Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan

- Penulis

Jumat, 22 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Salah satu momen penting dalam Rakerkomwil IV APEKSI 2026 adalah penunjukan Kota Mataram sebagai tuan rumah Rakerkomwil APEKSI ke-22 Tahun 2027(Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

Salah satu momen penting dalam Rakerkomwil IV APEKSI 2026 adalah penunjukan Kota Mataram sebagai tuan rumah Rakerkomwil APEKSI ke-22 Tahun 2027(Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah denyut pariwisata Kota Denpasar, para kepala daerah dari berbagai kota di kawasan timur Indonesia berkumpul bukan sekadar untuk menghadiri agenda organisasi pemerintahan. Mereka datang membawa pengalaman, tantangan, sekaligus harapan tentang masa depan kota-kota yang semakin kompleks menghadapi perubahan zaman.

Jumat, 22 Mei 2026, suasana hangat terasa di Hotel Sanur, Denpasar, Bali, saat Rapat Kerja Komisariat Wilayah (Rakerkomwil) IV ke-21 Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia digelar dengan mengusung tema “Kolaborasi Kota Harmoni Nusantara.”

Tema tersebut bukan sekadar slogan seremoni. Ia menjadi penegasan bahwa pembangunan perkotaan hari ini tidak lagi bisa dijalankan secara sendiri-sendiri. Kota membutuhkan jejaring, kerja sama, dan kemampuan saling belajar untuk menghadapi tantangan urbanisasi, transformasi digital, perubahan iklim, hingga kebutuhan pelayanan publik yang terus berkembang.

Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, hadir bersama 13 kepala daerah anggota Komisariat Wilayah IV APEKSI lainnya. Pertemuan itu memperlihatkan bagaimana ruang-ruang dialog antarpemerintah daerah kini semakin penting dalam menentukan arah pembangunan kota di Indonesia.

Kota-Kota yang Belajar Satu Sama Lain

Rakerkomwil IV APEKSI 2026 menjadi lebih dari sekadar forum administratif organisasi. Ia berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan tentang bagaimana kota dapat bertahan dan tumbuh di tengah perubahan global yang bergerak cepat.

Dalam forum tersebut, para kepala daerah membahas berbagai isu strategis perkotaan. Mulai dari penguatan tata kelola pemerintahan, inovasi sektor pariwisata, transformasi layanan publik, hingga pembangunan kota yang lebih berkelanjutan dan responsif terhadap tantangan masa depan.

Baca Juga :  Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Di balik pembahasan itu, tersimpan kesadaran bahwa setiap kota menghadapi persoalan yang hampir serupa: pertumbuhan penduduk, tekanan lingkungan, kebutuhan infrastruktur, dan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang lebih cepat serta transparan.

Karena itu, kolaborasi menjadi kata kunci.

Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menilai forum seperti APEKSI penting untuk memperkuat sinergi antarkota dalam mencari solusi pembangunan yang lebih adaptif.

“Kolaborasi antarkota menjadi penting agar setiap daerah tidak berjalan sendiri menghadapi tantangan pembangunan. Dari forum seperti ini lahir pertukaran gagasan dan pengalaman yang bisa menjadi inspirasi bagi kota lain,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pembangunan kota modern tidak lagi hanya bergantung pada kekuatan internal daerah, tetapi juga pada kemampuan membangun jejaring dan berbagi inovasi dengan daerah lain.

Kota-kota diharapkan mampu bergerak bersama sebagai bagian dari harmoni Nusantara (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)
Dari Denpasar ke Mataram: Estafet Kepercayaan

Salah satu momen penting dalam Rakerkomwil IV APEKSI 2026 adalah penunjukan Kota Mataram sebagai tuan rumah Rakerkomwil APEKSI ke-22 Tahun 2027.

Penunjukan tersebut bukan hanya keputusan administratif organisasi, melainkan bentuk kepercayaan terhadap posisi Kota Mataram dalam jejaring pemerintah kota di Indonesia.

Bagi Kota Mataram, kesempatan itu membuka ruang lebih besar untuk memperlihatkan pengalaman pembangunan kota, inovasi pelayanan publik, serta berbagai langkah transformasi yang selama ini dijalankan.

Di sisi lain, penunjukan tersebut juga membawa tanggung jawab baru. Sebab menjadi tuan rumah berarti menjadi ruang pertemuan gagasan dan kolaborasi bagi kota-kota lain di kawasan.

Suasana hangat yang terbangun di Denpasar memperlihatkan bahwa hubungan antarpemerintah daerah kini bergerak lebih cair dan kolaboratif. Kota tidak lagi diposisikan sebagai entitas yang bersaing secara sempit, melainkan bagian dari ekosistem pembangunan nasional yang saling terhubung.

Baca Juga :  Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan
Membangun Kota yang Harmonis dan Berkelanjutan

Tema “Kolaborasi Kota Harmoni Nusantara” pada akhirnya mengandung makna yang lebih luas daripada sekadar kerja sama birokrasi. Ia berbicara tentang bagaimana kota-kota di Indonesia dapat tumbuh tanpa kehilangan keseimbangan sosial, budaya, dan lingkungan.

Pembangunan kota yang maju hari ini tidak cukup hanya diukur dari tingginya gedung atau besarnya investasi. Kota juga dituntut mampu menghadirkan ruang hidup yang manusiawi, pelayanan publik yang berkualitas, serta tata kelola yang inklusif.

Melalui forum APEKSI, para kepala daerah mencoba merumuskan arah pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan dan kualitas hidup masyarakat.

“Melalui forum ini kita berharap lahir berbagai ide, inovasi, dan kolaborasi baru yang mampu mendukung pembangunan kota yang harmonis, maju, dan berkelanjutan,” ungkap salah satu pembahasan dalam forum tersebut.

Di tengah tantangan urban yang semakin kompleks, semangat kolaborasi menjadi penting untuk menjaga agar kota-kota Indonesia tidak tumbuh secara terpisah dan saling meninggalkan. Sebaliknya, kota-kota itu diharapkan mampu bergerak bersama sebagai bagian dari harmoni Nusantara.

Dan dari Denpasar, gagasan itu kembali ditegaskan: bahwa masa depan kota tidak dibangun oleh satu daerah saja, melainkan oleh kemampuan seluruh kota untuk saling terhubung, belajar, dan bertumbuh bersama. (*)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: ppid kota mataram

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan
Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya
Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya
Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN
Menyusuri Jejak Wallace, Menghidupkan Kembali Memori Kota Tua Ampenan
Sepak Bola, Sorak Warga, dan Ruang Persaudaraan di RTH Pagutan
Menyemai Integritas dari Mataram: Saat Antikorupsi Menjadi Gerakan Budaya

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:43 WITA

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:05 WITA

Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:28 WITA

Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:49 WITA

Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:34 WITA

Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA