Menembus Kutukan Lima Persen

- Penulis

Jumat, 15 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Menteri Keuangan menjelaskan fondasi pertumbuhan kali ini tidak semata-mata berasal dari suntikan belanja negara (Foto: akun Lalu Mara Satriawangsa / ceraken.id)

Menteri Keuangan menjelaskan fondasi pertumbuhan kali ini tidak semata-mata berasal dari suntikan belanja negara (Foto: akun Lalu Mara Satriawangsa / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Ada nada optimistis yang terasa berbeda dalam pembicaraan ekonomi nasional beberapa pekan terakhir. Setelah bertahun-tahun publik Indonesia akrab dengan istilah “kutukan pertumbuhan lima persen”, pemerintah kini datang dengan klaim yang lebih berani: Indonesia mulai meninggalkan batas psikologis itu.

Data pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2026 yang mencapai 5,61 persen menjadi bahan pembicaraan, bukan hanya di ruang rapat kementerian, tetapi juga di media sosial, ruang diskusi publik, hingga meja warung kopi.

Sebagaimana dicatat ceraken.id pada Kamis, 7 Mei 2026, capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2025 yang berada di angka 5,39 persen. Pemerintah membaca angka itu sebagai sinyal bahwa mesin ekonomi nasional mulai bekerja lebih agresif di tengah situasi global yang belum sepenuhnya stabil.

Ketika banyak negara masih menghadapi tekanan perlambatan ekonomi dunia, Indonesia justru mencoba menampilkan wajah percaya diri.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi figur yang paling vokal menyampaikan optimisme tersebut. Ia bahkan menyebut Indonesia telah berhasil keluar dari jebakan pertumbuhan stagnan yang selama bertahun-tahun menjadi perdebatan para ekonom.

“Jadi clear sekali kita sudah bisa terlepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen. Ekonomi sedang bergerak ke arah yang lebih cepat lagi,” kata Menkeu.

Pernyataan itu kemudian mendapat resonansi di media sosial. Lalu Mara Satriawangsa dalam unggahan berandanya pada Jumat, 15 Mei 2026, menulis dengan gaya santai namun penuh penekanan bahwa janji Menteri Keuangan akhirnya terbukti.

Bukan janji berkunjung ke studio televisi, melainkan janji bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal pertama akan melampaui lima persen.

“Tertinggi setelah 10 tahun belakangan,” tulisnya.

Konsumsi Rumah Tangga Masih Menjadi Tulang Punggung

Di balik angka 5,61 persen itu, sesungguhnya terdapat cerita yang lebih menarik: siapa sesungguhnya yang menggerakkan ekonomi Indonesia? Dalam teori ekonomi makro, pertumbuhan nasional biasanya ditopang oleh empat komponen utama, yakni konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor-impor.

Pemerintah melalui Menteri Keuangan mencoba menjelaskan bahwa fondasi pertumbuhan kali ini tidak semata-mata berasal dari suntikan belanja negara.

Menurut Purbaya, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penggerak terbesar ekonomi nasional. Angkanya mencapai 53 persen dari keseluruhan struktur ekonomi, atau menyumbang sekitar 2,94 persen dari total pertumbuhan 5,61 persen.

Baca Juga :  TDA Bukan Sekadar Organisasi Pengusaha, tetapi Ruang untuk Saling Menguatkan

Setelah itu disusul investasi sebesar 29,3 persen atau berkontribusi 1,79 persen, kemudian pengeluaran pemerintah sebesar 21,81 persen dengan kontribusi riil sekitar 1,26 persen.

Penjelasan itu penting karena selama beberapa bulan terakhir muncul narasi di ruang publik bahwa pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh pengeluaran negara yang bersifat sementara. Kritik semacam ini lazim muncul setiap kali pemerintah mengklaim keberhasilan ekonomi. Namun Purbaya mencoba meluruskan cara membaca data statistik.

“Jadi cara baca data BPS itu harus benar. Yang benar bacanya, pertumbuhan dikalikan porsi dalam ekonomi,” katanya sebelum on air dalam sebuah wawancara.

Pernyataan tersebut menjadi semacam bantahan terhadap asumsi bahwa daya beli masyarakat sedang runtuh. Pemerintah justru membaca data BPS sebagai indikasi bahwa konsumsi publik tetap kuat.

Jika rumah tangga masih mampu membelanjakan uangnya, maka pasar bergerak, industri hidup, dan investasi pun memperoleh keyakinan untuk berkembang.

Di titik inilah perdebatan ekonomi menjadi menarik. Sebagian ekonom sebelumnya memang mengkhawatirkan adanya pelemahan daya beli akibat tekanan harga dan ketidakpastian global.

