CERAKEN.ID — Di tengah dinamika perkembangan seni rupa di Nusa Tenggara Barat, pameran bertajuk “Suara Karya” yang digelar oleh SMAN 1 Lembar, Kab. Lombok Barat, menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar etalase karya. Ia menjelma menjadi ruang belajar, ruang eksperimentasi, sekaligus ruang artikulasi bagi siswa untuk menyuarakan gagasan mereka.
Hal ini ditegaskan oleh kurator pameran, Sasih Gunalan, dalam sesi diskusi karya yang berlangsung di Gedung Tertutup Taman Budaya NTB, Kamis, 16 April 2026.
Bagi Sasih, pameran ini bukan tentang kesempurnaan kuratorial dalam arti konvensional, melainkan tentang proses pendidikan yang memberi ruang luas kepada siswa untuk terlibat secara langsung. Pendekatan ini menjadi menarik, karena kurasi tidak lagi berdiri sebagai otoritas tunggal, tetapi sebagai pendamping dalam proses belajar yang kolaboratif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kurasi sebagai Proses Pembelajaran
Dalam praktiknya, Sasih Gunalan mengakui bahwa proses kurasi dalam “Suara Karya” tidak dilakukan secara kaku atau terlalu teknis. Hal ini merupakan kesepakatan bersama dengan Guru Pembina Seni Budaya, Faozan, bahwa pameran ini harus menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa secara utuh.
Para siswa diberi kebebasan untuk mengelola pameran mereka sendiri, mulai dari menyusun konsep, merancang alur, hingga menata display karya. Kurator dan guru hadir sebagai pengarah, bukan pengendali. Pendekatan ini memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana teori seni yang dipelajari di kelas dapat diterapkan dalam praktik.
Proses panjang yang ditempuh, termasuk penyusunan timeline selama berbulan-bulan, menunjukkan bahwa pameran ini dirancang secara serius. Bahkan, dalam tahap teknis, siswa belajar memahami standar kelayakan karya pameran, mulai dari pentingnya tanda tangan sebagai legitimasi karya, hingga aspek penyajian seperti penggunaan bingkai atau pengolahan visual pada tepian karya.
Menariknya, Sasih menyoroti bahwa dalam dunia seni rupa, keaslian karya tidak semata ditentukan oleh bentuk visual, tetapi oleh otentisitas tanda tangan penciptanya. Perspektif ini membuka wawasan baru bagi siswa tentang aspek hukum dan etik dalam seni, yang jarang disentuh dalam pembelajaran formal.
Lebih dari itu, pameran ini disebut sebagai salah satu yang pertama di tingkat SMA di NTB yang dikelola secara mandiri oleh siswa. Ini menjadi penanda penting bahwa satuan pendidikan mampu berkontribusi dalam medan seni rupa daerah secara lebih aktif dan progresif.
Urgensi Seni di Tengah Dominasi Sains dan Teknologi
Salah satu pertanyaan yang mengemuka dalam diskusi adalah mengenai relevansi seni di era yang semakin didominasi oleh sains dan teknologi. Menjawab hal ini, Sasih Gunalan menegaskan bahwa seni justru memiliki peran yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia.

Seni hadir di hampir setiap aspek kehidupan, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti desain ruang, produk, hingga pengalaman sehari-hari. Dengan demikian, mempelajari seni bukan hanya tentang menciptakan karya, tetapi juga tentang memahami bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan secara estetis dan fungsional.
Lebih jauh, seni berfungsi sebagai sarana untuk melatih kecerdasan emosional. Proses penciptaan karya yang panjang dan tidak jarang melelahkan menuntut kesabaran, ketekunan, serta kemampuan mengelola emosi. Di sinilah seni menjadi medium pembelajaran yang sangat manusiawi; ia tidak hanya mengasah logika, tetapi juga rasa.
Selain itu, seni juga berperan penting dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya lokal. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi, identitas budaya menjadi aspek yang harus terus dirawat. Seni menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, memungkinkan nilai lokal untuk tetap hidup dalam konteks yang relevan.
Batas Estetika, Persepsi Sosial, dan Jalan Hidup Seniman
Diskusi juga menyentuh isu yang lebih kompleks, yakni tentang batasan dalam seni. Pertanyaan mengenai karya yang dianggap vulgar atau tidak etis membuka ruang refleksi tentang hubungan antara estetika, norma sosial, dan kebebasan berekspresi.
Sasih menjelaskan bahwa seni tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya dan nilai-nilai yang melingkupinya. Dalam masyarakat yang berbudaya, ekspresi seni tetap harus mempertimbangkan etika dan moral. Namun, dalam praktiknya, terutama di ranah seni kontemporer, batas-batas tersebut sering kali menjadi wilayah yang dinegosiasikan.
Ia mencontohkan bahwa dalam konteks tertentu, karya dengan unsur “nude” bisa dipahami sebagai ekspresi artistik, tetapi dalam konteks lain bisa menimbulkan kontroversi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap konteks menjadi kunci dalam menilai sebuah karya seni.
Pertanyaan lain yang tak kalah penting datang dari realitas sosial: mengapa profesi di bidang seni sering kali tidak mendapat dukungan dari orang tua? Menanggapi hal ini, Sasih menyebut bahwa pilihan untuk menekuni seni memang bersifat personal. Namun, ia menegaskan bahwa ketika seseorang menjalani bidang yang dicintainya, proses tersebut akan terasa bermakna dan membahagiakan.
Pengalamannya menempuh pendidikan seni hingga jenjang tertinggi menjadi bukti bahwa seni bukan sekadar hobi, tetapi juga bisa menjadi jalan hidup yang serius dan profesional. Bahkan, ia mendorong lahirnya lebih banyak kurator dan praktisi seni di daerah sebagai bagian dari ekosistem yang terus berkembang.
Di sisi lain, dukungan juga datang dari Pejabat Fungsional Pamong Budaya Madya Taman Budaya NTB, Esti Ebhi Evolisa, yang melihat pameran ini sebagai bukti bahwa siswa SMA memiliki suara yang layak didengar. Setiap karya, menurutnya, adalah bentuk komunikasi yang jujur, menggunakan bahasa visual yang merepresentasikan pengalaman dan perasaan pembuatnya.
Pameran “Suara Karya” pada akhirnya tidak hanya menjadi ajang apresiasi seni, tetapi juga pernyataan bahwa generasi muda memiliki cara sendiri untuk berbicara tentang dunia mereka. Melalui warna, bentuk, dan narasi personal, mereka menunjukkan bahwa seni adalah medium yang paling jujur untuk menyampaikan isi hati.
Dengan semangat kolaborasi, keberanian berekspresi, dan proses belajar yang autentik, pameran ini menjadi inspirasi bahwa pendidikan seni di tingkat sekolah menengah dapat berkembang lebih jauh, tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai fondasi penting dalam membentuk manusia yang utuh. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































