Wayang Sasak: Membaca Jejak Dakwah, Seni, dan Identitas Lombok dari Rak Perpustakaan Museum NTB

- Penulis

Minggu, 31 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dalam konteks kekinian, Wayang Sasak mengajarkan bahwa identitas budaya tidak dibangun melalui penolakan terhadap pengaruh luar, melainkan melalui kemampuan mengolah dan memaknainya secara kreatif (Foto: aks / ceraken.id)

Dalam konteks kekinian, Wayang Sasak mengajarkan bahwa identitas budaya tidak dibangun melalui penolakan terhadap pengaruh luar, melainkan melalui kemampuan mengolah dan memaknainya secara kreatif (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Museum sering kali dipahami sebagai tempat menyimpan benda-benda lama. Orang datang, melihat koleksi yang dipajang dalam vitrin, lalu pulang dengan sejumlah kesan visual. Namun di Museum Negeri NTB, pengalaman itu dapat berlanjut ke ruang lain yang tak kalah penting: perpustakaan.

Di sana, artefak yang diam di ruang pamer menemukan suaranya melalui buku, laporan penelitian, dan naskah koleksi yang menjelaskan asal-usul, fungsi, serta makna kebudayaan yang terkandung di dalamnya.

Salah satu buku yang menarik perhatian adalah Wayang Sasak, terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Bagian Proyek Pengembangan Permuseuman Nusa Tenggara Barat tahun 1987. Disusun oleh Alit Widiastuti dan M. Tarfi, buku setebal 50 halaman ini menjadi salah satu dokumentasi awal yang penting mengenai tradisi pewayangan khas masyarakat Sasak di Lombok.

Melalui buku tersebut, pembaca tidak hanya diajak mengenal bentuk wayang, tetapi juga memahami perjalanan sejarah, dakwah, seni rupa, hingga filsafat hidup yang menyertainya.

Ketika Museum Menjadi Ruang Ingatan

Keberadaan buku ini menunjukkan bahwa museum bukan sekadar gudang benda bersejarah. Ia juga berfungsi sebagai pusat pengetahuan. Koleksi wayang kulit yang tersimpan di museum memperoleh konteksnya melalui penelitian yang terdokumentasi dalam buku tersebut.

Dalam sambutannya pada 17 Januari 1988, Kepala Museum Negeri NTB saat itu, Drs. H. Abd. Wahab H. Ismail, melihat pertunjukan Wayang Sasak sebagai fenomena yang tetap bertahan di tengah gempuran media modern.

“Meskipun hiburan-hiburan lain seperti radio, tape, dan televisi berkembang, nampaknya masyarakat tetap menyukai pertunjukan kesenian tradisional seperti halnya wayang.”

Pernyataan itu terasa menarik dibaca kembali hampir empat dekade kemudian. Jika pada akhir 1980-an tantangan datang dari televisi, kini kesenian tradisional berhadapan dengan media digital, platform video pendek, dan budaya konsumsi yang serba cepat.

Namun pertanyaan yang sama tetap relevan: mengapa masyarakat masih membutuhkan wayang?

Jawabannya mungkin terletak pada fungsi sosial dan spiritual yang tidak dapat digantikan teknologi. Wayang bukan hanya tontonan, melainkan sarana pendidikan, ruang refleksi, dan media pewarisan nilai.

Dari Persia ke Lombok: Perjalanan Panjang Cerita Menak

Buku ini menjelaskan bahwa Wayang Sasak berkembang melalui kisah Menak yang berpusat pada tokoh Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW. Jalur perjalanannya panjang: berasal dari tradisi Persia, masuk ke kawasan Melayu, berkembang di Jawa, lalu berakar di Lombok.

Di tangan masyarakat Sasak, kisah itu memperoleh bentuk baru. Tokoh Amir Hamzah dikenal dengan berbagai gelar seperti Jayengrana, Jayeng Laga, Jayeng Tinon, hingga Khamidil Alam.

Baca Juga :  Menyusuri Jejak Mahabbah di Batas Ada dan Tiada: Catatan Pemantik atas Novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?

Dari tokoh inilah lahir cerita-cerita yang kemudian menjadi fondasi pertunjukan Wayang Menak.

Menariknya, cerita-cerita tersebut tidak disusun seperti kitab besar yang utuh. Di Lombok, kisah-kisah itu berkembang dalam fragmen-fragmen tersendiri seperti Bangbari, Gendit Birayung, Bidara Kawitan, Selandir, dan Dewi Rengganis.

Model penyusunan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal mengolah warisan cerita menjadi lebih dekat dengan kebutuhan sosial dan budaya mereka.

Di sinilah Wayang Sasak menunjukkan identitasnya. Ia bukan salinan budaya luar, melainkan hasil dialog panjang antara Islam, tradisi lokal, dan kreativitas masyarakat Lombok.

Dalang sebagai Juru Penerang

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah penjelasan mengenai fungsi dalang. Dalam tradisi Sasak, dalang tidak hanya bertugas memainkan tokoh-tokoh wayang. Ia juga berperan sebagai pendidik dan penyampai pesan moral.

Buku tersebut bahkan menghubungkan istilah dalang dengan kata Arab dallah, yang dimaknai sebagai penunjuk jalan atau juru penerang. Karena itu, pertunjukan wayang pada masa lalu sering menjadi media dakwah Islam yang efektif.

Nilai-nilai simbolik juga hadir dalam unsur-unsur pertunjukan. Layar putih melambangkan alam yang masih kosong. Cahaya lampu belencong menjadi simbol Nur Ilahi.

Gunungan menandai terciptanya kehidupan. Seluruh unsur pertunjukan membentuk narasi kosmologis yang menghubungkan manusia dengan penciptanya.

Tidak mengherankan jika Wayang Sasak pernah menjadi media utama penyebaran Islam di Lombok. Cerita kepahlawanan Amir Hamzah dipadukan dengan pesan moral, keteladanan, dan ajaran keagamaan yang dapat diterima masyarakat melalui bahasa budaya yang mereka pahami.

Amaq Raimah dan Ancaman Hilangnya Keahlian

Selain membahas cerita dan fungsi wayang, buku ini juga merekam sosok penting dalam dunia pewayangan Lombok: Amaq Raimah dari Desa Gunung Malang, Gerung, Lombok Barat.

Pada masa penelitian dilakukan, Amaq Raimah disebut sebagai satu-satunya penatah wayang yang masih aktif menghasilkan karya dengan kualitas tinggi. Ia bukan hanya pengrajin, tetapi juga penjaga pengetahuan teknis yang diwariskan lintas generasi.

Di sinilah buku ini terasa sangat berharga. Ia menyimpan catatan tentang kondisi kebudayaan pada suatu masa, termasuk kegelisahan akan minimnya generasi penerus.

Kekhawatiran yang ditulis tahun 1987 tersebut masih menjadi persoalan kebudayaan hingga hari ini: bagaimana memastikan keterampilan tradisional tidak berhenti pada satu generasi.

Ketika seorang maestro wafat tanpa sempat mewariskan ilmunya secara memadai, yang hilang bukan sekadar keterampilan tangan. Yang hilang adalah cara pandang, pengalaman estetik, dan pengetahuan budaya yang tidak selalu dapat direkam oleh kamera atau teks.

Baca Juga :  Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Wayang Sasak sebagai Arsip Cara Berpikir Masyarakat

Membaca buku Wayang Sasak hari ini seharusnya tidak berhenti pada upaya mengenali tokoh-tokoh pewayangan atau sejarah masuknya Islam ke Lombok. Yang lebih penting adalah memahami bahwa wayang merupakan arsip cara berpikir masyarakat Sasak.

Di dalamnya tersimpan konsep tentang kepemimpinan, keberanian, keadilan, hubungan manusia dengan Tuhan, serta pertarungan abadi antara kebaikan dan keburukan. Tokoh-tokoh kanan dan kiri dalam pewayangan sesungguhnya bukan hanya karakter cerita, melainkan cermin pergulatan moral manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini juga menunjukkan bahwa kebudayaan Sasak lahir dari perjumpaan berbagai pengaruh tanpa kehilangan jati dirinya. Kisah dari Persia, dakwah Islam dari Jawa, aksara Jejawan, bahasa Sasak, dan kreativitas lokal berpadu membentuk tradisi yang khas.

Dalam konteks kekinian, Wayang Sasak mengajarkan bahwa identitas budaya tidak dibangun melalui penolakan terhadap pengaruh luar, melainkan melalui kemampuan mengolah dan memaknainya secara kreatif.

Karena itu, buku ini bukan sekadar dokumentasi museum. Ia adalah rekaman perjalanan intelektual masyarakat Lombok dalam memahami agama, seni, sejarah, dan kehidupan.

Kepada Siapa Buku Ini Sebaiknya Ditujukan?

Buku Wayang Sasak layak dibaca oleh beberapa kalangan sekaligus.

Pertama, pelajar dan mahasiswa, terutama yang mempelajari sejarah, antropologi, sastra, pendidikan, seni pertunjukan, dan kebudayaan daerah. Buku ini dapat menjadi pintu masuk memahami identitas budaya Sasak dari sumber yang relatif dekat dengan lapangan penelitian.

Kedua, para dalang, seniman, komunitas budaya, serta pegiat literasi yang bergerak dalam pelestarian tradisi lokal. Buku ini menyimpan banyak informasi dasar yang dapat digunakan sebagai bahan regenerasi dan pengembangan karya.

Ketiga, guru dan pengelola pendidikan. Di tengah kebutuhan penguatan muatan lokal, buku ini dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai hubungan antara seni, sejarah, dan nilai-nilai moral masyarakat.

Keempat, para pengunjung museum dan masyarakat umum yang ingin memahami Lombok lebih dalam. Sebab memahami sebuah daerah tidak cukup melalui panorama alamnya, tetapi juga melalui cerita-cerita yang diwariskan oleh leluhurnya.

Pada akhirnya, membaca Wayang Sasak di perpustakaan Museum Negeri NTB seperti membuka pintu menuju ruang yang lebih luas daripada sekadar koleksi benda. Di sana, wayang tidak lagi menjadi kulit yang dipahat dan digerakkan oleh dalang.

Ia menjelma menjadi pengetahuan, ingatan, dan identitas yang terus berbicara kepada generasi masa kini. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak
Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri
Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu
Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan
Ketika Cahaya Itu Adalah Sosok “Nuriadi”: Novel “Datoq Nyatoq dalam Perspektif Strukturalisme Genetik
Membaca Keris NTB dari Vitrin Museum hingga Jejak Pengetahuan
Novel sebagai Jalan Literasi: Ketika Datoq Nyatoq Menjadi Jembatan Membaca Dunia

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:04 WITA

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:55 WITA

Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:33 WITA

Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:30 WITA

Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:58 WITA

Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA