Pentas Kebaikan: Ketika Musik Menjadi Jembatan Inklusi bagi Anak-anak Disabilitas

- Penulis

Selasa, 16 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sebuah perjumpaan antara musik, solidaritas sosial, dan perjuangan menghadirkan ruang yang lebih inklusif bagi anak-anak disabilitas di Nusa Tenggara Barat (foto: lombokcare / ceraken.id)

Sebuah perjumpaan antara musik, solidaritas sosial, dan perjuangan menghadirkan ruang yang lebih inklusif bagi anak-anak disabilitas di Nusa Tenggara Barat (foto: lombokcare / ceraken.id)

CERAKAN.ID – Minggu malam, 21 Juni 2026, akan menjadi ruang perjumpaan antara musik, kepedulian sosial, dan semangat inklusi di Lombok Barat.

Yayasan LombokCare menggelar Music Charity for Disability Children bertajuk “Pentas Kebaikan Vol.1”, sebuah kegiatan yang menghadirkan panggung musik sekaligus gerakan sosial untuk mendukung anak-anak disabilitas di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Acara yang berlangsung di Jalan Biduri, Dusun Aik Are, Desa Tanjung Are, Sandik, Kecamatan Batu Layar, mulai pukul 19.30 hingga 22.00 Wita itu akan menampilkan musisi-musisi lokal, di antaranya Nusaria, Sound of Magic Island, dan Paris Hasan.

Musik sebagai Bahasa Kepedulian

Di tengah berkembangnya industri hiburan yang kerap berorientasi pada komersialitas, LombokCare memilih menjadikan musik sebagai medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Melalui Pentas Kebaikan, musik tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran publik mengenai pentingnya dukungan terhadap anak-anak disabilitas dan keluarga mereka.

Ketua Yayasan LombokCare, Apip Sutardi, menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari semangat inclusive movement atau gerakan inklusi yang menempatkan setiap individu sebagai bagian penting dari komunitas.

“Tiada lain untuk membangun lingkungan di mana semua orang merasa diterima, diberikan kesempatan yang sama untuk berkontribusi, dan perbedaan bukan dianggap sebagai hambatan,” ujar Apip Sutardi di ruang kerjanya, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, inklusi bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ruang-ruang publik, termasuk panggung seni dan musik, perlu dibuka seluas-luasnya agar semua orang dapat berpartisipasi tanpa diskriminasi.

Baca Juga :  Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Menjawab Tantangan Anak Disabilitas di NTB

Di balik kemeriahan konser amal tersebut, tersimpan misi yang jauh lebih besar. LombokCare selama ini bergerak dalam isu disabilitas dan inklusi dengan memberikan layanan terapi, rehabilitasi, pendidikan inklusif, hingga pendampingan keluarga.

Organisasi sosial ini secara khusus membantu anak-anak berkebutuhan khusus agar dapat tumbuh mandiri dan memperoleh hak yang sama dalam kehidupan sosial.

Salah satu perhatian utama adalah penanganan kasus clubfoot atau kaki pengkor yang masih cukup banyak ditemukan di NTB. Setiap tahun diperkirakan ratusan anak lahir dengan kondisi tersebut, namun tidak seluruhnya dapat terdeteksi dan memperoleh penanganan dini.

Padahal, jika ditangani sejak awal, kondisi itu dapat dicegah agar tidak berkembang menjadi disabilitas permanen.

Melalui penggalangan dukungan publik, LombokCare berharap dapat memperluas akses layanan kesehatan, pendidikan, alat bantu, serta nutrisi yang tepat sasaran hingga ke wilayah pelosok. Dukungan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat pendampingan bagi orang tua yang selama ini menjadi garda terdepan dalam proses tumbuh kembang anak-anak disabilitas.

Apip menegaskan bahwa gerakan ini bukan hanya tentang bantuan materi, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

“Pentas Kebaikan mengajak masyarakat untuk membangun budaya saling mendukung serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, terutama bagi anak-anak hebat yang membutuhkan dukungan untuk meraih masa depan yang lebih baik,” katanya.

Kolaborasi Komunitas dan Ruang Berkarya

Pentas Kebaikan juga menjadi wadah kolaborasi bagi para musisi dan komunitas kreatif di NTB. Kegiatan ini memberi kesempatan kepada para pelaku seni untuk berbagi melalui karya, sekaligus mempererat jejaring antar-komunitas yang selama ini tumbuh di Pulau Lombok dan sekitarnya.

Baca Juga :  Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk

Kehadiran Nusaria, Sound of Magic Island, dan Paris Hasan menjadi simbol bahwa dunia musik dapat mengambil peran aktif dalam mendorong perubahan sosial. Penikmat musik pun memperoleh ruang untuk menikmati beragam genre karya musisi lokal, sembari berpartisipasi dalam gerakan kemanusiaan yang lebih luas.

Lebih dari sekadar konser amal, Pentas Kebaikan diharapkan menjadi momentum lahirnya kerja sama lintas sektor antara komunitas, seniman, lembaga sosial, pemerintah, dan masyarakat umum. Dari panggung sederhana di Batu Layar, LombokCare ingin menunjukkan bahwa inklusi dapat dibangun melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.

Pada akhirnya, semangat yang diusung acara ini bukan hanya mengumpulkan dukungan bagi anak-anak disabilitas, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman adalah kekuatan.

Ketika musik, kepedulian, dan solidaritas bertemu dalam satu ruang, maka lahirlah harapan bahwa tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam perjalanan menuju masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA