Sepatu Dijinjing dan Pegangan Tangan

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Meskipun ia sudah beberapa kali memotret murid menenteng sepatu di tepi jalan, tapi tetap saja ingin mengabadikannya (Foto: ss / ceraken.id)

Meskipun ia sudah beberapa kali memotret murid menenteng sepatu di tepi jalan, tapi tetap saja ingin mengabadikannya (Foto: ss / ceraken.id)

Oleh: Sigit Susanto*

CERAKEN.ID — Jalanan yang kami, aku bersama istri, lalui menawarkan banyak tontonan. Bisa dibilang itu tontonan remeh temeh, tidak penting, keseharian yang biasa. Di mana letak keunikannya?

Tetapi bagi pendatang baru di Lombok, seperti aku yang berasal dari Kendal, Jawa Tengah dan terutama istriku, Claudia Beck Susanto berasal dari Switzerland, tentu menjadi sesuatu yang istimewa.

Beberapa kali saat kami kendarai motor dari Sandik menuju Senggigi, aku ditepuk lenganku dari belakang oleh Claudia, saat melintasi deretan murid-murid pulang sekolah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Stop, stop, stop,…ada anak pulang sekolah membawa sepatunya.

Kontan aku memberi lampu dim kiri untuk menepi atau kalau deretan murid pulang sekolah itu agak panjang, maka motor aku perlamban.

Claudia mengabadikan momen itu dengan telepon genggamnya di tangan. Tak jarang murid-murid yang kebetulan berada di seberang jalan memergoki sedang difoto, mereka melambaikan tangan sambil berucap, Helo, hello.

Motor bergerak ke depan dan Claudia memberitahu, bahwa kejadian itu sangat menarik, karena tidak ada murid sekolah di Swiss pulang sekolah melepas sepatunya dan ditenteng dengan tangan.

Aku merespon kekagumannya. Pemandangan seperti itu ada di mana-mana di Indonesia, khususnya yang tidak di kota  besar. Alasannya, mungkin di tepi jalan banyak genangan air usai hujan. Dan jalanan becek. Mereka lebih sayang sepatunya, karena lekas rusak.

Baca Juga :  Di Tengah Dominasi AI, Keaslian Manusia Kembali Dicari

Sempat aku tanyakan kepada salah satu mahasiswa Mataram, Kenapa murid-murid di Lombok, terutama rute yang kami lewati, antara desa Sandik ke pantai Senggigi, murid sering menenteng sepatunya?

Ia menjawab, “Faktor alami saja. Lebih nyaman jalan dengan kaki telanjang. Jalan dengan memakai sepatu itu, terasa bagaimana ya, kurang nyaman.”

Perbincangan murid pulang sekolah menenteng sepatu itu terus berlangsung di sela-sela makan, santai di rumah. Bagi Claudia itu sebuah keunikan yang indah.

Dan setiap kami melewati atau berpapasan dengan murid memegang sepatu, aku sudah ada firasat akan ditepuk dari belakang. Dan benar adanya. Meskipun ia sudah beberapa kali memotret murid menenteng sepatu di tepi jalan, tapi tetap saja ingin mengabadikannya.

Aku kadang juga memberi tambahan cerita, kalau zamanku di Sekolah Dasar dulu tahun 1970-an, di desaku Bebengan, Boja, Jawa Tengah, jangankan sepatu, memakai baju saja dianggap mewah. Sebab di kelasku, ada 4-5 murid sekolah memakai kaus singlet bertahun-tahun. Ya, karena harga kaus singlet lebih murah, ketimbang baju.

Tapi di desaku di Jawa sekarang sudah semakin maju, pemandangan murid pulang sekolah membawa sepatu di tangan, sudah jarang terlihat. Meskipun tetap masih ada.

Baca Juga :  Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Pada kesempatan lain, motor kami berderu dengan mesin halus hampir mirip motor elektrik, memasuki desa Sandik lagi, bertemu murid-murid Sekolah Dasar pulang ke rumah.

Dua murid tangannya saling bergandengan. Lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan tentunya.

Aku digebuk lagi disuruh berhenti. Inilah Indonesia. Aku juga baru sadar, bahwa panorama indah sekali melihat keakraban antarmurid. Kalau begitu hebat guru di sekolah atau pendidikan orang tua di rumah. Nilai kesetiaan antarteman sangat ditanamkan.

Betapa zaman sekarang manusia digerus arus digital, yang mendekatkan orang jauh, tapi sekaligus bisa menjauhkan orang dekat. Dekat yang hanya duduk di samping, berkerumun, tak saling bicara. Mereka sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Panorama ini diakui Claudia juga mulai jarang disaksikan di Swiss. Memang ada murid TK atau SD yang bepergian dengan diantar guru mereka, memang dua murid diharuskan saling berjalan bergandengan. Tujuannya bukan faktor keakraban, namun faktor keamanan, agar tidak kesasar.

Murid berjalan saling bergandengan, itu menjadi tema pembicaraan di mana-mana, baik di Indonesia bahkan di Swiss. Ketika kami melihat murid-murid Swiss yang pulang sekolah berjalan endiri-sendiri. Timbul tema pembicaraan, Tidak seperti di Lombok, Ya?(*)

*Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Ramli di Senggigi
Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan
Di Tengah Dominasi AI, Keaslian Manusia Kembali Dicari
Lorong Pendidikan dan Semangat Sportivitas dari SMAN 8 Mataram
Lorong-Lorong Kreativitas di SMAN 8 Mataram
Rumah Inspirasi di Kaki Rinjani
Hardiknas 2026: Pendidikan Bukan Seremoni, Melainkan Jalan Panjang Peradaban
Encop Sopia Raih Gelar Doktor Bidang Ilmu Politik di Universitas Indonesia

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 00:05 WITA

Ramli di Senggigi

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:11 WITA

Sepatu Dijinjing dan Pegangan Tangan

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:09 WITA

Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:00 WITA

Di Tengah Dominasi AI, Keaslian Manusia Kembali Dicari

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:30 WITA

Lorong Pendidikan dan Semangat Sportivitas dari SMAN 8 Mataram

Berita Terbaru

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA

Workshop menjadi ruang bersama untuk memastikan, pembangunan sanitasi tidak hanya menghadirkan layanan teknis (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 4 Jun 2026 - 13:38 WITA

Seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai medium untuk menyampaikan pesan sosial dan spiritual (Foto: provntb.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo

Kamis, 4 Jun 2026 - 12:36 WITA