Lorong-Lorong Kreativitas di SMAN 8 Mataram

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Davina, Nadila, Ulan, dan Wakasek Kesiswaan Agus Rauham Jayadi. Seni tidak hanya dipandang sebagai aktivitas tambahan, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan kreativitas pelajar (Foto: aks / ceraken.id)

Davina, Nadila, Ulan, dan Wakasek Kesiswaan Agus Rauham Jayadi. Seni tidak hanya dipandang sebagai aktivitas tambahan, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan kreativitas pelajar (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah geliat kegiatan pelajar yang kerap identik dengan kompetisi akademik dan olahraga, SMAN 8 Mataram menghadirkan ruang lain yang tidak kalah penting: ruang ekspresi seni.

Melalui Pameran Seni Rupa bertajuk “Lorong Pendidikan”, sekolah ini mencoba mempertemukan kreativitas, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari siswa dalam satu pengalaman artistik yang berlangsung selama sebulan penuh, mulai 9 Mei hingga 9 Juni 2026.

Pameran tersebut menjadi bagian dari rangkaian SMAVOC Season 7, ajang Lomba Bola Voli se-Pulau Lombok yang selama ini dikenal sebagai agenda tahunan sekolah. Namun tahun ini, semangat kompetisi olahraga dipadukan dengan denyut seni rupa yang memanfaatkan lorong-lorong sekolah sebagai ruang pamer alternatif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari situlah lahir gagasan “Lorong Pendidikan”, sebuah konsep yang tidak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga membuka ruang perjumpaan gagasan antarwarga sekolah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 8 Mataram, Agus Rauham Jayadi, S.Pd., M.Hum., menilai kegiatan tersebut menjadi wadah penting bagi pengembangan potensi siswa. Menurutnya, seni tidak hanya dipandang sebagai aktivitas tambahan, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan kreativitas pelajar.

“Kegiatan yang dilakukan oleh adik-adik ini, di antaranya Pameran Seni Rupa, kebetulan ada seni lukis di situ, ada wayang dan yang lainnya. Maksud dan tujuan kegiatan ini, pertama, untuk mengembangkan bakat dan minat siswa, dan kedua, memperkenalkan karya ke khalayak dan masyarakat,” ujarnya kepada ceraken.id, Jumat (8/5/2026).

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan kepada masyarakat bahwa SMAN 8 Mataram memiliki berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang mampu dikembangkan oleh siswa sesuai minat dan bakat mereka. Rencananya, pembukaan kegiatan akan dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi NTB pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Lorong Sekolah Menjadi Ruang Ekspresi

Berbeda dengan pameran seni pada umumnya yang berlangsung di aula atau ruang tertutup, “Lorong Pendidikan” justru memanfaatkan koridor sekolah sebagai ruang artistik. Pilihan ini bukan tanpa alasan.

Lorong dianggap sebagai tempat yang paling akrab dengan kehidupan siswa sehari-hari; tempat bertemu, berbincang, hingga melahirkan gagasan-gagasan spontan.

Guru Pembina Seni Budaya, I Nyoman Sandiya, S.Pd., menjelaskan bahwa konsep tersebut lahir dari keinginan untuk menghadirkan suasana yang lebih cair dan komunikatif.

“Pameran ‘Lorong Pendidikan’ ini adalah sebuah proses di mana setiap warga sekolah ketemu dalam suatu titik yang tidak formal sifatnya, tidak di dalam ruangan. Di sana juga akan muncul ide-ide yang bagus untuk perkembangan sekolah,” katanya.

Menurutnya, pemanfaatan lorong sekolah memberikan nuansa berbeda dibanding pameran sebelumnya yang lebih banyak dilakukan di dalam ruangan. Tahun ini, para siswa bahkan terlibat aktif dalam mendekorasi area luar sekolah dan menyusun katalog pameran.

Baca Juga :  Di Tengah Dominasi AI, Keaslian Manusia Kembali Dicari

“Untuk tahun ini, kesiapan panitia dalam menghelat pameran ini sangat luar biasa sekali. Saya selaku pembina guru seni juga sangat bangga melihat antusias adik-adik kita,” ujar Sandiya.

Bagi Sandiya, seni bukan hanya soal hasil akhir berupa lukisan atau karya visual, tetapi juga proses pembelajaran tentang kerja sama, keberanian berekspresi, hingga kemampuan mengelola ide. Karena itu, pameran tahunan tersebut dipandang sebagai bagian penting dari proses pendidikan di sekolah.

SMAVOC sendiri kini memasuki tahun ketujuh penyelenggaraan. Kehadiran pameran seni dalam agenda besar sekolah menunjukkan bahwa pendidikan modern tidak lagi hanya menekankan aspek akademik semata, tetapi juga memberi ruang bagi perkembangan emosional dan kreativitas siswa.

Ruang Belajar Tentang Seni dan Diri Sendiri

Bagi para siswa yang terlibat sebagai panitia maupun peserta, pameran ini menjadi pengalaman belajar yang berbeda. Mereka tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga belajar mengelola kegiatan, membangun konsep, hingga memahami makna seni dalam kehidupan.

Nadila, Guru Pembina Seni I Nyoman Sandiya, Ulan, dan Davina. Seni rupa menjadi medium yang memungkinkan seseorang mengekspresikan ciri khas dirinya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

Ketua Panitia, Nadila, mengatakan bahwa pameran tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman baru kepada para pengunjung.

