Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

- Penulis

Sabtu, 18 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pendekatan pencegahan stunting tidak selalu harus dimulai dari program besar berskala nasional. Di Desa Labuapi, Kecamatan Labuapi, langkah kecil namun berdampak justru lahir dari dapur-dapur rumah warga. Mahasiswa KKN Terpadu Poltekkes Kemenkes Mataram Tahun 2026 menghadirkan inovasi sederhana berupa pengolahan makanan sehat: otak-otak bergizi yang dirancang khusus untuk balita dan anak-anak.

Program ini menjadi bagian dari tema besar Zero Stunting dan Penyakit Tidak Menular yang diusung selama masa KKN. Sepuluh mahasiswa lintas disiplin; keperawatan, gizi, kebidanan, dan teknologi laboratorium medis, turun langsung ke tengah masyarakat. Mereka tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga menghadirkan praktik nyata yang bisa langsung diadopsi oleh para ibu.

Dalam kegiatan demonstrasi memasak, suasana tampak hidup dan partisipatif. Para ibu tidak sekadar menjadi penonton, melainkan ikut terlibat dari awal hingga akhir proses. Mulai dari memilih bahan, mengolah adonan, hingga menyajikan makanan, semuanya dirancang dengan metode sederhana agar mudah diterapkan di rumah.

Baca Juga :  Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT

Zelin, mahasiswa dari jurusan gizi, menjelaskan bahwa aspek menarik dari makanan menjadi faktor penting dalam meningkatkan asupan nutrisi anak. Menu otak-otak yang diperkenalkan tidak hanya menyehatkan, tetapi juga disukai anak-anak. Kandungan protein, kalsium, dan zat besi di dalamnya dinilai mampu menunjang pertumbuhan optimal, baik fisik maupun kognitif.

Kombinasi bahan seperti ayam, tahu, dan sayuran menjadi formulasi yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga bernilai gizi tinggi. Inilah bentuk konkret bahwa makanan sehat tidak harus mahal, selama masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengolahnya.

Edukasi yang Membumi dan Berkelanjutan

Pendekatan berbasis praktik menjadi kekuatan utama program ini. Ketua kelompok KKN, Lalu Anom Wira Jagat, menegaskan bahwa edukasi kesehatan tidak cukup hanya disampaikan secara teoritis. Menurutnya, praktik langsung adalah kunci agar masyarakat benar-benar memahami dan mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut secara mandiri.

Pernyataan ini sejalan dengan respons masyarakat yang menunjukkan antusiasme tinggi. Koordinator Kader Desa Labuapi, Hikmatul Hasanah, melihat kegiatan ini sebagai jawaban atas kebutuhan nyata di lapangan. Para ibu tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman langsung yang memperkuat pemahaman mereka.

Baca Juga :  Donor Darah Kemerdekaan INTI NTB Tembus 1.075 Kantong, Pecahkan Rekor Aksi Sebelumnya

Lebih dari sekadar kegiatan sesaat, program ini diharapkan menjadi pemicu perubahan perilaku. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang kegiatan, melainkan berlanjut dalam keseharian keluarga. Di sinilah letak keberhasilan sesungguhnya dari sebuah program pengabdian masyarakat: ketika dampaknya mampu bertahan dan berkembang secara mandiri.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program KKN yang berlangsung pada 15–25 April 2026, meliputi penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan, hingga edukasi gizi untuk berbagai kelompok usia. Melalui pendekatan yang sederhana namun tepat sasaran, mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat.

Dari Desa Labuapi, sebuah langkah kecil tengah dirintis. Upaya ini mungkin tampak sederhana, tetapi menyimpan harapan besar: lahirnya generasi yang lebih sehat, kuat, dan bebas dari stunting di masa depan. (as)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan as

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade
Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!
Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak
Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran
Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT
Dari Ruang Hijau Menuju Merdeka Finansial, Pensiunan Pegadaian Bersama Tring!
Peduli Sesama, INTI NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Desa Adat Sade
Dari Kobaran Api, Sade Menjaga Harapan untuk Bangkit Kembali

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:03 WITA

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Kamis, 27 Agustus 2026 - 00:54 WITA

Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:43 WITA

Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA