Hari Kemenangan Mailan

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: cewe / ceraken.id

Ilustrasi: cewe / ceraken.id

Cerita Pendek oleh Cukup Wibowo

CERAKEN.ID — Mailan duduk di meja kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan deretan tabel kosong. Matanya terasa berat, pikirannya berkelebat ke banyak arah.

Di samping tumpukan dokumen laporan semester I Tahun Anggaran 2025, ada botol susu bayi yang baru saja ia bersihkan. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Suaminya, Fikri, baru saja menidurkan anak mereka yang masih berusia enam bulan.

“Mailan, sudah malam. Kamu nggak istirahat dulu?” tanya Fikri lembut, berdiri di ambang pintu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mailan menghela napas panjang. “Besok ada diskusi dengan Bu Ratna. Laporan ini harus selesai. Kalau nggak, rancangan aktualisasi bisa makin tertunda.”

Fikri mendekat, menepuk lembut bahunya. “Aku tahu kamu capek. Tapi jangan sampai sakit.”

Mailan tersenyum tipis. Ia tahu suaminya benar. Namun, aktualisasi yang ia jalani sebagai peserta Latsar CPNS bukan sekadar formalitas. Bagi Mailan, ini adalah batu loncatan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu, tak hanya sebagai seorang ibu, tapi sekaligus sebagai pribadi yang ingin berkembang.

***

Hari itu, di ruang rapat kecil kantor, Mailan duduk berhadapan dengan Bu Ratna, atasannya langsung.

“Mailan, ide aktualisasi kamu bagus. Tapi kamu harus menyesuaikan dengan perubahan jadwal pelaporan. Jangan terlalu kaku dengan rancangan awal. Fokus dulu pada output yang realistis,” ujar Bu Ratna dengan suara tegas, namun penuh perhatian.

Mailan mencatat cepat. “Baik, Bu. Saya akan revisi.”

Sebelum ia sempat menghela napas lega, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari mentor barunya, Pak Damar.

“Kita diskusi sore ini ya, Mailan. Bidang tugasmu memang agak jauh dari saya, tapi coba kita cari benang merahnya.”

Mailan menatap layar ponsel dengan sedikit gelisah. Tangannya sempat gemetar, sementara pikirannya langsung melayang pada sosok Bu Yuni, mentor sebelumnya. Bersama Bu Yuni, setiap diskusi selalu mengalir—ada pencerahan, ada semangat yang terbangun.

Tapi bersama Pak Damar, ia merasa seperti berjalan di jalan berkabut. Ia harus menjelaskan konsep dari awal, dan sering kali jawabannya terasa terlalu umum, tidak menyentuh inti masalah.

Degup jantung Mailan meningkat. Ia tahu, sore ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan ujian bagi kesabarannya. “Bagaimana kalau beliau tidak paham inti proyek aktualisasiku? Bagaimana kalau arah pembahasan melenceng jauh?” pikirnya. Rasa cemas membuat dadanya sesak.

Ia menatap jam di dinding. Waktu terasa bergerak lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Sambil menyiapkan dokumen presentasi, Mailan berulang kali menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun bayangan perbandingan antara Bu Yuni dan Pak Damar terus menghantui.

Saat laptop dinyalakan untuk persiapan Zoom, suasana di ruang kerjanya mendadak seperti menekan. Detik jarum jam terdengar lebih nyaring dari biasanya. Mailan menggenggam erat bolpoin di tangannya, seolah benda itu bisa menyalurkan kegugupannya.

“Sore ini harus kuat. Apa pun yang terjadi, aku harus tetap bisa menjelaskan dengan jelas,” gumamnya dalam hati.

Tiba-tiba notifikasi masuk: Meeting will start in 5 minutes. Jantungnya serasa meloncat ke tenggorokan.

Layar laptop menyala, wajah Pak Damar muncul di Zoom dengan latar belakang tumpukan berkas di meja kerjanya. Suaranya terdengar datar saat menyapa.

“Selamat sore, Mailan. Silakan kamu jelaskan dulu rancangan aktualisasimu.” “Ba… baik, Pak.”

Suara Mailan sedikit bergetar. Ia segera membuka slide presentasinya. Jari-jarinya kaku menekan tombol, bahkan sempat salah klik hingga file tidak mau terbuka. “Astaga…” gumamnya pelan, panik.

“Tenang saja, Mailan,” ujar Pak Damar singkat, meski nadanya tetap formal.

Setelah berhasil membuka file, Mailan mulai memaparkan. Ia berusaha menjelaskan alur kegiatan dengan runut, tapi dalam benaknya berkecamuk pertanyaan,

Apakah beliau bisa menangkap maksudku? Jangan-jangan dianggap tidak relevan…

“Jadi inti kegiatan saya, Pak, adalah menyusun evaluasi melalui data kuesioner dari puskesmas. Tujuannya ”

“Sebentar,” potong Pak Damar. “Kalau saya lihat, ini lebih banyak aspek teknis lapangan. Sementara bidang saya lebih ke manajemen umum. Bagaimana kamu hubungkan ini dengan aspek kebijakan yang lebih luas?”

Mailan tercekat. Ia tidak menyangka arah pertanyaan langsung melompat ke tataran kebijakan. Matanya cepat melirik catatan di kertas, namun tak menemukan jawaban siap pakai.

Baca Juga :  Menjadi ASN Semestinya

“Ehm… iya, Pak. Jadi, sebenarnya, melalui data teknis itu, saya mencoba menarik benang merahnya ke arah—ehm—perumusan rekomendasi kebijakan internal puskesmas…” suaranya melemah.

“Coba jelaskan lebih konkret,” desak Pak Damar.

Mailan menarik napas dalam, namun jantungnya berdegup terlalu keras. Ia merasa seperti berdiri di atas panggung dengan sorot lampu panas mengarah ke dirinya. Satu sisi ingin menyerah, sisi lain berteriak agar ia tetap bertahan.

“Baik, Pak. Misalnya, dari keterlambatan respon pengumpulan data, bisa saya simpulkan adanya kelemahan koordinasi keuangan antarunit. Nah, ini bisa jadi masukan agar dibuat mekanisme monitoring berkala…”

Pak Damar mengangguk pelan. “Ya, lumayan. Coba kembangkan itu.”

Mailan mengangguk cepat, meski keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Ia merasa setiap kalimat harus diperjuangkan dengan susah payah.

Pertemuan konsultasi dengan Pak Damar dalam Zoom Meeting itu berlangsung hampir satu jam. Mailan berusaha sekuat tenaga mengimbangi arahan Pak Damar, walau dalam hati ia berulang kali bergumam, Andai saja masih dengan Bu Yuni, diskusi ini pasti lebih terarah.

Saat Zoom berakhir, Mailan menutup laptopnya dan terdiam cukup lama. Tangannya lemas, bahunya terasa berat. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Tegang, lelah, tapi juga sedikit lega karena berhasil melewati sesi konsultasi yang menegangkan itu tanpa benar-benar runtuh.

***

Berbeda dengan suasana bersama mentor, kebersamaan dengan coach-nya, Ibu Nirmala, selalu menghadirkan energi baru.

“Mailan, aku tahu kamu lagi pusing. Tapi jangan lupa, ini bukan sekadar proyek yang harus diselesaikan oleh seorang CPNS. Sebagai pegawai baru, ini juga bisa menjadi semacam latihan mengelola stres, latihan membagi waktu. Justru di sini softskill kamu ditempa,” kata Ibu Nirmala dalam sebuah sesi coaching.

Ucapan itu seperti suntikan semangat. Mailan mengangguk, matanya sedikit berkaca. “Terima kasih, Bu. Rasanya saya hampir menyerah.”

“Tidak ada kata menyerah. Ingat, kamu bukan hanya Mailan si pegawai baru, kamu juga ibu yang sedang belajar menjadi teladan bagi anakmu. Bayangkan kelak anakmu akan melihat ibunya pernah melewati masa sulit ini dengan tegar.”

Mailan terdiam. Hatinya hangat sekaligus tercekat oleh kata-kata Ibu Nirmala.

