Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

- Penulis

Senin, 17 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kuda juga disewakan untuk anak-anak yang ingin naik (foto: ss / ceraken.id)

Kuda juga disewakan untuk anak-anak yang ingin naik (foto: ss / ceraken.id)

Oleh: Sigit Susanto*

CERAKEN.ID — Menjelang pukul enam pagi, motor kami menggelinding di jalan Pariwisata depan Bale Pelangi menuju Meninting. Terlihat banyak orang sedang melakukan Jogging, jalan santai di sepanjang jalan. Sesampai di pertigaan Meninting belok kiri menuju Ampenan.

Car Free Day menjadi atraksi yang kami tunggu-tunggu setiap kami berada di Lombok. Sudah tak terhitung, berapa kali kami mendatangi acara yang digelar tiap Minggu pagi ini.

Seingatku istilah Car Free Day pertama dicetuskan di kota Roma, Italia yang padat lalu-lintasnya. Ada inisiatif cerdas dari sekelompok aktivis lingkungan, untuk mengosongkan kota dalam sehari, guna mengurangi rutinitas padat di jalan raya, sekaligus menyingkirkan polusi udara dari tengah kota.

Dari Roma ritual sekaligus kampanye kebersihan udara ini ditiru banyak negara, termasuk Indonesia.

Jalan Udayana ditutup untuk kendaraan bermotor dari pukul 07.00 sampai pukul 10.00. Tiga jam jalan panjang itu harus menghela napas lega.

Durasi tiga jam itu dimanfaatkan bagi pejalan kaki dengan bebas. Mereka datang dari berbagai sudut kota Mataram dan sekitarnya.

Tampak keharmonisan alami tertakar di sini (foto: ss / ceraken.id)

Sepertinya kurang seru, jika orang yang berjalan itu tak disediakan minuman dan makanan yang diperlukan. Nah, dari sini mulailah Car Free Day yang dimaksudkan dari kota Roma untuk menangkis polusi udara, menjadi ajang berdagang.

Sepanjang dua trotoar hingga merebak sampai di taman Teras digelar aneka kuliner dari yang paling tradisional sampai paling modern. Kue apem yang memakai kayu api, nasi lemang dari beras ketan yang ditaruh di dalam bambu dan dibakar, sampai makanan korea.

Dari sate bulayak Narmada sampai bakmi khas Malaysia. Juga dijual tanaman cabe, terung, tanaman hias dan juga ikan hias, kucing Anggora dan ada yang keturunan kucing Benggal, mirip leopard.

Pakaian dan sepatu, baik baru maupun bekas dipajang di trotoar. Ada celana, baju sampai jilbab ditawarkan. Selimut, seprei, bantal guling juga ada.

Perangai anak-anak kecil dengan gembira mendapatkan makanan atau minuman  atau mainan idolanya. Orang tua yang harus tebal dompetnya.

Baca Juga :  Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram

Ada jasa melukis wajah bocah warna-warni dengan contoh yang disediakan. Ada penjual jepitan rambut yang diikat mainan anak ayam, kutuk masih berbulu kuning. Lucu sekali.

Claudia memergoki meja yang menjual jepitan rambut dan gantungan kunci. Anum, nama penjual asesoris di tengah lautan penjual lain. Ia punya passion di design grafis dan usahanya diberi nama Muna Gallery. Kemungkinan nama galerinya itu hanya membalikkan namanya sendiri Anum menjadi Muna.

Ternyata ia bisa membuat gantungan kunci dari foto. Kebetulan aku penyuka sastrawan Franz Kafka. Aku sodorkan dengan motif wayang Kafka, dengan aneka gambar yang aku foto dari wayang Kafka. Ada sosok kecoak Gregor Samsa, sosok orang tua Gregor dan seluruh tokoh novelet Metamorfosis dalam wujud wayang. Tak tertinggal wajah Kafka dan Milena, pacarnya bisa dibuat gantungan kunci.

