CERAKEN.ID — Rabu malam, 26 Agustus 2026, Ruang Musik Taman Budaya Provinsi NTB kembali menjadi ruang perjumpaan gagasan.
Memasuki hari kesembilan, Tim Eksperimentasi Musik 2026 tidak sekadar berkumpul untuk memainkan alat musik, melainkan melanjutkan pencarian tentang bagaimana bunyi-bunyi tradisi dan instrumen modern dapat duduk dalam satu komposisi.
Malam itu, fokus latihan diarahkan pada pembentukan Pengawak Angin, salah satu bagian dari eksplorasi musikal yang tengah dirumuskan secara bertahap.
Biola dan Pertanyaan tentang Posisi
Lalu Prima Wiraputra, pemain biola, membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan mendasar mengenai posisi instrumennya dalam bangunan musik yang sedang dieksplorasi. Baginya, biola memiliki kemungkinan berada di dua dunia sekaligus: modern dan tradisional.
“Ya, saya sendiri sedang juga memikirkan untuk tetap mendapat masukan dari kedua belah pihak, karena biola ini bisa dikatakan alat modern, bisa alat tradisional,” ujar Miq Prima.
Menurutnya, ketika dilihat dalam konteks musik modern, biola akan segera ditempatkan sebagai instrumen modern. Namun, dalam konteks tradisi, alat musik itu juga telah lama menjadi bagian dari kultur Melayu dan sejumlah perkembangan musik tradisional di Nusantara.
Persoalan itu, menurut Miq Prima, menjadi penting ketika Tim Eksperimentasi Musik 2026 sedang berusaha membangun kolaborasi yang tidak sekadar mempertemukan alat musik tradisional dan modern dalam satu panggung.
Ia mengingatkan, dalam sejarah Cilokaq terdapat ansambel yang menggunakan biola, meskipun induk musikalnya tetap berada pada gambus. Karena itu, posisi biola dalam komposisi baru ini perlu ditegaskan.
Klenang, Cilokaq, biola, suling dan instrumen modern terus mencari bahasa bersama (av: aks / ceraken.id)
“Kalau ini memang akan menjadi kolaborasi antara kebudayaan yang ada dengan yang modern, maka penguatan posisi biola harus ditegaskan, mewakili siapa,” katanya.
Setelah posisi masing-masing instrumen semakin jelas, ruang kolaborasi, menurut Miq Prima, dapat dibangun dengan lebih terukur. Organ dan gitar dapat berdialog dengan instrumen lain, biola dapat menemukan relasinya dengan gambus, sementara Klenang, Cilokaq dan unsur modern dapat memperoleh porsi masing-masing.
Ia bahkan membayangkan Klenang sebagai induk utama dari konstruksi musikal tersebut.
“Ibarat perahu, Klenang ini induknya, perahunya, ‘kantir’-nya. Sayap kiri dan sayap kanannya adalah Cilokaq dan modern. Kira-kira begitu bayangan saya nanti setelah kita ini bertumbuh berproses,” ujarnya.
Dari Pengotak ke Pengawak Angin
Ketua Tim Eksperimentasi Musik 2026, H. Lalu Agus Fathurrahman, kemudian mengarahkan pertemuan malam itu untuk meninggalkan sejenak eksplorasi Pengotak, Pengawak Aiq dan Pengawaq Tanaq. Fokus latihan dipusatkan pada pembentukan Pengawak Angin.
“Malam ini kita akan membentuk Pengawak Angin. Tinggalkan dulu Pengotak, Pengawak Aiq, dan Pengawaq Tanaq. Sekarang kita langsung saja ke Angin,” kata Lalu Agus Fathurrahman.
Menurutnya, bentuk musikal Pengawak Angin perlu segera ditemukan agar proses berikutnya dapat diarahkan secara lebih fokus. Ia melihat kemungkinan adanya hubungan konseptual antara Pengawak Angin dan Pengawak Tanaq, yang nantinya dapat dimatangkan dalam workshop sehari penuh.
“Kalau bisa Pengawak Angin dengan Pengawak Tanaq, mungkin Mariadi Basri pasti sudah punya konsep, dan nantinya kita matangkan pada workshop sehari penuh, full day,” ujarnya.
Malam itu, ia kemudian membuka ruang kepada para musisi untuk langsung mencoba kemungkinan-kemungkinan bunyi yang telah dibicarakan.

“Jadi sekarang bentuknya yang kita coba. Silakan kak Adi, dan kang Yuga Anggana,” katanya.