***

Sore menjelang, Mailan duduk bersama dua rekan kerjanya, Dina dan Yusril, di ruang arsip.

“Lan, aku bantu input data ya. Kamu nggak usah sendirian,” ucap Dina, yang sejak awal selalu jadi teman diskusi ringan.

“Tapi ini lumayan rumit, Din.”

“Justru biar cepat selesai. Kita bagi dua. Kalau ada yang salah, nanti kita koreksi bareng.”

Yusril ikut menimpali sambil tertawa kecil, “Mailan, kamu ini terlalu keras sama diri sendiri. Kalau terus dipendam, ya jelas stres. Kita di kantor ini kan tim.”

Mailan tersenyum tulus. Ia benar-benar merasa tidak sendiri. Meskipun laporan keuangan dari puskesmas belum juga terkumpul, setidaknya ia punya sandaran. Namun, masalah baru muncul. Dua minggu berlalu, hasil kuesioner yang ditunggu tetap nihil. Dari lebih dua puluh puskesmas, hanya delapan yang merespons.

“Kok begini ya, Din. Padahal ini penting untuk evaluasi,” keluh Mailan, menatap layar komputer.
Dina mengangkat bahu. “Ya, kalau bagian keuangan mereka nggak responsif, kita yang kena imbas. Kamu harus siap mental.”

Mailan menggigit bibirnya. Keterlambatan ini bisa membuat proyek aktualisasinya tampak gagal.

***

Malam itu, Mailan menangis pelan di kamar. Bayinya terlelap di pangkuan, sementara Fikri menatap dengan khawatir.

“Aku sudah berusaha, Fik. Tapi kok rasanya semua berantakan. Mentor ganti, jadwal berubah, data nggak ada. Aku takut gagal.”

Fikri memegang tangannya erat. “Mailan, gagal itu kalau kamu berhenti berusaha. Tapi kamu masih berjalan. Itu artinya kamu belum gagal.”

Mailan terisak. Kata-kata itu menembus rasa putus asanya.

Baca Juga :  Menjadi ASN Semestinya

***

Esoknya, Mailan memberanikan diri melapor pada Bu Ratna. Dengan suara bergetar, ia menjelaskan kondisi data yang tidak lengkap.

Bu Ratna terdiam sesaat, lalu berkata, “Mailan, justru di sinilah letak aktualisasi kamu. Bukan hanya mengerjakan rencana, tapi beradaptasi dengan kenyataan. Buat analisis berdasarkan data yang ada, lengkapi dengan catatan kendala. Itu tetap berharga.”

Mendengar itu, dada Mailan terasa lebih lega. Ia sadar, aktualisasi bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang proses belajar yang memang harus ia lewati.

Hari-hari berikutnya, ia bekerja lebih tenang. Dukungan Dina dan Yusril membuat data pelengkap bisa disusun lebih cepat. Sesi coaching dengan Ibu Nirmala memberi arahan bagaimana menulis laporan yang jujur namun solutif. Fikri, dengan kesabaran tanpa batas, selalu siap mengambil alih bayi mereka saat Mailan lembur.

***

Akhirnya, hari presentasi dalam Seminar Hasil Aktualisasi tiba. Mailan berdiri di depan ruangan, menatap penguji dengan jantung berdebar.

Mailan mengawali presentasinya sesuai yang diarahkan Ibu Nirmala, coah-nya. “Dalam presentasi, tak harus kita tampilkan banyak slide. Fokus pada poin apa yang hendak kita jelaskan. Dibanding saat Seminar Rancangan, pada presentasi hasil, fokus pada apa yang sudah kita capai. Bila ada kendala jelaskan kenapa,” urai Ibu Nirmala kepadanya saat sesi coaching.

Mailan benar-benar mengikuti arahan Ibu Nirmala itu. Termasuk bagaimana menjawab secara to the point pada setiap pertanyaan maupun saran dari Penguji.

Di akhir presentasi Mailan menyampaikan closing statement seperti yang diminta oleh Penguji. Suaranya jelas terdengar oleh siapa saja di ruang Mandalika, tempat Seminar diberlangsungkan.

“Proyek aktualisasi ini memang tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana awal, Pak. Ada kendala perubahan jadwal, pergantian mentor, serta kurang responsifnya pengumpulan data dari puskesmas. Namun dari sini saya belajar satu hal penting bahwa aktualisasi bukan hanya soal menyelesaikan proyek, tetapi tentang mengasah kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan menjaga semangat di tengah keterbatasan.”

Hening sejenak. Lalu terdengar tepuk tangan.

Di hadapannya, Ibu Nirmala yang duduk bersebelahan dengan pengujinya, Doktor Muslimin, tampak mengacungkan jempol. Tepuk tangan membahana di ruangan. Tak hanya dari para peserta seminar lain, tapi lebih khusus dari Pak Damar, mentornya, yang terlihat bertepuk tangan paling keras. Mailan menatap mereka dengan mata berkaca. Ia tahu, perjuangan ini tidak sia-sia.

Malamnya, ketika kembali ke rumah, ia mencium kening bayinya. “Nak, semoga kelak kamu tahu, ibumu pernah melewati masa sulit ini demi jadi lebih baik untukmu.”

Fikri merangkulnya. “Kamu berhasil, sayang.”

Mailan tersenyum dengan mata berkaca, lalu merebahkan kepalanya di dada suaminya. Detak jantung Fikri terdengar tenang, seakan meredam semua lelah yang sempat menyesakkan dada. Malam itu, ia merasa dunia begitu damai.

“Aku nggak akan bisa sampai di titik ini tanpa kamu,” bisik Mailan lirih. “Terima kasih sudah selalu sabar, meski aku sering terlalu sibuk dengan laporan dan tugas.”

Fikri mengusap rambutnya lembut. “Aku bangga padamu, Lan. Kamu bukan hanya ibu terbaik untuk anak kita, tapi juga sosok yang berani menghadapi tantangan. Dan aku akan selalu ada di sisimu.”

Mailan menutup mata, merasakan hangatnya pelukan yang menyalurkan kekuatan. Bayinya yang terlelap di boks kecil di samping tempat tidur pun menambah kesempurnaan suasana malam itu. Senyuman tipis tersungging di bibir mungil sang buah hati, seolah turut merayakan kemenangan ibunya.

Di hatinya, Mailan tahu satu hal: perjalanan aktualisasi ini adalah cahaya— penerang yang membawanya pada kedewasaan baru, baik sebagai ASN, sebagai istri, maupun sebagai seorang ibu. Kebahagiaan sederhana itu—pelukan hangat, senyum suami, dan tawa kecil anak—adalah hadiah terindah yang tak tergantikan. (*)

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Menjadi ASN Semestinya
Senja di Savana Bale Tepak Batujai*
Ia Menjadi Jejak di Pikiran
Hujan Duka
Noktah Merah di Cangkir Kopi
Ataraxia: Ketenangan Jiwa yang Murni
Laksita Ratnaloka Permana Sari
Syafaat

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:26 WITA

Hari Kemenangan Mailan

Kamis, 30 April 2026 - 10:32 WITA

Menjadi ASN Semestinya

Jumat, 20 Maret 2026 - 04:29 WITA

Senja di Savana Bale Tepak Batujai*

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:56 WITA

Ia Menjadi Jejak di Pikiran

Rabu, 11 Maret 2026 - 11:57 WITA

Hujan Duka

Berita Terbaru

Salah satu momen penting dalam Rakerkomwil IV APEKSI 2026 adalah penunjukan Kota Mataram sebagai tuan rumah Rakerkomwil APEKSI ke-22 Tahun 2027(Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan

Jumat, 22 Mei 2026 - 21:37 WITA

Masa depan pelayanan publik Indonesia sedang bergerak menuju sistem yang lebih terkoneksi (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Jumat, 22 Mei 2026 - 20:46 WITA

Ilustrasi: cewe / ceraken.id

CERITA PENDEK

Hari Kemenangan Mailan

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:26 WITA