Memancing dengan magnet pada ikan plastik (foto: ss / ceraken.id)

Pesananku itu jadi dengan kualitas yang sangat bagus. Gantungan kunci motif Kafka itu kubawa ke Swiss dan aku hadiahkan untuk teman-temanku di Swiss yang menyelenggarakan pentas wayang Kafka. Sungguh tak kusangka, di tengah kerumunan Car Free Day bisa pesan asesoris bernada literasi.

Car Free Day di jalan Udayana mungkin mirip Car Free Day di Jakarta atau tempat lain di Indonesia. Di Lombok ini Claudia paling terkesima dengan atraksi mainan anak kecil. Ada yang memberi warna pada sketsa lukisan kupu-kupu, ikan duyung, binatang, wajah gadis.

Ada jasa menyewakan motor kecil, mobil kecil yang diikat dan berputar dengan iringan musik. Anak kecil biasanya duduk dan motor atau mobil atau berbentuk angsa, kura-kura atau singa itu berjalan pelan. Sementara sang ibu, menunggu disamping sambil menyuapi sang anak yang lewat.

Tentu saja, ibu ini harus siaga bahwa di sendok sudah siap makanan dan dengan gerakan refleks, sendok disodorkan di depan mulut anak. Pengalaman kami, kebanyakan anak membuka mulutnya, tanpa melihat siapa yang menyuapi. Tak jarang, si anak menangkis suapan dari ibunya, sehingga makanannya tumpah.

Baca Juga :  Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Ini pemandangan yang paling disukai Claudia. Tak pernah ia temui di Swiss. Di Swiss, anak makan ya makan, tanpa harus sambil bermain.

Ada yang kami anggap spesial. Seorang anak perempuan sedang duduk menghadap lukisan untuk diwarnai. Di sebelahnya duduk ibunya menyuapi. Sebelah ibu muda itu duduk pula suaminya. Sang suami sedang makan menyuapi istri dan berlanjut istri menyuapi anaknya. Diam-diam Claudia memotretnya. Foto tersebut kadang dikirim teman-temannya di Swiss dan dijelaskan, mengagumkan budaya di Lombok.

Wao. Tampak keharmonisan alami tertakar di sini. Tak jarang ayah muda menggendong anaknya. Claudia bilang, bahwa banyak ayah muda mencintai anaknya. Sementara di Swiss ada kursus bagi calon suami untuk mengganti pampers bayi, menggendong calon anak. Menjadi suami ada kursusnya. Aku sendiri pernah akan dimasukkan kursus oleh mertua perempuanku, agar bisa mengurus dapur.

Ternyata ia bisa membuat gantungan kunci dari foto  (foto: ss / ceraken.id)

Atraksi untuk anak-anak cukup banyak. Selain ada kolam buatan untuk memancing semacam belut dan belut sungguhan, meskipun ada memancing dengan magnet pada ikan plastik.

Kuda juga disewakan untuk anak-anak yang ingin naik. Tentu dikawal oleh pemilik kudanya.

Aku pernah makan di warung bakmi Malaysia dan pegawainya memakai pakaian khas Malaysia, meskipun yang jualan orang lokal. Peristiwa itu aku buat video dan diunggah di youtube. Tak kusangka video itu dibanjiri nitizen dari Malaysia. Mereka merasa bangga, makanannya dijual sampai di Lombok.

Kami telah mencoba berbagai makanan di sini, kebanyakan lezat luar biasa. Dan bersih dari tempat berjualnya, termasuk bungkus cara menyajikannya.

Sentuhan orang-orang mudah terbaca dari senyuman, keramahan, perilaku riang dan tampak selalu bersemangat.

Meskipun sampah plastik dimana-mana, tetapi kami lihat banyak orang mengumpulkan botol plastik untuk dijual kembali.

Bagi kami berdua, Car Free Day merupakan miniatur kehidupan di Lombok. Sebagai pendatang baru, tak datang kemari, sangat kehilangan momen memotret lombok dari dekat. (*)

*Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah
Di Balik Vitrin, Perpustakaan Museum Negeri NTB Menyimpan Ingatan yang Tak Dipamerkan

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA