CERAKEN.ID — Malam itu, Ruang Musik Taman Budaya NTB tidak hanya dipenuhi bunyi alat musik. Ada proses lain yang sedang berlangsung: mendengarkan kembali apa yang telah dimainkan, mengendapkan bunyi, lalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru dari sana.
Pada pertemuan ketujuh Tim Eksperimentasi Musik 2026, Rabu malam (19/8/2026), rekaman menjadi semacam cermin. Para musisi tidak lagi hanya memainkan nada, tetapi mencoba membaca ulang jejak perjalanan kreatif mereka menuju Evaluasi Pertama.
“Malam ini kita mencoba merekam lagi, dan memungkinkan juga ada ide-ide baru untuk kita jadikan acuan menuju Evaluasi Pertama,” terang Ketua Tim Eksperimentasi Musik 2026, H. Lalu Agus Fathurrahman.
Bagi Miq Agus Fn—sapaan akrabnya—pertemuan ketujuh ini bukan titik awal. Sehari sebelumnya, pola dasar karya mulai terlihat. Ruang untuk mempertemukan tradisi dan musik modern pun kian terbuka.
Ia melihat Yuga Anggana telah membawa hasil perenungannya selama satu hari satu malam ke dalam proses penciptaan, baik dalam bentuk penambahan maupun penyempurnaan kreativitas.
Yang dilakukan malam itu kemudian sederhana, tetapi menentukan: merekam, mendengarkan, lalu berdiskusi.
Rekaman sebagai Ruang Mendengar
Dalam proses penciptaan musik, mendengar kadang menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting daripada memainkan. Para anggota tim tidak mungkin sekaligus memainkan seluruh instrumen dan mendengarkan secara utuh hasil bunyi yang mereka ciptakan.
Karena itu, rekaman menjadi ruang jeda untuk mengambil jarak dari karya yang sedang tumbuh.
“Kita merekam, kemudian kita akan mendengarkan rekaman itu. Hasil rekaman itu kita dengarkan bersama karena ndak mungkin kita mendengar sambil main. Ya, akan kita dengarkan itu, baru dari situ kita akan diskusikan,” kata Miq Agus Fn.
Diskusi atas hasil rekaman tersebut, lanjutnya, akan menjadi patokan menuju workshop terakhir pada akhir Agustus. Workshop itu sekaligus menjadi tahap persiapan sebelum tim memasuki Evaluasi Pertama.
Masih ada dua bagian yang menjadi fokus pencarian berikutnya: Pengawak Angin dan Pengawak Api yang akan membawa karya menuju Pemotoq atau penutup. Namun, bagi Miq Agus Fn, persoalannya tidak semata-mata menyelesaikan komposisi. Ada sesuatu yang lebih dalam yang harus disamakan oleh seluruh anggota tim: penghayatan terhadap jiwa dari setiap bagian musik.
“Perlu juga diingat, pada malam hari ini kita akan kembali mencoba menyamakan penghayatan kita tentang nada yang kita mainkan dengan apa sebenarnya jiwa dari Pengotak, Pengawak Tanaq apa, Pengawak Angin apa, Pengawak Api apa,” ujarnya.
Ia telah menyiapkan sebuah puisi sebagai pintu masuk menuju penghayatan itu. Tetapi puisi tersebut, menurutnya, tidak cukup hanya dibaca sebagai teks. Ia harus didengarkan, dirasakan, dan kemudian diterjemahkan menjadi bunyi.
Dari Puisi Menuju Bunyi Semesta
Puisi berjudul “Jiwa Alam”, yang ditulis Agus Fn pada 17 Agustus 2026, menjadi semacam peta batin bagi perjalanan komposisi yang sedang dikerjakan tim. Puisi itu berbicara tentang empat unsur—air, tanah, angin, dan api—sebagai energi yang tidak hanya berada di luar manusia, tetapi juga menjelma dalam jiwa dan raga.
Dalam bagian pembukanya, alam digambarkan sebagai pelukan luas yang “tak terjangkau”, tetapi sekaligus melekat dalam diri manusia dan menjelma menjadi kehidupan. Manusia, dalam pandangan puisi itu, hanyalah “sezarrah” dalam hamparan semesta, yang menyerap energi tanah, air, angin, dan api untuk kemudian memantulkannya kembali sebagai tanda keberadaan.
“Air, tanah, angin, api menjadi senyawa dalam diri agar bisa berkomunikasi dengan semesta,” demikian salah satu gagasan yang mengalir dalam puisi tersebut.
Air hadir sebagai sumber kehidupan dan ketenangan. Tanah menjadi simbol keteguhan dan kesuburan. Angin hadir sebagai energi yang tak tampak, tetapi nyata kuasanya. Sedangkan api menjadi tanda kehidupan, keberanian, dan semangat untuk menghidupkan.
Pada bagian tentang air, muncul pula rangkaian bunyi yang sudah beberapa kali menjadi bagian dari proses pencarian musikal Tim Eksperimentasi Musik: neng, nong, nang, ning, nung.
“Neng—tenang tersembunyi dalam tanah. Nong—meredam resah menerima segala tiba. Nang—daya hidup rahasia. Ning—bening dalam kalbu. Nung—kebesaran jiwa seluas samudera,” demikian lapis makna yang ditawarkan puisi tersebut.
Bunyi-bunyi itu tidak hadir sebagai hiasan semata. Ia menjadi bagian dari cara mencari watak musikal, menghubungkan bunyi dengan rasa, dan menautkan ekspresi artistik dengan pengalaman kultural masyarakat.
Miq Agus Fn mengatakan, puisi tersebut lahir dari refleksinya atas perjalanan tim, terutama ketika mengikuti workshop di Sembalun. Di sana ia menyaksikan bagaimana para musisi bekerja keras mencari nada yang bukan hanya dapat didengar oleh telinga, melainkan juga mampu menyentuh hati.
“Sampai menjelang 17 Agustus saya mencatat semua kegetiran itu, lalu itulah yang melahirkan puisi ini. Saya apresiasikan puisi kepada teman-teman sekaligus terhadap alam sebagai cara kita memahami alam, dari jagat kecil ke jagat besar,” tuturnya.
Lalu ia menawarkan sebuah perenungan yang menarik: “Jagat yang luas ini sebenarnya jagat kecil, jagat besar itu ada di dalam hati kita.”

Dengan cara pandang itulah puisi kemudian menjadi bagian dari proses musikal. Kata-kata tidak berhenti sebagai larik. Ia mencoba menjelma menjadi ketukan, tempo, suasana, dan dialog antarinstrumen.
Pengotak, Aiq, Tanaq dan Percakapan Tradisi
Struktur karya yang telah terbentuk mulai memberikan keyakinan kepada Miq Agus Fn bahwa pencarian tim tidak berjalan tanpa arah. Pengotak, Pengawak Aiq, dan Pengawak Tanaq telah memiliki karakter masing-masing, sekaligus membentuk sebuah perjalanan suasana.
Menurutnya, Pengotak berangkat dari nada kedalaman, sebuah ungkapan hati yang sangat dalam. Secara kultural, ia melihat ada jejak tandaq pada dasar pukulan Pengotak.
“Kalau kita dengarkan baik-baik, secara kultural, basic dari pukulan Pengotak itu tandaq,” katanya.
Setelah kedalaman itu terungkap, perjalanan musik masuk ke Pengawak Aiq. Di sini, ia membayangkan sebuah keadaan ketika seseorang telah mengungkapkan isi hatinya, lalu menemukan kenyamanan. Nada-nada yang hadir seperti membawa suasana meninabobokan, mengingatkannya pada giong gambeq dalam istilah musikal masyarakat Sasak.
“Sudah benar pencarian kita di Pengawak Aiq, yang juga punya basic kultural sehingga mendengarkannya pun nyaman,” ujarnya.
Sementara Pengawak Tanaq membawa suasana berbeda. Miq Agus Fn membayangkannya sebagai masa muda yang mulai tumbuh dan memperlihatkan gerak kehidupan. Ia menghubungkannya dengan suasana dolanan dalam musik Jawa, atau kejaan, saling kejak, dalam ungkapan masyarakat Sasak.
“Sehingga saya menganggap ini sudah untuk satu, dua, tiga—Pengotak, Pengawak Aiq, Pengawak Tanaq—dari segi bentuk dan strukturnya,” katanya.
Tahap berikutnya adalah bagaimana seluruh struktur tersebut diberi kemasan yang mampu mensinergikan tradisi dan modernitas. Dalam hal ini, Miq Agus Fn menyerahkan ruang dialog kreatif yang lebih intens kepada Yuga Anggana dan Mariadi Basri.
“Ini harus lebih intens dialognya di luar latihan. Supaya kita menemukan bahwa ini lahir benar-benar dari tradisi, dari masyarakat,” tegasnya.
Ia melihat salah satu kecerdasan yang telah muncul dari tim adalah keberanian mempertemukan dua jenis musik dalam satu bangunan karya. Pada bagian tertentu, Pengotak, misalnya, ia menangkap adanya pertemuan nada Cilokaq yang dikemas dengan warna Klenang.
“Itu sebenarnya sudah nada Cilokaq yang dikemas dengan nada Klenang. Ini satu kecerdasan dari tim ini,” katanya.
Pernyataan itu disambut suasana riuh. Dengan nada berseloroh, Miq Agus Fn bahkan menawarkan kemungkinan nama baru bagi perjumpaan dua tradisi tersebut.
“Kalau kita bikin genre baru, namanya Klenang-Cilokaq,” ujarnya, disambut tawa dan riuh anggota tim.
Humor itu sekaligus menunjukkan bahwa di tengah keseriusan pencarian, ruang kreatif tetap tumbuh melalui percakapan yang cair.
Musik yang Berangkat dari Kehidupan
Pada akhirnya, Miq Agus Fn menempatkan dirinya bukan semata-mata sebagai pengarah proses, tetapi sebagai pekerja kebudayaan yang mengamati alam dan mendengarkan kehidupan sehari-hari. Baginya, irama tidak selalu harus ditemukan di ruang latihan atau dalam teori musik yang rumit. Ia sudah hidup dalam percakapan masyarakat.
“Sebenarnya kita mendengar orang di pasar, mendengar orang ngobrol di teras, sebenarnya kita menangkap itu dalam musik kita,” katanya.
Di sanalah mungkin letak inti pencarian Tim Eksperimentasi Musik 2026. Musik yang sedang mereka bangun bukan sekadar menyusun instrumen tradisional dan modern dalam satu panggung. Mereka mencoba menangkap ritme kehidupan, mengambil denyut dari masyarakat, lalu mengolahnya menjadi komposisi baru.
Pertemuan ketujuh itu dihadiri Ni Wayan Sri Artini, I Nyoman Gde Adimusti TBL, Lalu Muhammad Asysaukani, Lalu Prima Wiraputra, Lalu Jagat, Tonie Moersajid, I Nyoman Jovi, Hamdi, Akmal, I Komang Tri W., Burhanuddin, Sahiran, dan Peng.
Malam pun bergerak menuju akhir, tetapi pekerjaan kreatif belum selesai. Masih ada Pengawak Angin dan Pengawak Api yang harus ditemukan jiwanya. Masih ada rekaman yang harus didengarkan kembali. Masih ada dialog yang harus diperpanjang, di dalam maupun di luar ruang latihan.
Namun, setelah tujuh pertemuan, setidaknya sebuah pola mulai terbaca. Dari kedalaman Pengotak, ketenangan Pengawak Aiq, permainan kehidupan dalam Pengawak Tanaq, hingga angin dan api yang menunggu untuk diberi bentuk, karya itu perlahan sedang menemukan jalannya.
Dan mungkin, sebelum akhirnya terdengar sebagai musik di panggung Evaluasi Pertama, ia terlebih dahulu harus belajar melakukan satu hal yang paling mendasar: mendengarkan dirinya sendiri. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































