Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

- Penulis

Senin, 24 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Lomba kicau burung pleci ada di tengah masyarakat (foto: ss / ceraken.id)

Lomba kicau burung pleci ada di tengah masyarakat (foto: ss / ceraken.id)

Oleh: Sigit Susanto*

CERAKEN.ID — Lagi-lagi dan lagi, betapa banyak di sepanjang jalan yang perlu diamati. Mengamati peristiwa di tepi jalan raya lebih cermat, jika dengan ritme slow-motion; jalan kaki, naik cidomo, naik sepeda atau naik sepeda motor. Kalau orang naik mobil, apalagi dengan kencang, nyaris sulit akan menangkap sesuatu yang unik di sepanjang jalan.

Kali ini motor kami datang dari Car Free Day di jalan Udayana. Ketika motor membelok kiri melewati bekas bandara Rembiga, di sebelah kanan ada banyak orang berkerumun dan banyak sangkar burung digantung memanjang.

Motor segera aku parkir di sebelah kiri dan Claudia duduk di bangku beton dekat motor. Aku menyeberang mendekati kerumunan itu.

Ada tukang reparasi sepatu di samping kiri dekat trotoar. Aku tanyakan dahulu sebelum mendekat arena burung itu. Diperoleh keterangan, bahwa itu lomba burung pleci dan hadiahnya ayam jago bangkok.

Sambil mendengarkan cerita tukang reparasi sepatu itu, aku melongok ke arena di belakang pagar besi. Ya, benar aku melihat ada sekitar empat atau lima ayam jago dikurung dengan sangkar bambu di tanah.

Aku pamit pada tukang reparasi sepatu dan memberanikan diri maju sambil menyiapkan kamera HP menuju ke depan deret sangkar burung yang digantung.

Mungkin ada tiga puluh sangkar burung menggantung di lonjoran bambu. Suasananya riuh di bawah pohon mangga dan pohon lain.

Baca Juga :  Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Yang menarik bagiku, aku diizinkan membuat video dan aku berjalan di sepanjang trotoar hanya berjarak sekitar lima meter dari arena lomba itu.

Kini lomba dimulai. Seorang memegang semacam kaleng dari bahan blek dan di dalamnya ada benda-benda keras. Kaleng tersebut dikopyok sehingga menimbulkan suara berisik. Sang pemegang kaleng berisik itu berjalan dari ujung sangkar burung ke ujung yang lain. Tujuannya mungkin untuk mengagetkan burung-burung dan uji mental burung, bahwa meskipun burungnya jinak dan pintar berkicau harus tetap tenang.

Kopyokan berlalu, disusul sekitar lima orang maju mendekati deret sangkar burung sambil membawa catatan kertas dan bolpoin. Para juri mencatat dengan cermat burung mana yang paling gacor atau bandel bernyanyi.

Bagaimana cara menilainya. Aku baru tahu bahwa setiap juri hanya mengamati sekitar lima sampai sepuluh sangkar dan tiap sangkar diberi nomor yang menghadap ke juri, sehingga sang juri lebih mudah mencatat nomor sangkar saja.

Kemudian para pemilik burung berdiri tegak sambil menatap burung jagoannya di dalam sangkar. Tampak suasana agak tegang, karena tentu tiap pemilik burung ingin burungnya aktif gacor terus-menerus, sehingga memenangkan perlombaan.

Yang menggodaku gesture para pemilik burung itu, selain terlihat berdiri membatu, mungkin sambil berdoa dalam hati. Saat kutulis ini, Claudia menambahkan, pengamatannya, bahwa para pemilik burung yang berdiri di dekat sangkar burung juga bersiul-siul. Seolah mereka ingin memandu burung jagoannya.

Baca Juga :  Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Di negeri tropis memang terdapat banyak lomba unggas dan binatang. Dari adu jangkrik, adu ayam, karapan sapi di Madura dan karapan kerbau di Sumbawa.

Untuk lomba burung kicau ini umurnya sudah tua. Di Jawa lomba kicau burung dari burung perkutut sampai murai.

Di Lombok orang pelihara burung pleci cukup banyak. Burung kecil yang biasa di ranting pohon mencari ulat dan serangga itu mudah ditemukan di taman, kebun, pekarangan rumah.

Di desa Sandik kami sering melewati warung yang menjual banyak burung pleci dan pakannya. Bahkan beberapa kali di jalan kampung di Sandik kami memergoki sekitar lima sampai sepuluh anak muda duduk di atas jembatan dengan kepala menghadap ke atas. Awalnya kami tak tahu kenapa mereka duduk dengan tegang. Baru kutahu ternyata di atas tergantung beberapa sangkar burung pleci. Bisa jadi ini sedang latihan untuk persiapan lomba.

Di jalan raya aku sering bertemu pengendara motor membawa sangkar burung yang dikerudungi kain hitam.

Begitulah di Lombok tak hanya dikenal sebagai lomba motor GP di Mandalika, tapi lomba kicau burung pleci juga ada di tengah masyarakat. (*)

*Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah
Di Balik Vitrin, Perpustakaan Museum Negeri NTB Menyimpan Ingatan yang Tak Dipamerkan

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA