Merawat Ingatan Ladang: Ketika Museum Menyuarakan Tradisi Berladang Masyarakat Sasak

- Penulis

Minggu, 5 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Buku ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai rujukan penting tentang kebudayaan agraris di Lombok (Foto: aks/ceraken.id)

Buku ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai rujukan penting tentang kebudayaan agraris di Lombok (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah hiruk-pikuk arus modernisasi dan perubahan lanskap agraria, sebuah buku terbit dari ruang yang tak biasa: museum.

Tradisi Berladang Masyarakat Sasak-Lombok Nusa Tenggara Barat, ditulis oleh Ahmad Nuralam, Aulia Rahman Adipura, dan Bunyamin, menjadi penanda penting bahwa museum bukan sekadar ruang sunyap penyimpan artefak, melainkan juga ruang hidup yang mampu “berbicara” tentang praktik keseharian masyarakat.

Diterbitkan oleh Museum Nusa Tenggara Barat pada November 2024, buku setebal 84 halaman ini tampil sebagai upaya serius mendokumentasikan sekaligus menafsirkan tradisi berladang masyarakat Sasak di Pulau Lombok.

Keunikan buku ini terletak pada keberaniannya menghubungkan dua dunia yang kerap dianggap terpisah: museum dan praktik agraris. Selama ini, museum identik dengan benda mati, etalase, dan narasi masa lalu yang statis.

Namun melalui buku ini, museum justru menunjukkan fungsinya sebagai lembaga pelestari yang aktif: melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya melalui kajian yang kontekstual.

Tradisi berladang, yang selama ini hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, diangkat menjadi objek pengetahuan yang sistematis dan dapat diakses publik.

Langkah ini menjadi penting, mengingat salah satu koleksi terbesar museum, koleksi etnografi, justru seringkali miskin informasi. Alat-alat pertanian tradisional yang tersimpan rapi di gudang atau ruang pamer, kerap kehilangan konteks penggunaannya.

Buku ini berusaha menjembatani kekosongan tersebut. Ia tidak hanya mencatat benda, tetapi juga menjelaskan makna, fungsi, dan relasi sosial-budaya yang melingkupinya.

Penelitian yang menjadi dasar buku ini dilakukan di empat wilayah yang merepresentasikan keragaman tradisi berladang di Lombok: Desa Beririjarak (Lombok Timur), Dusun Ende (Lombok Tengah), Dusun Dasar Turul di Desa Bayan (Lombok Utara), dan Dusun Gumantar di Kecamatan Kayangan (Lombok Utara).

Pilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Keempatnya menyimpan jejak kuat praktik berladang yang masih bertahan, meskipun di tengah tekanan perubahan ekonomi dan ekologis.

Dalam batasan konseptualnya, buku ini menggarisbawahi empat kata kunci: tradisi, berladang, masyarakat, dan etnis Sasak. Definisi tentang Sasak sendiri dijelaskan secara historis dan etimologis.

Mengutip Goris dalam Monografi NTB, istilah Sasak berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “rakit”, dengan makna etimologis sebagai “orang yang pergi dari daerah asal menggunakan rakit”.

Baca Juga :  Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Penjelasan ini membuka ruang tafsir bahwa identitas Sasak tidak tunggal, melainkan hasil dari perjalanan sejarah panjang, termasuk pengaruh budaya Jawa pada masa klasik dan Islam, serta jejak prasejarah yang ditandai oleh temuan artefak seperti kapak genggam dan gerabah di wilayah Lombok.

Bagian analisis buku ini menjadi inti yang paling menarik. Penulis membaginya dalam tiga aspek utama: peralatan berladang, perekonomian masyarakat, serta sosial dan budaya.

Dari sisi peralatan, terlihat bahwa masyarakat Sasak masih mempertahankan teknologi tradisional yang sederhana namun fungsional. Peralatan dibuat dari bahan lokal seperti kayu dan bambu, serta mengandalkan tenaga manusia.

Menariknya, peralatan ini tidak hanya bersifat profan, tetapi juga sakral. Dalam tradisi berladang, terdapat tahapan-tahapan ritual seperti membangar—proses membuka lahan—yang melibatkan perlengkapan khusus seperti sirih, pinang, ayam, dan dupa.

Peralatan sakral ini menjadi medium komunikasi antara manusia, leluhur, dan Tuhan.

