CERAKEN.ID — Pendekatan pencegahan stunting tidak selalu harus dimulai dari program besar berskala nasional. Di Desa Labuapi, Kecamatan Labuapi, langkah kecil namun berdampak justru lahir dari dapur-dapur rumah warga. Mahasiswa KKN Terpadu Poltekkes Kemenkes Mataram Tahun 2026 menghadirkan inovasi sederhana berupa pengolahan makanan sehat: otak-otak bergizi yang dirancang khusus untuk balita dan anak-anak.
Program ini menjadi bagian dari tema besar Zero Stunting dan Penyakit Tidak Menular yang diusung selama masa KKN. Sepuluh mahasiswa lintas disiplin; keperawatan, gizi, kebidanan, dan teknologi laboratorium medis, turun langsung ke tengah masyarakat. Mereka tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga menghadirkan praktik nyata yang bisa langsung diadopsi oleh para ibu.
Dalam kegiatan demonstrasi memasak, suasana tampak hidup dan partisipatif. Para ibu tidak sekadar menjadi penonton, melainkan ikut terlibat dari awal hingga akhir proses. Mulai dari memilih bahan, mengolah adonan, hingga menyajikan makanan, semuanya dirancang dengan metode sederhana agar mudah diterapkan di rumah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Zelin, mahasiswa dari jurusan gizi, menjelaskan bahwa aspek menarik dari makanan menjadi faktor penting dalam meningkatkan asupan nutrisi anak. Menu otak-otak yang diperkenalkan tidak hanya menyehatkan, tetapi juga disukai anak-anak. Kandungan protein, kalsium, dan zat besi di dalamnya dinilai mampu menunjang pertumbuhan optimal, baik fisik maupun kognitif.
Kombinasi bahan seperti ayam, tahu, dan sayuran menjadi formulasi yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga bernilai gizi tinggi. Inilah bentuk konkret bahwa makanan sehat tidak harus mahal, selama masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengolahnya.
Edukasi yang Membumi dan Berkelanjutan
Pendekatan berbasis praktik menjadi kekuatan utama program ini. Ketua kelompok KKN, Lalu Anom Wira Jagat, menegaskan bahwa edukasi kesehatan tidak cukup hanya disampaikan secara teoritis. Menurutnya, praktik langsung adalah kunci agar masyarakat benar-benar memahami dan mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut secara mandiri.
Pernyataan ini sejalan dengan respons masyarakat yang menunjukkan antusiasme tinggi. Koordinator Kader Desa Labuapi, Hikmatul Hasanah, melihat kegiatan ini sebagai jawaban atas kebutuhan nyata di lapangan. Para ibu tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman langsung yang memperkuat pemahaman mereka.
Lebih dari sekadar kegiatan sesaat, program ini diharapkan menjadi pemicu perubahan perilaku. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang kegiatan, melainkan berlanjut dalam keseharian keluarga. Di sinilah letak keberhasilan sesungguhnya dari sebuah program pengabdian masyarakat: ketika dampaknya mampu bertahan dan berkembang secara mandiri.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program KKN yang berlangsung pada 15–25 April 2026, meliputi penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan, hingga edukasi gizi untuk berbagai kelompok usia. Melalui pendekatan yang sederhana namun tepat sasaran, mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat.
Dari Desa Labuapi, sebuah langkah kecil tengah dirintis. Upaya ini mungkin tampak sederhana, tetapi menyimpan harapan besar: lahirnya generasi yang lebih sehat, kuat, dan bebas dari stunting di masa depan. (as)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan as


























