“Kami berharap melalui pameran seni ini, para pengunjung dapat memperoleh pengalaman baru, inspirasi, serta pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya pendidikan melalui karya seni yang ditampilkan,” tuturnya.

Menurut Nadila, seni rupa menjadi medium yang memungkinkan seseorang mengekspresikan ciri khas dirinya sendiri. Ia mengaku lebih menyukai seni lukis dibanding menggambar karena tertarik memainkan warna dan ekspresi visual.

“Dengan adanya kegiatan ini siswa-siswi bisa mengetahui manfaat dari Pameran Seni Rupa dan bagaimana seseorang mengekspresikan suatu karyanya sendiri yang memiliki ciri khas tersendiri,” katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Panitia, Davina Apriliani Putri. Ia menilai pameran menjadi ruang keberanian bagi siswa untuk menunjukkan identitas artistik masing-masing.

“Tujuan pameran dari Eskul Seni Rupa ini adalah bagaimana murid-murid bisa mengekspresikan diri mereka dan memperlihatkan hasil karya mereka masing-masing,” ujarnya.

Davina sendiri memiliki ketertarikan pada dunia sketsa, komik, dan fun art. Baginya, seni adalah cara untuk mengeksplorasi imajinasi sekaligus membangun rasa percaya diri.

Baca Juga :  Encop Sopia Raih Gelar Doktor Bidang Ilmu Politik di Universitas Indonesia

Sementara itu, Sekretaris Panitia, Ulan Cahaya, melihat kegiatan tersebut sebagai upaya membangkitkan jiwa kesenian siswa di tengah kehidupan sekolah yang padat aktivitas akademik.

“Tugas saya sebagai sekretaris mendata atau menstrukturkan beberapa persiapan untuk pameran ini, seperti tema katalog dan pengaturan pameran dari material dan nonmaterial,” katanya.

Ulan mengaku memiliki minat pada puisi, lukisan, cerita pendek, hingga naskah drama. Ia percaya bahwa seni dapat membantu siswa memahami fungsi kreativitas dalam kehidupan masa depan.

“Ada pun tujuan dari pameran ini untuk membangkitkan jiwa kesenian para siswa agar siswa lebih berminat dan lebih tahu apa itu seni, apa fungsi seni, dan kelak apa manfaatnya untuk masa depan mereka,” ujarnya.

Menariknya, dukungan terhadap kegiatan ini tidak hanya datang dari panitia dan guru, tetapi juga seluruh kelas di sekolah yang ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana. Hal tersebut menunjukkan bahwa pameran seni telah menjadi bagian dari semangat kolektif warga sekolah.

Seni, Perasaan, dan Pendidikan Karakter

Di balik penyelenggaraan pameran, terdapat pula proses pembelajaran artistik yang lebih mendalam. Guru Pembina Seni I Nyoman Sandiya menjelaskan perbedaan mendasar antara menggambar dan melukis; dua hal yang sering dianggap sama oleh banyak orang.

“Menggambar adalah proses visual yang tidak melibatkan perasaan. Menggambar cenderung lebih sederhana sifatnya, karakternya garis-garis saja yang dipakai,” jelasnya.

Menurut Sandiya, menggambar biasanya menggunakan media pensil dan lebih berorientasi pada bentuk visual. Sementara melukis melibatkan emosi, ekspresi, serta kebebasan artistik yang lebih luas.

“Kalau melukis cenderung full menggunakan perasaan dan ekspresi senimannya. Jadi dalam proses ekspresinya dapat dituangkan lewat warna, bentuk, karakter, ide, dan konsep,” katanya.

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan seni sejatinya bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga melatih kepekaan rasa dan kemampuan memahami diri sendiri. Dalam konteks sekolah, seni menjadi medium penting untuk membangun empati, imajinasi, dan keberanian berpikir kreatif.

Melalui “Lorong Pendidikan”, SMAN 8 Mataram tampaknya ingin menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas formal. Lorong sekolah pun dapat berubah menjadi ruang belajar yang hidup; tempat warna, gagasan, dan mimpi para siswa bertemu dalam satu perjalanan kreatif. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Di Tengah Dominasi AI, Keaslian Manusia Kembali Dicari
Lorong Pendidikan dan Semangat Sportivitas dari SMAN 8 Mataram
Rumah Inspirasi di Kaki Rinjani
Hardiknas 2026: Pendidikan Bukan Seremoni, Melainkan Jalan Panjang Peradaban
Encop Sopia Raih Gelar Doktor Bidang Ilmu Politik di Universitas Indonesia
Menimbang Risiko, Menjemput Peluang
Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis
Program Riwayat: Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:00 WITA

Di Tengah Dominasi AI, Keaslian Manusia Kembali Dicari

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:30 WITA

Lorong Pendidikan dan Semangat Sportivitas dari SMAN 8 Mataram

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:11 WITA

Lorong-Lorong Kreativitas di SMAN 8 Mataram

Senin, 4 Mei 2026 - 19:39 WITA

Rumah Inspirasi di Kaki Rinjani

Minggu, 3 Mei 2026 - 21:28 WITA

Hardiknas 2026: Pendidikan Bukan Seremoni, Melainkan Jalan Panjang Peradaban

Berita Terbaru

Ilustrasi: cewe / ceraken,id

OPINI

“Widyaiswara, Penentu Standar, Pemacu Nalar.”

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:12 WITA