Di sisi lain, peralatan profan seperti cangkul, golok, dan wadah benih menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap kebutuhan praktis. Namun yang paling menarik adalah keragaman istilah.

Satu fungsi alat bisa memiliki nama berbeda di tiap daerah: pak-pak, asek, penajuk, hingga tupak. Variasi ini bukan sekadar perbedaan bahasa, tetapi cerminan kekayaan budaya lokal yang hidup dan berkembang secara organik.

Dalam aspek ekonomi, buku ini menunjukkan bahwa berladang bukan sekadar pilihan, melainkan konsekuensi dari kondisi geografis. Masyarakat yang tinggal di lahan kering dan dataran tinggi menjadikan berladang sebagai strategi bertahan hidup.

Meski hasilnya tidak sebesar pertanian sawah, berladang tetap menjadi sumber penghidupan yang stabil dan diwariskan turun-temurun. Ada semacam logika keberlanjutan di dalamnya, bahwa yang kecil namun konsisten, tetap mampu menjaga kesinambungan hidup keluarga.

Sementara itu, dari perspektif sosial dan budaya, tradisi berladang memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong. Praktik seperti besiru, beseruan, atau betulungan menunjukkan bahwa kerja kolektif masih menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Berladang bukan aktivitas individual, melainkan peristiwa sosial yang melibatkan banyak orang, dari pembukaan lahan hingga panen.

Lebih jauh, tradisi ini juga diatur oleh pranata adat. Di Desa Bayan dan Gumantar, misalnya, terdapat struktur sosial yang menentukan siapa yang berhak memimpin ritual, kapan waktu pelaksanaan, dan bagaimana tata caranya.

Baca Juga :  Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu

Tokoh adat seperti melokaq atau kyai memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan spiritual.

Pengetahuan tradisional juga menjadi bagian tak terpisahkan. Masyarakat memiliki cara sendiri dalam membaca musim, menentukan waktu tanam, hingga mengendalikan hama.

Ritual seperti beruangin, menyiramkan ramuan air kelapa dan gula merah yang telah didoakan, menunjukkan perpaduan antara pengetahuan ekologis dan kepercayaan spiritual.

Pada akhirnya, berladang bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan sebuah sistem pengetahuan dan nilai yang menyatu dalam kehidupan masyarakat Sasak.

Dari membuka lahan hingga panen, setiap tahapan mengandung makna, aturan, dan simbol yang diwariskan lintas generasi. Bahkan ketika beberapa tahapan mulai jarang dilakukan, jejaknya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Rujukan Penting

Buku ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai rujukan penting tentang kebudayaan agraris di Lombok. Ke depan, penguatan narasi dapat dilakukan dengan menghadirkan lebih banyak kisah langsung dari para pelaku, petani ladang, sehingga pengalaman hidup mereka menjadi semakin terasa dekat bagi pembaca.

Selain itu, penampilan dokumentasi visual seperti foto aktivitas berladang, ilustrasi peralatan, maupun peta lokasi penelitian semakin memperkaya pengalaman membaca dan memudahkan pemahaman lintas kalangan, terutama generasi muda.

Buku ini juga berpeluang untuk dikembangkan ke dalam format yang lebih luas, seperti edisi populer, buku ajar, atau bahkan media digital interaktif. Dengan demikian, pengetahuan tentang tradisi berladang tidak hanya tersimpan sebagai arsip, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran yang hidup.

Lebih jauh lagi, temuan-temuan dalam buku ini dapat menjadi pijakan untuk program kolaboratif antara museum, pemerintah daerah, dan masyarakat; baik dalam bentuk festival budaya, edukasi berbasis komunitas, maupun penguatan ekonomi lokal berbasis tradisi.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Ia membuka ruang bagi museum untuk terus hadir sebagai jembatan antara pengetahuan, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang terus bergerak. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak
Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri
Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu
Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan
Ketika Cahaya Itu Adalah Sosok “Nuriadi”: Novel “Datoq Nyatoq dalam Perspektif Strukturalisme Genetik
Membaca Keris NTB dari Vitrin Museum hingga Jejak Pengetahuan
Novel sebagai Jalan Literasi: Ketika Datoq Nyatoq Menjadi Jembatan Membaca Dunia

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:04 WITA

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:55 WITA

Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:33 WITA

Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:30 WITA

Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:58 WITA

Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA