CERAKEN.ID — Karya seni tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari percakapan, perenungan, kerja kolektif, dan kesabaran yang panjang. Di balik setiap gerak tubuh yang tampak ringan di atas panggung, sesungguhnya tersimpan latihan yang berulang, keringat yang mengalir, dan keyakinan bahwa proses adalah bagian terpenting dari penciptaan.
Kesadaran itu terasa kuat dalam perjalanan dari Taman Budaya NTB di Mataram menuju Becingah Mirah Adi, Praya, Rabu (3/6/2026), tempat ratusan penari berlatih untuk tampil pada pembukaan MTQ ke-31 Provinsi Nusa Tenggara Barat yang akan digelar pada 9 Juni mendatang.
Di arena latihan itu, ratusan talent bergerak mengikuti arahan koreografer. Sebagian besar bukan penari profesional. Mereka berasal dari kalangan pelajar SMP dan SMA, serta komunitas masyarakat di Kabupaten Lombok Tengah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun keterbatasan pengalaman justru menjadi ruang pembelajaran yang menarik. Mereka sedang membuktikan bahwa sebuah pertunjukan besar tidak hanya dibangun oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kemauan untuk belajar bersama.
Rahmatan Lil Alamin di Atas Panggung
Koreografi yang sedang dipersiapkan mengusung judul Rahmatan lil Alamin. Tema ini bukan sekadar pilihan artistik, melainkan refleksi atas pesan yang ingin disampaikan Pemerintah Provinsi NTB kepada masyarakat.
Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menjelaskan bahwa gagasan besar karya tersebut berangkat dari pesan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal tentang pentingnya membangun kehidupan yang rukun, toleran, dan saling menguatkan.
“Ada pesan dari Gubernur NTB terhadap koreografi ini, yaitu bagaimana menjalin toleransi, hidup rukun, saling mensupport satu sama lain di NTB,” ujar Lalu Suryadi Mulawarman.
Menurutnya, koreografi ini merefleksikan hubungan yang harmonis antara umara dan ulama sebagai dua pilar penting kehidupan masyarakat. Umara menjalankan fungsi pemerintahan dan kebijakan publik, sementara ulama memberikan tuntunan moral dan spiritual. Keduanya saling melengkapi demi terciptanya keadilan dan kesejahteraan.
Dalam perspektif yang lebih luas, konsep rahmatan lil alamin tidak hanya menyentuh hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan antarsesama manusia dan dengan alam semesta. Nilai-nilai seperti toleransi, gotong royong, menjaga lingkungan, dan menyebarkan kedamaian diterjemahkan ke dalam bahasa gerak dan musik.

Seni sebagai Ruang Moderasi Beragama
Bagi Lalu Suryadi, seni berada dalam wilayah muamalah yang pada dasarnya diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Karena itu, proses penyusunan karya ini dilakukan melalui dialog panjang dengan para ulama, tuan guru, dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ).
“Terus terang Koreografi Rahmatan lil Alamin ini adalah buah dari diskusi panjang kami dengan para Ulama, Tuan Guru, dan LPTQ,” katanya.
Koreografi tersebut sekaligus menjadi praktik konkret moderasi beragama yang selama ini terus didorong dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Toleransi, anti-kekerasan, komitmen kebangsaan, dan penghormatan terhadap kebudayaan lokal menjadi empat fondasi yang diterjemahkan ke dalam karya seni.
Simbol-simbol itu hadir melalui pilihan musik bernuansa shalawat, gerakan yang banyak mengarah ke atas sebagai simbol relasi manusia dengan Sang Pencipta, serta kehadiran unsur budaya Sasak, Samawa, Dompu, dan Mbojo yang dibingkai dalam perspektif Islami.
Seni, dalam konteks ini, bukan sekadar hiburan. Ia menjadi medium dialog yang mempertemukan nilai agama dengan tradisi lokal, sekaligus memperlihatkan bahwa kebudayaan dan spiritualitas dapat berjalan beriringan.
Tiga Pekan Mengejar Kemungkinan
Tantangan terbesar justru terletak pada waktu. Taman Budaya NTB mendapat kepercayaan untuk menggarap pertunjukan yang melibatkan sekitar 300 talent, terdiri atas 200 orang dari Lombok Tengah dan 100 orang dari Kota Mataram.
Yang menarik, sebagian besar peserta dari Lombok Tengah tidak memiliki latar belakang tari. Sementara waktu persiapan yang tersedia hanya tiga pekan, jauh dari kondisi ideal yang biasanya membutuhkan tiga hingga enam bulan.
Situasi itu membuat proses latihan menjadi laboratorium pembelajaran yang unik. Para talent yang sudah terbiasa dengan dunia tari dari Kota Mataram dipadukan dengan peserta baru dari Lombok Tengah. Terjadi proses transfer pengetahuan, saling menguatkan, sekaligus membangun kepercayaan diri.

“Dari keragaman talent ini menunjukkan praktik riil soal toleransi sekaligus moderasi beragama,” kata Lalu Suryadi.
Ia menambahkan bahwa perkembangan latihan sudah menunjukkan hasil yang menggembirakan.
“Jika dipatok dari angka 10 hingga 100, progressnya sudah 75 persen, melebihi dari angka nyaman. Belum memasuki spektakuler, paling tidak sudah di zona aman. Sisa 25 persen dalam waktu lima hari bisa kita kejar,” ujarnya optimistis.
Di kalangan para talent, Lalu Suryadi lebih akrab dipanggil “Pak Guru”. Sebutan itu tampaknya bukan hanya karena perannya mengarahkan latihan, tetapi juga karena kesabarannya membimbing ratusan peserta yang datang dari latar belakang berbeda.
Kebanggaan Kolektif Menyongsong MTQ
Latihan yang berlangsung di Becingah Mirah Adi juga disaksikan oleh sejumlah pejabat daerah, antara lain Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri, Sekretaris Daerah Lombok Tengah H. Lalu Firman Wijaya, Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan, dan Sekretaris Dinas Kebudayaan NTB Arifin.
Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa perhelatan MTQ tidak hanya dipahami sebagai agenda keagamaan, tetapi juga momentum kebudayaan yang melibatkan banyak unsur masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, melihat semangat luar biasa yang ditunjukkan para peserta selama latihan.
“Hari ini kita menyaksikan bagaimana para talent berlatih dengan penuh antusiasme. Bagaimana tidak, para talent akan tampil di event tingkat provinsi. Sehingga hal ini menambah motivasi para talent untuk giat berlatih. Kalian keren!” ujarnya.
Pada akhirnya, pertunjukan yang akan tampil pada pembukaan MTQ nanti bukan hanya tentang keindahan koreografi. Ia merupakan kisah tentang kerja sama, tentang keberanian belajar dalam waktu yang singkat, dan tentang keyakinan bahwa keberagaman dapat dirayakan dalam satu panggung yang sama.
Di sana, gerak tubuh para penari akan berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada seni itu sendiri: rahmat, harmoni, dan harapan bagi kehidupan bersama. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































