukan rasa yang membaur seperti pendar-pendar cahaya lampu jalanan dengan biasan aneka warna. Syafrina menggenggam jemari-jemari pendek Ghiska gemas penuh sayang, sepanjang perjalanan menuju rumah mereka di Kota Mataram.

***

Allah Maha Tahu pundak siapa yang kuat, begitu renungan Syafrina sembari memandang matahari senja berwarna keemasan yang sesaat lagi akan tenggelam di batas cakrawala bendungan Batujai. Sendiri, mengelesot di atas hamparan hijaunya rumput savana Bale Tepak.

Allah mengabulkan harapannya untuk tidak membuat Ghiska merasakan pedihnya kehilangan. Allah kabulkan Ghiska tidak merasakan hidup tanpa Ayah dan Bunda. Allah Maha Baik, lewat penyakit jantung bawaan yang tidak terdeteksi dari awal. Ghiska meninggalkannya, menemui belahan jiwanya. Sudah tidak ada lagi air mata yang tumpah meskipun dada masih terasa menyesak. Syafrina mencoba mengulaskan segaris senyum ketika tertangkap pandangannya ada dua bintang muncul berkedip di gelapnya langit. Begitu cemerlang. Terasa ada yang berbisik di dalam hatinya itu adalah bintang Firman dan Ghiska, sang bintang dari surga. Pedihnya kehilangan ternyata dia yang merasakan, berat memang. Meskipun Syafrina tidak pernah tahu  apa yang akan dilaluinya kemudian, namun ia harus tetap menjalani hidup mengikuti garis takdirnya.

Jogja, 9-9-22

[1] Kelainan kromosom genetik 21 yang menyebabkan keterlambatan perkembangan dan intelektual. Memiliki wajah yang khas. Banyak yang menyebut Anak kembar sedunia, wajah mereka mirip dan khas.

*Cerpen ini termasuk dalam antologi “Romantika Rasa, Huwara Publishing, 2023, hal. 22

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Hari Kemenangan Mailan
Menjadi ASN Semestinya
Ia Menjadi Jejak di Pikiran
Hujan Duka
Noktah Merah di Cangkir Kopi
Ataraxia: Ketenangan Jiwa yang Murni
Laksita Ratnaloka Permana Sari
Syafaat

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:26 WITA

Hari Kemenangan Mailan

Kamis, 30 April 2026 - 10:32 WITA

Menjadi ASN Semestinya

Jumat, 20 Maret 2026 - 04:29 WITA

Senja di Savana Bale Tepak Batujai*

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:56 WITA

Ia Menjadi Jejak di Pikiran

Rabu, 11 Maret 2026 - 11:57 WITA

Hujan Duka

Berita Terbaru

Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan antikorupsi sejatinya memiliki akar yang sama dengan ajaran moral dan spiritual yang diajarkan agama (foto: ppid.mataramkota.go.id / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Hijrah, Integritas, dan Ikhtiar Membangun Bangsa

Rabu, 17 Jun 2026 - 11:37 WITA

Kliping yang mulai memudar menjadi pengingat, keteguhan dalam berkesenian tidak selalu lahir dari panggung besar (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Warjack, Keteguhan yang Tak Lekang oleh Waktu

Rabu, 17 Jun 2026 - 09:34 WITA

Kreativitas selalu kembali pada pilihan manusia untuk memberi makna atas hidupnya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Di Antara Suno, Lagu Asli, dan Pilihan Menjadi Manusia

Selasa, 16 Jun 2026 - 16:28 WITA