CERAKEN.ID — Kawan saya menutur ulang petikan dialog dari sebuah film yang baru saja ia tonton. Suaranya datar, nyaris seperti membaca catatan, tetapi maknanya segera mengendap dan menuntut perhatian.
“Jangan mengukur dari apa yang tampak, Mak! Apa yang tampak berasal dari apa yang tidak tampak. Dan apa yang tampak pada diriku pun sekarang berasal dari apa yang tak tampak, yaitu Allah.”
Kalimat itu sederhana, namun mengandung gema yang panjang. Ia seperti membuka pintu ingatan yang selama ini tertutup rapat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari percakapan singkat itu, pikiran saya justru melompat jauh ke masa silam: ke sebuah ruang kelas sederhana, ke seragam putih dengan celana pendek merah, ke masa ketika dunia belum dipenuhi istilah pencitraan dan angka-angka pencapaian.
Saya teringat pada sebuah buku yang dulu saya baca setengah sadar: Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka, Haji Abdul Malik Karim Amrullah.
Surat Cinta yang Disalin, Bukan Dipahami
Sebagai bocah sekolah dasar, saya membaca Hamka dengan cara yang sangat khas anak-anak: menyadur, menyalin, dan meniru. Surat cinta Hamid kepada Zainab saya tulis ulang habis-habisan.
Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Bukan untuk memahami kedalaman batinnya, tetapi karena indah, lirih, dan terdengar dewasa.
Cinta dalam cerita itu terasa agung, tetapi juga jauh. Ia seperti sesuatu yang harus ditiru bentuknya, bukan direnungi maknanya. Barangkali karena pada usia itu, cinta masih sekadar kata, belum menjadi pengalaman.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, saya baru sadar: sesungguhnya saya belum pernah benar-benar menuntaskan bacaan itu. Saya hanya menyalin yang tampak, huruf dan kalimat, tanpa menyelami yang tak tampak: kegelisahan, kepasrahan, dan iman yang menjadi dasar cinta Hamid.
Dialog yang diceritakan kawan saya seolah mengoreksi cara baca masa kecil itu. Bahwa yang tampak, surat cinta, pengorbanan, kesedihan, berasal dari sesuatu yang jauh lebih dalam dan tak kasat mata.
Cinta yang Tidak Berisik
Dalam film yang ditonton kawan saya, tokoh Hamid digambarkan bukan sebagai lelaki yang memamerkan penderitaan atau menuntut balasan cinta. Ia justru berdamai dengan ketidakmemilikan.
Cintanya tidak berisik. Tidak menuntut untuk dimenangkan. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa segala yang tampak di dunia ini bersumber dari kehendak Ilahi.
“Dan hadiah terbesar yang pernah Ia berikan untukku yaitu cinta seorang Ibu,” ujar kawan saya, menirukan tokoh Hamid.
Kalimat itu kembali menghantam dengan cara yang berbeda. Jika cinta kepada Zainab adalah cinta yang tak sampai, maka cinta seorang ibu adalah cinta yang tak pernah pergi.
Ia tidak perlu disalin ke dalam surat. Ia hadir diam-diam, sejak kita belum mampu membaca apa pun.
Di titik ini, Hamka seperti sedang berbicara lintas zaman. Bahwa di balik kisah cinta yang romantik dan tragis, ada fondasi lain yang lebih kokoh: cinta ibu dan iman kepada Tuhan. Dua hal yang sering luput karena tidak tampak mencolok.
Sastra, Film, dan Ingatan Kolektif
Sastra dan film bekerja dengan cara yang unik. Ia tidak selalu memberi jawaban, tetapi memancing ingatan dan perenungan.
Dialog dalam film yang diceritakan kawan saya itu bukan sekadar dialog sinematik; ia adalah tafsir ulang atas kegelisahan manusia modern yang terlalu sibuk mengukur segala sesuatu dari apa yang tampak.
Kita hidup di zaman ketika pencapaian diukur dari visual: gelar, jabatan, harta, pengakuan publik. Padahal, seperti kata Hamid, semua yang tampak itu berasal dari yang tidak tampak. Dari niat, doa, pengorbanan, dan cinta yang tak selalu tercatat.
Mungkin karena itulah karya Hamka terus hidup. Ia tidak hanya berbicara tentang cinta lelaki dan perempuan, tetapi tentang hubungan manusia dengan Tuhan, ibu, dan dirinya sendiri. Tentang keikhlasan menerima batas, dan kebesaran jiwa untuk tidak memaksakan takdir.
Percakapan singkat dengan kawan saya sore itu berakhir tanpa kesimpulan. Tidak ada debat. Tidak ada tafsir yang dipaksakan. Namun ia meninggalkan pekerjaan rumah yang sunyi: membaca ulang diri sendiri.
Saya menyadari bahwa sebagaimana saya dulu menyalin surat cinta Hamid tanpa memahami isinya, kita pun sering menjalani hidup dengan cara yang sama.
Meniru bentuk luar keberhasilan, tanpa menyentuh sumber batinnya. Mengejar yang tampak, sambil melupakan yang tak tampak.
Barangkali, seperti Hamid, kita perlu belajar kembali untuk tidak mengukur hidup semata dari apa yang terlihat. Karena pada akhirnya, yang paling menentukan bukanlah apa yang tampak di mata manusia, melainkan apa yang tak tampak, di hadapan Tuhan dan dalam hati seorang ibu.
Dan di sanalah, mungkin, cinta menemukan bentuknya yang paling utuh.(aks)
Editor : ceraken editor































































