CERAKEN.ID — Perupa sekaligus pendidik, I Nyoman Sandiya, menyambut sebuah “tawaran” dialog karya pada Sabtu sore, 18 April 2026, dengan antusias.
Waktu menunjukkan pukul 16.20 WITA ketika percakapan itu dimulai; sebuah momen yang kemudian membuka lapisan pemaknaan mendalam tentang warna, kesederhanaan, dan pergulatan batin seorang seniman dalam membaca kehidupan.
Dalam dialog yang mengalir, karya-karya Sandiya tidak sekadar diposisikan sebagai objek visual, melainkan sebagai ruang refleksi yang hidup; menggugah, sederhana, namun sarat makna.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tiga Warna, Tiga Dunia Makna
Putih, merah, dan biru menjadi fondasi utama dalam setiap karya I Nyoman Sandiya. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Baginya, ketiga warna tersebut menyimpan kekuatan psikologis dan kultural yang begitu dalam.
Putih dimaknainya sebagai simbol kesucian, awal baru, dan ketenangan. Ia adalah ruang netral yang memberi jeda, menghadirkan keheningan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Sementara merah hadir sebagai energi; berani, penuh semangat, bahkan agresif. Warna ini menggugah, menarik perhatian, dan menjadi representasi denyut kehidupan itu sendiri.
Di sisi lain, biru membawa keseimbangan: tenang, dalam, dan penuh kebijaksanaan, sekaligus menghadirkan rasa aman.
Namun justru pada titik itulah tantangan muncul. Tiga warna ini, yang oleh banyak orang dianggap “nanggung” dan terlalu sederhana, menjadi medan eksplorasi yang tidak mudah.
Banyak perupa merasa perlu menambahkan warna lain seperti kuning atau hitam untuk memperkaya komposisi. Tetapi bagi Sandiya, kesederhanaan itu sendiri adalah medan perjuangan.
Dari sanalah ia memulai: mengolah yang sederhana menjadi bermakna.
Kesederhanaan sebagai Laku, Bukan Sekadar Wacana
Kesederhanaan, menurut Sandiya, adalah sesuatu yang mudah diucapkan namun sulit dijalankan. Ia memberi contoh konkret: membuang sampah pada tempatnya, sebuah tindakan sederhana yang justru kerap diabaikan.
Dampaknya nyata, dari jalanan hingga sawah-sawah yang menjadi sumber kehidupan petani.
Kegelisahan terhadap realitas itulah yang kemudian mengendap dalam karya-karyanya. Lanskap sawah, kehidupan petani, dan isu lingkungan menjadi tema yang terus ia eksplorasi.
Dalam konteks ini, warna putih, merah, dan biru bukan sekadar elemen visual, melainkan bahasa untuk menyuarakan kegundahan sekaligus harapan.
Ia juga menyinggung bagaimana kesederhanaan sering kali dikalahkan oleh ego manusia, yang pada akhirnya melahirkan kerusakan. Sebagai kontras, ia menyebut masyarakat Badui yang mampu hidup selaras dengan alam, menjaga keseimbangan tanpa eksploitasi.
Melalui karyanya, Sandiya seperti ingin “menaklukkan ego”, bukan dengan suara lantang, melainkan melalui pendekatan sunyi yang konsisten. Sebuah laku artistik yang mengajak penonton merenung, bukan sekadar melihat.
Perlawanan Sunyi dalam Imaji Sederhana
Dalam salah satu lukisannya, dialog berkembang ke wilayah interpretasi. Imaji yang muncul, keong atau siput, bertemu dengan bentuk menyerupai anak tangga. Dua simbol ini kemudian bertaut menjadi narasi perjalanan: lambat, bertahap, namun pasti.
Sebuah perjalanan yang tidak tergesa-gesa, tetapi dilandasi keyakinan. Bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki arah. Bahwa tujuan bukan hanya untuk dicapai, tetapi juga untuk dilampaui.
Sandiya merespons tafsir itu dengan spontan: “WoW passss!”
Di sinilah letak kekuatan karya-karyanya. Ia tidak memaksakan makna, tetapi membuka ruang dialog.
Warna merah yang menjadi latar, misalnya, bukan sekadar latar, melainkan penopang bagi biru untuk tampil lebih “garang” dalam kesederhanaannya. Sebuah komposisi yang tampak sederhana, namun menyimpan dinamika yang kompleks.
Ketika ditanya apakah ini bentuk perlawanan, jawabannya singkat namun penuh makna: tanpa suara, hanya memberi ibu jari.
Barangkali di situlah esensi dari karya I Nyoman Sandiya, sebuah perlawanan yang tidak berisik, namun teguh. Sebuah ajakan untuk kembali pada yang sederhana, di tengah dunia yang semakin rumit. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