Namun pemerintah merasa data terbaru menunjukkan gambaran berbeda. Dalam perspektif negara, konsumsi masyarakat yang masih dominan merupakan tanda bahwa optimisme publik belum benar-benar pudar.

Mematahkan Ramalan Pesimistis

Pertumbuhan ekonomi selalu lebih dari sekadar angka statistik. Ia juga merupakan pertarungan narasi. Ketika sejumlah lembaga internasional memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh di bawah lima persen, pemerintah justru tampil dengan angka yang melampaui ekspektasi.

Prediksi lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia sebelumnya menjadi rujukan banyak pengamat.

Situasi geopolitik global, perlambatan perdagangan internasional, serta ketidakpastian pasar keuangan dunia dianggap akan menekan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun hasil triwulan pertama justru memperlihatkan arah berbeda.

“Bank Dunia sudah koreksi,” ujar Purbaya dengan nada santai.

Kalimat pendek itu terasa seperti penegasan bahwa pemerintah ingin menunjukkan kepercayaan diri di hadapan skeptisisme global. Selama ini, Indonesia memang kerap berada dalam posisi defensif ketika berhadapan dengan proyeksi lembaga internasional.

Tetapi kali ini pemerintah mencoba membangun cerita bahwa ekonomi domestik memiliki ketahanan yang cukup kuat.

Narasi tersebut kemudian diperkuat dengan keyakinan bahwa sektor swasta masih bergerak aktif. Investasi yang mencapai kontribusi 1,79 persen dianggap sebagai indikator bahwa pelaku usaha belum kehilangan keberanian untuk berekspansi.

Baca Juga :  Dari Uang Kuno ke Literasi Rupiah: Sasambo Menjaga Ingatan Sejarah Mata Uang

Dalam konteks ekonomi modern, keyakinan investor sering kali menjadi penentu arah pertumbuhan jangka panjang.

Meski demikian, sejumlah pengamat tentu tetap akan menunggu apakah tren ini mampu bertahan pada kuartal-kuartal berikutnya. Sebab sejarah ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi pada satu periode belum tentu berlanjut secara konsisten.

Tantangan global masih ada, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga ketidakpastian ekonomi dunia yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Uang Beredar dan Politik Optimisme

Salah satu bagian paling menarik dari pernyataan Menteri Keuangan adalah ketika ia berbicara tentang strategi memperbesar jumlah uang beredar. Dalam teori ekonomi, peningkatan likuiditas memang dapat mendorong konsumsi dan investasi.

Ketika uang lebih banyak berputar di masyarakat, aktivitas ekonomi cenderung meningkat.

Menurut Purbaya, jumlah uang beredar saat ini mencapai 14 persen dan pemerintah akan terus memperbesar volumenya. Strategi ini disebut sebagai bagian dari upaya menjaga permintaan domestik agar ekonomi tetap tumbuh.

Di tengah kecemasan global, pemerintah tampaknya sedang memainkan apa yang bisa disebut sebagai politik optimisme ekonomi. Pesan yang dibangun bukan sekadar bahwa negara masih kuat, tetapi juga bahwa masyarakat tidak perlu terlalu takut menghadapi masa depan.

“Tenang aja uang pemerintah banyak, hehehe,” kata Purbaya sambil tertawa.

Kalimat itu terdengar ringan, bahkan jenaka. Namun di balik candaan tersebut terdapat pesan politik ekonomi yang serius: pemerintah ingin memastikan publik tetap percaya diri untuk berbelanja, berinvestasi, dan menjalankan aktivitas ekonomi tanpa dibayangi rasa pesimis berlebihan.

Di era media sosial, gaya komunikasi semacam ini menjadi penting. Bahasa ekonomi yang terlalu teknokratis sering kali gagal menjangkau masyarakat luas. Karena itu, pernyataan sederhana dengan nada santai justru lebih mudah membentuk persepsi publik.

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi 5,61 persen bukan hanya soal keberhasilan statistik. Ia adalah cerita tentang bagaimana negara berusaha membangun keyakinan kolektif bahwa Indonesia mampu bergerak lebih cepat.

Apakah optimisme itu akan bertahan dalam jangka panjang, tentu masih membutuhkan pembuktian. Namun setidaknya, untuk saat ini, pemerintah merasa telah menemukan momentum untuk mengatakan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar bertahan di angka lima persen, melainkan mulai mencoba melampauinya. (aks)

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade
Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!
Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak
Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran
Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT
Dari Ruang Hijau Menuju Merdeka Finansial, Pensiunan Pegadaian Bersama Tring!
Peduli Sesama, INTI NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Desa Adat Sade
Dari Kobaran Api, Sade Menjaga Harapan untuk Bangkit Kembali

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:03 WITA

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Kamis, 27 Agustus 2026 - 00:54 WITA

Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:43 WITA

Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA