CERAKEN.ID — Siang bergerak perlahan ketika lembar-lembar visual poetry karya Mantra Ardhana dipasang di dinding ruang kreatif Organic Mind. Tidak seluruhnya mudah dibaca. Ada potongan kata yang tampak seperti serpihan ingatan, garis-garis yang menyerupai denyut bawah sadar, dan ruang kosong yang justru terasa paling bising.
Di tempat itu, Rabu, 20 Mei 2026, berlangsung sebuah percakapan panjang mengenai seni, kesadaran, dan legacy seniman dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional. Bagi Mantra Ardhana, seni bukan sekadar medium ekspresi estetika. Ia adalah cara manusia meninggalkan jejak kesadaran bagi zamannya.
Dalam wawancara yang berlangsung di Organic Mind tersebut, Mantra memaknai kebangkitan nasional bukan hanya sebagai peristiwa sejarah, melainkan proses batin yang terus berlangsung di dalam diri manusia dan kebudayaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Banyak orang memahami kebangkitan sebagai peristiwa politik atau sejarah nasional. Padahal kebangkitan paling awal terjadi di dalam kesadaran manusia sendiri,” ujarnya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan dipenuhi arus informasi digital, Mantra melihat seniman memiliki tanggung jawab yang semakin penting: menjaga ruang refleksi agar manusia tidak kehilangan dirinya sendiri.
Legacy Seniman dan Ingatan Kebudayaan
Bagi Mantra Ardhana, legacy seorang seniman bukan terutama soal popularitas atau seberapa lama namanya dikenang publik. Legacy, menurutnya, adalah kemampuan sebuah karya meninggalkan resonansi kesadaran lintas generasi.
“Saya percaya karya seni itu seperti jejak energi. Ketika seorang seniman jujur terhadap proses kreatifnya, jejak itu akan tetap hidup meskipun tubuhnya sudah tidak ada,” katanya.
Pandangan itu membuatnya melihat Hari Kebangkitan Nasional sebagai momentum penting untuk membaca kembali posisi seniman dalam perjalanan bangsa. Jika pada 1908 kaum terpelajar membangunkan kesadaran kolektif melalui organisasi dan pemikiran, maka hari ini seniman memiliki tugas menjaga kedalaman makna di tengah dunia yang semakin dangkal oleh kecepatan informasi.
Menurut Mantra, tantangan terbesar generasi sekarang bukan hanya penjajahan fisik atau ekonomi, tetapi krisis perhatian dan krisis kesadaran. Manusia modern hidup dalam banjir visual dan data, tetapi perlahan kehilangan kemampuan mendengar suara batinnya sendiri.
“Kolonialisme hari ini bisa hadir dalam bentuk algoritma, dalam bentuk banjir citra yang membuat manusia lupa berpikir secara mendalam,” ungkapnya.
Karena itu, karya-karya Visual Poetry yang ia bangun sering kali tidak menawarkan jawaban langsung. Ia justru menciptakan ruang tafsir, ruang sunyi, dan ruang kontemplasi agar penonton mengalami dialog dengan dirinya sendiri.
Unconscious Theory: Membaca Bawah Sadar Bangsa
Salah satu gagasan utama yang terus dikembangkan Mantra Ardhana adalah Unconscious Theory. Sebuah pendekatan artistik yang berangkat dari keyakinan bahwa karya seni lahir bukan hanya dari kesadaran rasional, tetapi juga dari lapisan bawah sadar manusia.

Dalam proses kreatifnya, Mantra membiarkan simbol, kata, bentuk, dan fragmen visual muncul secara intuitif sebelum kemudian dirangkai menjadi komposisi Visual Poetry.
“Bawah sadar menyimpan memori kolektif manusia. Di sana ada trauma, harapan, ketakutan, bahkan identitas kebangsaan yang sering tidak kita sadari,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Unconscious Theory berusaha membaca bagaimana pengalaman sosial dan kebudayaan tersimpan di dalam diri manusia secara tersembunyi. Dalam konteks Hari Kebangkitan Nasional, teori itu menjadi relevan karena kebangkitan bangsa, menurutnya, selalu dimulai dari perubahan kesadaran kolektif.
Mantra melihat bahwa Indonesia hari ini sedang menghadapi pertarungan besar di ruang batin masyarakatnya sendiri. Kemajuan teknologi digital menghadirkan peluang besar, tetapi juga ancaman keterasingan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan.
“Kita hidup di zaman ketika orang sangat terkoneksi secara digital, tetapi justru semakin jauh dari dirinya sendiri. Karena itu seni harus menjadi ruang untuk memulihkan kesadaran,” katanya.
Melalui karya Visual Poetry, ia mencoba mempertemukan kata dan visual sebagai bahasa bawah sadar. Teks tidak lagi hanya dibaca secara literal, tetapi dirasakan sebagai getaran emosional dan pengalaman psikologis.
Kebangkitan Nasional sebagai Kebangkitan Kesadaran
Dalam pandangan Mantra Ardhana, Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai ritual tahunan yang hanya dipenuhi pidato formal dan seremoni kenegaraan. Momentum itu perlu dimaknai sebagai kesempatan membaca ulang arah kesadaran bangsa.
“Kebangkitan nasional hari ini bukan lagi sekadar soal melawan penjajahan fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana manusia Indonesia mampu menjaga kesadaran, empati, dan imajinasinya di tengah dunia yang semakin mekanis,” tuturnya.
Ia percaya bahwa seniman memiliki peran penting menjaga sisi kemanusiaan bangsa. Ketika politik sibuk dengan kekuasaan dan teknologi sibuk mengejar efisiensi, seni hadir untuk menjaga kepekaan.
Dalam karya-karya Visual Poetry miliknya, Mantra tidak sekadar menyusun puisi atau gambar. Ia membangun lapisan-lapisan pengalaman yang mengajak penonton masuk ke wilayah refleksi personal sekaligus sosial. Ada kegelisahan tentang identitas, ingatan sejarah, tubuh manusia, hingga relasi antara teknologi dan kesadaran.
Baginya, legacy seniman tidak diukur dari banyaknya karya yang diproduksi, tetapi dari seberapa jauh karya itu mampu menyalakan kesadaran baru.
“Seni mungkin tidak bisa langsung mengubah dunia. Tapi seni bisa mengubah cara manusia memandang dunia. Dan dari situlah perubahan besar selalu dimulai,” ucapnya.
Di tengah peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026, gagasan itu terasa seperti pengingat penting: bahwa kebangkitan bangsa tidak hanya lahir dari pembangunan fisik atau kemajuan teknologi, tetapi juga dari kemampuan manusia menjaga kedalaman kesadarannya sendiri. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