Arahan tersebut menjadi penanda bahwa proses eksperimentasi tidak sepenuhnya berjalan dari sebuah partitur yang telah selesai. Bentuknya justru sedang dicari melalui pertemuan langsung antara pengalaman para pemain, karakter instrumen dan ingatan musikal yang mereka bawa masing-masing.
Slendro sebagai Penadah Bunyi
Musisi tradisi Mariadi Basri menjelaskan bahwa Pengawak Angin sebenarnya telah disentuh dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya. Namun, malam itu eksplorasi akan lebih banyak memberi ruang kepada instrumen modern.
“Dalam pertemuan sebelumnya kita sudah sedikit banyak bermain di Pengawak Angin. Malam ini mungkin kita akan lebih banyak bermain di modern, karena ‘penadah’-nya akan slendro,” ujar Mariadi.
Slendro, yakni tangga nada pentatonik yang memiliki lima nada dalam satu oktaf, menjadi salah satu pijakan penting dalam membangun pertemuan antara bunyi modern dan pola musikal tradisi.
Menurut Mariadi, karakter tersebut akan berbeda dengan Klenang. Meski demikian, Klenang tidak akan ditinggalkan atau hanya menjadi elemen pelengkap.
“Klenang ini tidak diam, dia tetap main, karena ada bagian dua-tiga bilah yang akan bermain di situ,” katanya.
Ia kemudian meminta I Komang Tri W, yang akrab disapa Kobar, untuk mencari dan membentuk pola permainan Klenang yang sesuai dengan struktur yang sedang dibangun.
Sementara itu, pengolahan instrumen modern akan dimatangkan melalui permainan suling dan biola, dengan tetap mengacu pada struktur yang telah disepakati dalam latihan sebelumnya. Dalam proses tersebut, tim juga berencana menambahkan sedikit demi sedikit satu bait lagu sebagai “petete”, semacam pengikat atau penanda dalam perjalanan komposisi.

Mariadi melihat ruang diskusi dan permainan akan lebih banyak dijalankan oleh Yuga Anggana, Kharisma Pariasa, Lalu Jagat dan Miq Prima. Di sisi lain, Kobar akan berkonsentrasi pada Klenang untuk menemukan nada-nada yang dibutuhkan.
“Saya kira mas Yuga, Kharisma Pariasa, Lalu Jagat dan Miq Prima lebih banyak bermain dan berdiskusi di situ. Sementara mas Kobar di Klenang untuk mencari nada-nada yang dimaksud,” kata Mariadi Basri.
Laboratorium Bunyi yang Terus Bertumbuh
Pertemuan hari kesembilan itu memperlihatkan bahwa Tim Eksperimentasi Musik 2026 sedang membangun sesuatu yang tidak sederhana. Mereka tidak hanya menyusun komposisi dengan mempertemukan alat musik tradisional dan modern, tetapi juga sedang merumuskan identitas setiap unsur di dalamnya.
Pertanyaan tentang posisi biola, peran Klenang sebagai induk, kemungkinan perjumpaan dengan Cilokaq, hingga penggunaan slendro sebagai “penadah” menjadi bagian dari proses pencarian tersebut. Tidak ada satu unsur yang dibiarkan hadir hanya sebagai ornamen.
Eksperimentasi itu justru bergerak melalui percakapan, perdebatan kecil, permainan berulang dan kesediaan setiap musisi untuk mendengar bunyi yang datang dari instrumen lain.
Hadir dalam pertemuan dan latihan malam itu antara lain Tonie Moersajid, Akmal, Burhanuddin, Sahiran dan Peng.
Dari Ruang Musik Taman Budaya Provinsi NTB, Pengawak Angin perlahan mulai mencari bentuknya. Ia belum menjadi komposisi yang selesai, tetapi justru di situlah proses eksperimentasi menemukan maknanya: sebuah musik tidak lahir hanya dari kepastian, melainkan juga dari keberanian memasuki wilayah yang belum sepenuhnya diketahui.
Hari kesembilan pun menjadi satu lagi penanda perjalanan. Klenang, Cilokaq, biola, suling dan instrumen modern terus mencari bahasa bersama.
Dan di antara bunyi-bunyi yang masih diraba itu, Tim Eksperimentasi Musik 2026 tampaknya sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar: sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak, berdialog dan menatap masa depan tanpa harus meninggalkan akar yang membentuknya. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































