Tak Punya Pulang: Ketika Nusaria Menemukan Rumah di Dalam Diri

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Tak Punya Pulang". Sebuah lagu yang tidak hanya menawarkan melodi (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Tak semua lagu lahir sekadar untuk didengar. Sebagian hadir sebagai ruang perenungan, tempat seseorang menepi dari hiruk-pikuk kehidupan dan berdialog dengan dirinya sendiri. Itulah kesan yang mengemuka dari “Tak Punya Pulang”, single kedua Nusaria, duo indie pop retro asal Lombok yang digawangi Yuga Anggana dan Sangga Boemi.

Setelah memperkenalkan diri melalui single perdana “Tanpa Nama” pada April lalu, Nusaria kembali menyapa pendengar dengan karya yang lebih intim, lebih personal, dan sarat refleksi tentang kehilangan, kehadiran, serta makna rumah.

Dirilis pada Jumat, 5 Juni 2026, lagu ini menjadi langkah lanjutan perjalanan kreatif Nusaria yang perlahan membangun identitas musikalnya. Namun di balik proses peluncuran sebuah karya, tersimpan pula pergulatan batin para penciptanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Energi Baru dari Sebuah Kelahiran

Bagi Sangga Boemi, perilisan “Tak Punya Pulang” bukan sekadar menambah daftar karya dalam katalog musik Nusaria. Ia mengibaratkan setiap lagu sebagai anak yang lahir dan tumbuh dengan perjalanan hidupnya sendiri.

“Setelah rilis, ada energi yg terserap baik. Itu menjadi triger untuk saya pribadi di Nusaria. Seperti memantik semangat untuk tetap produktif dan melahirkan karya-karya lainnya kembali,” ujar Sangga kepada ceraken.id, Sabtu (6/6/2026).

Energi itu, menurutnya, menghadirkan berbagai kemungkinan baru yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Ide-ide yang datang secara tak terduga mulai tersusun perlahan menjadi rencana-rencana kreatif berikutnya.

Sebuah karya yang lahir ternyata tak hanya hidup di telinga pendengar, tetapi juga memberi napas baru bagi penciptanya.

Baca Juga :  Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana

“Karena bagi saya, adanya karya baru seperti halnya anak yang terlahir dan tumbuh, yang pastinya mempunyai perjalanannya sendiri tapi tidak ingin kehilangan arah perjalanannya,” tambahnya.

Rumah, Kehilangan, dan Ruang Refleksi

Di balik aransemen retro yang menjadi ciri khas Nusaria, “Tak Punya Pulang” menyimpan cerita yang sangat manusiawi. Lagu ini mengajak pendengar merenungkan arti kehadiran seseorang yang selama ini dianggap sebagai rumah, tempat pulang setelah lelah menjalani perjalanan hidup.

Sangga mengakui bahwa setelah lagu itu lahir, ada banyak kenangan lama yang kembali muncul ke permukaan. Bukan semata-mata kesedihan, melainkan kesadaran bahwa ada hal-hal yang seharusnya dihargai sebelum benar-benar hilang.

Menurutnya, seseorang tidak harus mengalami kehilangan secara langsung untuk memahami makna kehilangan itu sendiri. Kesadaran dapat tumbuh melalui refleksi, melalui cerita, atau bahkan melalui sebuah lagu.

Karena itulah “Tak Punya Pulang” diharapkan menjadi ruang perenungan bersama. Lagu ini tidak menawarkan jawaban pasti, melainkan mengajak pendengarnya berhenti sejenak untuk mengevaluasi perjalanan hidup, menghargai kehadiran orang-orang terdekat, serta memahami apa yang sedang dan akan dihadapi di masa depan.

Lirik yang lahir dari pengalaman personal Nusaria sengaja ditulis dengan jujur dan intim. Kejujuran itulah yang mereka harapkan dapat menjembatani pengalaman para pendengar dengan pengalaman yang mereka alami sendiri.

Dari Kebingungan Menuju Pendewasaan

Menariknya, lagu ini sempat memiliki judul berbeda. Dalam proses kreatifnya, Nusaria semula mempertimbangkan judul “Kemana Harus Pulang”. Namun setelah melalui berbagai diskusi, mereka memilih “Tak Punya Pulang” karena dinilai lebih mampu mewakili pesan yang ingin disampaikan.

Baca Juga :  “Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka

Perubahan itu bukan sekadar pergantian kata. Ada perubahan sudut pandang yang mendasar.

Jika “Kemana Harus Pulang” menggambarkan seseorang yang masih tersesat dan mencari arah, maka “Tak Punya Pulang” justru berbicara tentang penerimaan. Tentang seseorang yang telah berdamai dengan kehilangan dan menemukan bahwa rumah terbaik sesungguhnya berada di dalam dirinya sendiri.

Pemaknaan itulah yang membuat lagu ini terasa lebih matang. Bukan lagi soal mencari seseorang untuk dijadikan tempat pulang, melainkan belajar menjadi tempat pulang bagi diri sendiri.

“Saya rasa itu puncak pendewasaan seseorang dalam mengartikan kata kehilangan dan tempat untuk pulang itu,” pungkas Sangga Boemi.

Dengan tema yang universal dan emosional, “Tak Punya Pulang” berpotensi menjadi teman bagi siapa saja yang pernah merasa kehilangan, tersesat, atau sedang belajar menerima kenyataan hidup. Sebuah lagu yang tidak hanya menawarkan melodi, tetapi juga ruang kontemplasi tentang bagaimana manusia memahami kehadiran, perpisahan, dan akhirnya menemukan rumah di dalam dirinya sendiri.

Single “Tak Punya Pulang” kini telah tersedia di berbagai platform musik digital dan dapat dinikmati oleh pendengar yang lebih luas.

Platform digital:

 

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana
“Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka
Yoiakustik, Hari Bumi, dan Nada-Nada yang Menjaga Kesadaran
Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional
Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove
“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama
Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh
Tanpa Nama: Ketika Perasaan Datang Terlambat untuk Diberi Arti

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:41 WITA

Tak Punya Pulang: Ketika Nusaria Menemukan Rumah di Dalam Diri

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:54 WITA

Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana

Jumat, 15 Mei 2026 - 00:25 WITA

“Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka

Rabu, 29 April 2026 - 13:14 WITA

Yoiakustik, Hari Bumi, dan Nada-Nada yang Menjaga Kesadaran

Sabtu, 25 April 2026 - 17:45 WITA

Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA