Cerita Fiksi tentang dokter Jack oleh Cukup Wibowo
CERAKEN.ID – Hujan turun perlahan dikota Mataram di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, tepatnya Selasa, 10 Maret malam itu. Butir-butirnya jatuh seperti seseorang yang sengaja menahan tangis agar tidak terdengar keras.
Lampu-lampu jalan memantulkan kilau air yang tak pernah berhenti bergerak di aspal. Dari jendela rumah, usai berbuka dan menunaikan sholat Magrib, aku kemudian keluar memandang hujan dari kaca jendela dengan perasaan yang aneh, seperti ada sesuatu yang tak mudah untuk kujelaskan, sampai kemudian terdengar dering telepon genggam yang sedang aku cas.
Dari seberang, kawan dekatku Darwin menyampaikan pesan dengan sangat singkat, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa runtuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dokter Jack meninggal dunia.”
Aku terus bertanya untuk membayangkan bahwa kabar itu tidak benar. Dari seberang telpon suara Darwin menyampaikan bahwa kabar itu benar. “Itu kabar dari keluarganya,” jawab Darwin singkat dan kemudian pamit untuk mengabarkan pada lainnya.
Pikiran dan perasaanku benar-benar belum sempurna untuk mempercayai kabar itu, dan seolah berharap kabar itu berubah menjadi kabar lain. Tapi tidak. Hujan di luar semakin deras, seperti tangis yang tumpah dari langit.
Bagi hampir semua orang yang mengenalnya, tak ada yang tahu kalau nama lengkap dari Dokter Jack adalah Dokter Lalu Herman Mahaputera, dengan titel akademiknya yang panjang.
Aku mengenalnya jauh sebelum banyak orang menyebut namanya dengan hormat. Kami sering duduk bersama di teras rumah sakit, berbicara tentang hal-hal sederhana. Tentang pasien, tentang mimpi, dan tentang harapan bahwa suatu hari rumah sakit di daerah ini bisa berubah menjadi tempat yang benar-benar manusiawi.
“Rumah sakit itu bukan cuma gedung,” katanya suatu sore bertahun lalu. “Rumah sakit itu harapan. Kalau orang datang ke sini, mereka datang membawa rasa takut. Kita harus bisa membuat mereka merasa aman.”
Saat itu ia belum menjadi direktur.
Ia hanya seorang dokter yang berjalan cepat di lorong rumah sakit, sering lupa makan, dan terlalu sering memikirkan nasib pasien yang tidak mampu. Ia bahkan hanya berkhayal kelak menjadi Kepala Puskesmas. Itu sudah cukup untuk menukar cita-citanya untuk menjadi tentara namun gagal di tengah jalan.
Namun hidup kadang membawa seseorang ke tempat yang tak pernah ia rencanakan.
Ketika ia dilantik menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, sebuah posisi tertinggi dalam tanggung jawab besar sebuah layanan kesehatan yang dirasakan langsung oleh masyarakat, banyak orang terkejut. Ada yang menyambutnya dengan harapan, ada pula yang memandangnya dengan ragu.
“Jack itu terlalu berani dan bahkan terlalu riskan untuk setiap keputusan yang dia ambil,” kata seorang dokter senior waktu itu.
Dan memang benar.
Belum lama menjabat, ia langsung mengubah banyak hal.
Ia mempersingkat prosedur pelayanan yang selama ini berbelit. Ia menegur staf yang lambat merespons pasien. Ia menambah fasilitas. Ia mendorong perubahan yang bagi sebagian orang terasa terlalu cepat.
Aku masih ingat rapat pertama yang ia ceritakan padaku setelah ia menjadi direktur. Ruangan itu penuh dokter, perawat, dan staf administrasi.
“Mulai hari ini,” katanya dengan suara tenang, “pasien tidak boleh menunggu terlalu lama hanya karena kita sibuk dengan kertas.”
Beberapa orang saling berpandangan. Ada yang setuju. Ada yang tidak.
Tapi ia tidak pernah mundur.
Beberapa tahun kemudian, berdirilah gedung rumah sakit yang megah, sesuatu yang dulu hampir tak pernah dibayangkan.
“Ini bukan soal kemewahan gedung,” katanya kepadaku suatu malam saat kami berjalan melewati bangunan baru itu. “Ini soal martabat pelayanan kesehatan yang memang harus diwujudkan oleh Pemerintah untuk melayani masyarakatnya.”
Namun keberanian selalu membawa konsekuensi.
Anggaran menjadi persoalan. Target pemasukan rumah sakit tak selalu sejalan dengan pengeluaran yang harus dilakukan untuk meningkatkan layanan.
Ada rapat-rapat panjang yang berakhir dengan wajah-wajah tegang.
Ada kritik. Ada tekanan. Ada saja pihak yang mencoba memanfaatkan setiap celah kekurangan untuk membuat citra kepemimpinannya jadi buruk.
“Kadang aku juga capek,” katanya suatu malam sambil tertawa kecil. “Tapi kalau berhenti, siapa yang mulai?”
Di luar dunia rumah sakit, hidupnya tak kalah penuh warna.
Banyak orang mengenalnya sebagai juara off road. Ia sering menghilang ke medan-medan terjal penuh tantangan, menaklukkan jalur tanah dan batu dengan mobil yang penuh lumpur.
