“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama

Rabu, 15 April 2026 - 18:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Soni Hendrawan. Ampenan Groove bukan hanya karya lokal yang lahir dari ruang geografis tertentu, tetapi juga memiliki resonansi yang melampaui batas wilayah (Foto: ist / ceraken.id)

Soni Hendrawan. Ampenan Groove bukan hanya karya lokal yang lahir dari ruang geografis tertentu, tetapi juga memiliki resonansi yang melampaui batas wilayah (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Dari Sukabumi, Soni Hendrawan menyampaikan kesaksiannya atas sebuah karya yang tak sekadar album musik, melainkan perjalanan rasa: Ampenan Groove. Extended Play (mini album) karya Pipiet Tripitaka ini resmi dirilis pada 27 Maret 2026 dan langsung merambah berbagai platform streaming seperti Spotify, Apple Music, serta YouTube Music.

Dalam lanskap musik yang kerap dibanjiri karya instan, Ampenan Groove hadir dengan pendekatan yang berbeda: memusikalisasi puisi sebagai inti ekspresi. Lima puisi terpilih—Puspa, Terkoyak Ujung Mimpi, Kutulis Kata Maaf, Kereta Langit Sudah Datang, dan Selamat Jalan Kawan—dirangkai menjadi satu kesatuan narasi yang utuh.

Setiap judul bukan sekadar lagu, melainkan fragmen perjalanan batin yang dituturkan melalui harmoni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Memberi Ruang Kontemplasi

Bagi Soni Hendrawan, karya ini memiliki daya tarik yang tidak hanya terletak pada kekuatan lirik, tetapi juga pada kematangan musikalitasnya. Ia melihat bagaimana puisi yang pada dasarnya sunyi dan personal, mampu diterjemahkan menjadi bunyi yang hidup, komunikatif, dan dekat dengan pendengar.

Peran kriszappa sebagai produser sekaligus art director menjadi kunci dalam membentuk identitas Ampenan Groove. Di tangannya, keseluruhan komposisi terasa memiliki karakter khas: interaksi ritme yang kuat dengan nuansa funky yang santai, namun tetap menjaga kedalaman makna.

Baca Juga :  Ekonomi Tumbuh, Strategi Diperkuat: Mataram Menata Jalan Turunkan Pengangguran

Musik tidak mendominasi puisi, melainkan berjalan berdampingan, menguatkan suasana tanpa menghilangkan ruh kata-kata.

Soni mencermati bagaimana struktur musikal dalam mini album ini mampu menjaga keseimbangan antara kompleksitas dan kenyamanan. Ritme yang mengalir membuat pendengar tidak merasa terbebani, sementara lapisan-lapisan bunyi memberi ruang kontemplasi.

Inilah yang menjadikan Ampenan Groove tidak mudah membosankan, bahkan setelah didengarkan berulang kali.

Lebih jauh, ia menyoroti karakter vokal yang kuat dan khas dalam setiap lagu. Vokal tersebut bukan sekadar alat penyampai lirik, tetapi menjadi medium ekspresi yang membangun energi positif.

Dalam beberapa bagian, suara terasa seperti sedang “bercerita”—membawa pendengar masuk ke dalam ruang emosional yang intim, seolah puisi itu dibacakan secara personal.

Sebagai seorang pendidik, seniman kriya tekstil celepan, pemusik gitar bambu, sekaligus musikalisator—sebutan yang ia pilih untuk menegaskan praktik memusikalisasi puisi—Soni melihat Ampenan Groove sebagai contoh penting bagaimana lintas disiplin seni dapat bertemu dan saling menguatkan.

Baginya, musikalisasi puisi bukan hanya soal mengubah teks menjadi lagu, tetapi juga tentang bagaimana menjaga esensi puisi sambil membuka ruang tafsir baru melalui bunyi.

Memperkaya Pengalaman Estetika

Kehadiran karya ini juga mengingatkan bahwa puisi masih memiliki tempat dalam ekosistem seni kontemporer, terutama ketika dikemas dengan pendekatan yang segar. Ampenan Groove menjadi bukti bahwa sastra dan musik tidak harus berjalan di jalur yang terpisah.

Baca Juga :  Tiga Raperda dan Arah Baru Mataram: Dari Ideologi hingga Infrastruktur

Justru, ketika keduanya bertemu, lahir kemungkinan-kemungkinan baru yang memperkaya pengalaman estetika.

Di tengah arus globalisasi musik digital, karya seperti ini menawarkan alternatif: sebuah ruang dengar yang tidak terburu-buru, yang mengajak pendengar untuk berhenti sejenak dan meresapi. Ada keheningan di antara nada, ada makna di balik lirik, dan ada perjalanan yang pelan namun pasti mengendap dalam ingatan.

Kesaksian Soni Hendrawan dari Sukabumi menjadi penegas bahwa Ampenan Groove bukan hanya karya lokal yang lahir dari ruang geografis tertentu, tetapi juga memiliki resonansi yang melampaui batas wilayah.

Ia berbicara kepada siapa saja yang mau mendengar, tentang kehilangan, harapan, penyesalan, dan perpisahan, tema-tema yang universal dalam kehidupan manusia.

Pada akhirnya, Ampenan Groove adalah tentang perjumpaan: antara puisi dan musik, antara kata dan bunyi, serta antara pencipta dan pendengar.

Dari Ampenan, sebuah kawasan yang sarat sejarah di Lombok, gema itu kini menjangkau ruang-ruang digital, membawa pesan bahwa seni, dalam bentuk paling jujur, selalu menemukan jalannya untuk sampai. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Nyimpen di Sekarbela: Merawat Tradisi, Menguatkan Keikhlasan Menuju Tanah Suci
Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove
Menjaga Amanah di Tengah Kekuasaan: Ikhtiar Mataram Memperkuat Integritas
Menyatukan Arah, Menguatkan Langkah: Mataram dalam Orkestrasi Pembangunan NTB
Membangun Kota Berbasis Data: Langkah Mataram Menuju Tata Kelola Modern
Dari Panggung Penghargaan ke Budaya Kinerja: Menjadikan Hattrick Prestasi Mataram Bernilai Jangka Panjang
Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh
Hattrick Prestasi Kota Mataram di Panggung Nasional

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 17:19 WITA

Nyimpen di Sekarbela: Merawat Tradisi, Menguatkan Keikhlasan Menuju Tanah Suci

Jumat, 17 April 2026 - 07:58 WITA

Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove

Kamis, 16 April 2026 - 23:10 WITA

Menjaga Amanah di Tengah Kekuasaan: Ikhtiar Mataram Memperkuat Integritas

Kamis, 16 April 2026 - 21:29 WITA

Menyatukan Arah, Menguatkan Langkah: Mataram dalam Orkestrasi Pembangunan NTB

Rabu, 15 April 2026 - 22:58 WITA

Membangun Kota Berbasis Data: Langkah Mataram Menuju Tata Kelola Modern

Berita Terbaru

Karya Lukis I Nyoman Sandiya (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Sabtu, 18 Apr 2026 - 20:28 WITA

Kartini Ismail (berdiri di tengah memegang mic), saat kunjungan, yang dihadiri Ibu Melinda Aksa, istri Walikota Makassar, dan berapa pimpinan SKPD (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:46 WITA

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:32 WITA

Pengalaman masa kecil ijadi pemantik idenya (Foto: ist/ceraken.id)

BEDAH BUKU

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Jumat, 17 Apr 2026 - 21:15 WITA