“Aku butuh itu,” katanya suatu kali. “Kalau tidak, kepalaku bisa meledak.”
Aku pernah ikut sekali dalam perjalanan itu. Melihatnya tertawa di tengah lumpur membuatku sadar bahwa di balik jas dokter dan jabatan direktur, ia tetap seorang lelaki yang mencintai kebebasan.
Namun ada satu hal lagi yang selalu membuat orang langsung teringat padanya, ialah musik.
Di berbagai acara, entah itu pertemuan sahabat, makan malam santai, atau bahkan acara komunitas, selalu ada satu lagu yang hampir pasti diminta untuk diputar olehnya.
Lagu itu adalah Have You Ever Seen The Rain milik Creedence Clearwater Revival.
Setiap kali intro gitar lagu itu terdengar, wajahnya selalu berubah cerah seperti seseorang yang baru saja menemukan kenangan lama.
Aku pernah menggoda dia tentang itu. “Kenapa selalu lagu itu, Jack?”
Ia tertawa, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Karena lagu itu jujur,” katanya.
Lalu ia menyenandungkan pelan bagian refrainnya. Suaranya yang lantang dan berat, menghentak dengan penuh perasaan.
Orang-orang yang sering berkumpul dengannya lama-lama hafal kebiasaan itu. Bahkan sebelum ia meminta, seseorang biasanya sudah lebih dulu berkata, “Putarkan lagu kesukaan Dokter Jack.”
Aneh memang, tapi dari lagu itu orang seperti bisa membaca karakternya.
Nada rock klasik yang sederhana. Lirik yang jujur. Tanpa banyak hiasan. Seperti dirinya. Tidak suka berputar-putar. Tidak suka kepura-puraan. Langsung. Apa adanya.
Suatu malam setelah sebuah acara komunitas, kami duduk di warung kecil di pinggir jalan. Meja kayu sederhana. Lampu redup. Hujan tipis turun seperti kabut. Ia memesan makanan dengan cepat.
“Soto Madura satu. Es teh dua,” katanya kepada penjual dengan logat Surabaya yang amat kental. Ia memang lama di Surabaya, saat menimba ilmu sebelum menjadi dokter.
Aku tertawa. “Selalu itu?” kataku terkekeh. Ia mengangguk sambil tersenyum. “Favoritku itu soto Madura dan es teh.”
Ia lalu menyeruput teh dingin yang baru datang, terlihat sangat puas seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang.
“Aku lihat dari awal kau memang selalu tidak menyukai makanan mahal, ya?” tanyaku.
Ia menggeleng. “Bukan soal mahal atau murahnya, Aku hanya tidak suka makanan yang aneh-aneh.”
Lalu ia menatapku dan berkata dengan nada ringan, “Aku ini orangnya simpel.” Dan memang benar. Sikap apa adanya itu terlihat di banyak hal dalam hidupnya. Dalam cara ia berpakaian.
Dalam cara ia berbicara.
Dalam cara ia memperlakukan orang lain.
Bahkan ketika ia menjadi Ketua PMI NTB dan harus menghadiri banyak acara resmi, ia tetap terlihat seperti orang yang sama, tidak berubah oleh jabatan.
Ketika ada pasien yang tidak mampu, ia sering mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri.
“Jangan bilang siapa-siapa,” katanya suatu kali.
Tapi kebaikan seperti itu selalu menemukan jalannya untuk diketahui orang. Itulah sebabnya sahabatnya sangat banyak.
Dari dokter muda sampai sopir ambulans.
Dari pejabat hingga pedagang kecil.
Semua punya cerita tentang dirinya.
Dan sekarang, di malam ketika hujan turun tanpa henti di kota Mataram, kabar dari Jakarta itu terasa seperti sesuatu yang sulit dipercaya.
“Dokter Jack sudah tidak ada.”
Kematian memang selalu menjadi misteri yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan. Ia datang tanpa mengetuk.
Tanpa memberi waktu untuk bersiap.
Ia datang ketika kita masih ingin mengatakan banyak hal yang belum sempat kita ucapkan.
Aku berdiri di teras rumah, memandang langit yang perlahan mulai mereda. Di kepalaku tiba-tiba terngiang lagi lagu favoritnya.
Have you ever seen the rain…
Entah mengapa, malam itu hujan terasa seperti lebih dari sekadar hujan. Langit seperti ikut menumpahkan duka citanya.
Seperti sebuah lagu lama yang diputar kembali oleh alam semesta untuk mengenang seseorang yang pernah hidup dengan keberanian, kesederhanaan, dan hati yang terlalu luas untuk dirinya sendiri.
Dan di antara sisa-sisa hujan yang jatuh di kota ini, aku tahu satu hal. Bagi banyak orang, Dokter Jack mungkin telah pergi.
Namun bagi kenangan, bagi sahabat, bagi semua orang yang pernah merasakan kebaikannya, ia akan selalu ada untuk kebaikannya yang menjadi manfaat bagi banyak orang. Sebagaimana lagu lama yang tak pernah benar-benar berhenti dimainkan.*
Penulis : aks
Editor : ceraken editor































































